Kisah Pilu Striker Asing Arema Lihat Korban Tewas Tragedi Kanjuruhan

ADVERTISEMENT

Kisah Pilu Striker Asing Arema Lihat Korban Tewas Tragedi Kanjuruhan

Tim detikcom - Sepakbola
Minggu, 02 Okt 2022 21:09 WIB
Pesepak bola Arema FC Abel Camara (kanan) memeluk rekannya usai mencetak gol ke gawang Borneo FC dalam laga Final Piala Presiden Leg Pertama di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, Kamis (14/7/2022). Arema selaku tuan rumah mengalahkan Borneo FC dengan skor 1-0. ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/rwa.
Abel Camara menyaksikan langsung insiden di Stadion Kanjuruhan. (Foto: ANTARA FOTO/ARI BOWO SUCIPTO)
Malang -

Abel Camara menceritakan pengalaman pilunya saat Tragedi Kanjuruhan. Penyerang Arema FC itu menyaksikan langsung korban tewas di ruang ganti.

Laga Liga 1 antara Arema FC vs Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Sabtu (1/10/2022) malam WIB, berakhir tragis. Bentrokan terjadi antara fans yang masuk ke lapangan dengan aparat yang mencoba membubarkan kerumunan.

Aparat keamanan melemparkan gas air mata untuk menghalau massa. Fans yang panik tertahan di stadion. Desak-desakan tak terelakkan hingga jatuh korban jiwa.

125 kematian terkonfirmasi dalam Tragedi Kanjuruhan. Insiden ini pun menjadi duka sepakbola nasional dan menarik perhatian internasional.

Abel Camara menjadi salah satu saksi mata peristiwa memilukan yang terjadi di Stadion Kanjuruhan. Kepada media Portugal Mais Futebol, dia mengaku melihat korban-korban dibawa ke ruang ganti dan menghembuskan napas terakhir di sana.

"Ini adalah derby yang sangat lama dan selama seminggu sudah terasa di seluruh kota bahwa itu adalah pertandingan dengan lebih dari tiga poin. Mereka bilang ini adalah permainan hidup dan mati, bahwa kita bisa kalah di setiap pertandingan kecuali yang ini. Atmosfernya tegang," kata Camara, dilansir dari Mais Futebol.

"Setelah kami kalah, kami pergi untuk meminta maaf kepada para penggemar. Mereka mulai memanjat pagar, kami pergi ke ruang ganti. Sejak saat itu kami mulai mendengar tembakan, mendorong," penyerang asal Portugal-Guinea itu menambahkan.

In this picture taken on October 1, 2022, a group of people carry a man after a football match between Arema FC and Persebaya Surabaya at Kanjuruhan stadium in Malang, East Java. - At least 127 people died at a football stadium in Indonesia late on October 1 when fans invaded the pitch and police responded with tear gas, triggering a stampede, officials said. (Photo by AFP) (Photo by STR/AFP via Getty Images)Fans menggotong seorang penonton di Stadion Kanjuruhan. (Foto: AFP via Getty Images/STR)

"Kami memiliki orang-orang di dalam ruang ganti yang terkena gas air mata dan meninggal tepat di depan kami. Kami memiliki sekitar tujuh atau delapan orang tewas di ruang ganti. Kami harus tinggal di sana selama empat jam sebelum mereka berhasil mendorong semua orang menjauh."

"Ketika kami pergi, ketika semuanya lebih tenang, ada darah, sepatu kets, pakaian di seluruh aula stadion. Ketika kami meninggalkan stadion dengan bus, ada mobil sipil dan polisi yang terbakar, tetapi kami memiliki perjalanan yang mulus ke pusat pelatihan kami, mengambil mobil dan pulang. Sekarang kami berada di rumah, menunggu untuk melihat apa yang akan terjadi," demikian kata Abel Camara.

(bay/krs)