Trauma-trauma Tragedi Kanjuruhan

ADVERTISEMENT

Trauma-trauma Tragedi Kanjuruhan

Randy Prasatya - Sepakbola
Senin, 03 Okt 2022 22:15 WIB
Salah satu pemain menenangkan rekannya yang menangis dan bersujud di lapangan.
Foto: ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani
Jakarta -

Tragedi Kanjuruhan tak bisa dianggap remeh. Mereka yang selamat, juga harus dibantu untuk menghilangkan trauma.

Laga Arema FC vs Persebaya Surabaya dalam lanjutan Liga 1 2022/2023, Sabtu (1/10/2022) malam WIB, menjadi pukulan untuk Indonesia. 125 orang kehilangan nyawa, 304 mengalami luka ringan, dan 21 luka berat dalam laga yang dimenangkan Bajul Ijo 3-2.

Pada akhirnya, mereka yang tak terluka secara fisik juga harus diperhatikan. Potensi adanya trauma tidak bisa dikesampingkan, sebab mereka tahu persis bagaimana suasana mencekam di Stadion Kanjuruhan.

Mereka terkurung di dalam stadium. Berebut menuju pintu keluar yang terbatas demi menghindari amukan aparat dan gas air mata. Suara-suara hiteris dan mata yang melihat mayat tergeletak tentu akan sulit dilupakan dalam waktu singkat.

Faisol, ayah Reko Septiyan, menceritakan kepada detikJatim, soal pengakuan kawan-kawan anaknya yang turut terjebak di tribun 12 Stadion Kanjuruhan. Tempat di mana gas air mata menghujani mereka.

"Menurut cerita teman-teman anak saya, saat kerusuhan terjadi polisi menembakkan beberapa kali gas air mata. Salah satunya ke tribune 12, tempat anak saya menonton pertandingan," kata Faisol, Minggu (2/10/2022).

"Padahal yang ada di tribune itu, kan, aman-aman saja harusnya. Yang ramai, kan, di lapangan. Tapi kok yang di tribune juga ditembak gas air mata? Banyak yang pingsan karena sesak napas itu."

"Jadi gas air mata itu ditembak sana di tembak sini. Otomatis membuat asap gas air mata itu semakin berkumpul di tribun. Tentu hal ini membuat orang enggak bisa bernapas. Karena itulah orang-orang itu berdesakan mencari jalan keluar."

"Jadi pintu keluar itu dalam keadaan terkunci. Membuat orang-orang itu jatuh, terinjak-injak hingga tertindih penonton lain. Itu yang membuat banyak korban meninggal. Ada yang kepalanya berdarah karena desakan hingga terbentur," tandasnya.

Trauma bukan cuma bakal tumbuh kepada suporter. Skuad Arema FC bahkan juga harus melihat mayat di ruang ganti pemain.

"Terlihat stadion tidak siap. Mereka tidak mengharapkan kekacauan sebesar itu. Itu bak longsoran salju. Tidak ada yang seperti ini pernah terjadi di stadion, dan itu runtuh oleh jumlah orang yang ingin melarikan diri," kata pelatih Arema, Javier Roca, kepada media Spanyol Cadena Ser.

"Saya kira polisi juga melampaui batas, padahal saya tidak di lapangan dan tidak merasakan hasilnya. Melihat gambar-gambar itu, mungkin mereka bisa menggunakan teknik lain," jelasnya.

"Ini juga stadion yang harusnya sudah pensiun. Kami juga berada di kota yang relatif kecil, tidak ada cukup kapasitas untuk tiba," terangnya.

Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Mahfud MD menyebut telah menegaskan bahwa negara hadir untuk pengobatan sampai memberikan biaya trauma healing. Namun, sejauh ini tampaknya hanyak merujuk pada mereka korban selamat.

"Biar negara urus seluruh perawatan bagi yang sakit dan masih dirawat. Perlu rumah sakit ini itu, perlu obat, termasuk trauma healing," jelasnya.



Simak Video "Tangis Presiden Arema soal Tragedi Kanjuruhan: Saya Siap Tanggung Jawab"
[Gambas:Video 20detik]
(ran/ran)

ADVERTISEMENT