Cerita Pilu Tragedi Kanjuruhan, Petani Kehilangan Istri dan Dua Putri

ADVERTISEMENT

Cerita Pilu Tragedi Kanjuruhan, Petani Kehilangan Istri dan Dua Putri

Adhi Prasetya - Sepakbola
Rabu, 05 Okt 2022 15:40 WIB
Andi Hariyanto dan putranya yang baru berumur dua tahun.
Andi menggendong putranya. Foto: Willy Kurniawan/Reuters
Malang -

Begitu memilukan garis hidup yang sedang dijalani Andi Hariyanto (36). Niat ingin berlibur sambil menonton Arema FC melawan Persebaya akhir pekan lalu justru berujung duka karena kehilangan anggota keluarga dalam Tragedi Kanjuruhan.

Saat berangkat ke Kanjuruhan, Sabtu (1/10) pekan lalu, Andi membawa sang istri, Gebi Asta Putri Purwoko (34), dua orang putri, serta putranya yang baru berumur 2 tahun. Sepupunya juga ikut untuk menonton Arema, tim kesayangan mereka.

Namun Tragedi Kanjuruhan yang terjadi usai laga menjadi malapetaka buat keluarga Andi. Meski tak turun ke lapangan, ia dan keluarga tetap menjadi korban karena tembakan gas air mata aparat keamanan ke arah tribune tempat duduknya.

Sambil menggendong putranya, Andi berupaya menerobos kekacauan itu dan mendapat pertolongan medis. Namun ia terpisah dari keluarganya yang lain. Saat asap sudah hilang, barulah ia bergerak mencari keberadaan istri dan anak-anaknya.

"Saya terus mencari di antara mayat-mayat yang bergelimpangan, kemudian saya menemukan dua putri saya, Natasya dan Naila. Saya sempat kesulitan mencari ibu mereka," ujar Andi saat ditemui Reuters.

Natasya (16) dan Naila (13), yang merupakan anak angkat Andi, ditemukan tewas di lokasi. Sedangkan Gebi meninggal di rumah sakit setelah menderita cedera berat. Hanya Andi dan putranya yang selamat dari maut.

"Mereka (polisi) harusnya tidak menembak gas air mata ke tribune karena semua kekacauan terjadi di lapangan," jelas Andi, yang berprofesi sebagai petani itu.

"Saya tak akan pernah mau menonton sepakbola lagi. Sekarang saya fokus memikirkan putra saya, tak ada waktu untuk yang lain. Sekarang yang penting mencari makan untuk besok," tegas Andi.

Keluarga Andi menjadi bagian dari 131 korban tewas dalam Tragedi Kanjuruhan. Peristiwa ini menjadi sorotan internasional, sebab menjadi tragedi berdarah nomor dua terbesar di dunia, atau terbesar dalam setengah abad terakhir.

Sejauh ini, Komisi Disiplin PSSI telah menjatuhkan hukuman berat untuk Arema FC. Mereka didenda 250 juta dan harus berkandang 250 km dari Malang di sisa musim ini tanpa boleh dihadiri suporter.

Tak cuma itu, Abdul Haris (ketua panpel Arema FC) dan Suko Sutrisno (kepala petugas keamanan Arema FC) juga mendapat sanksi berat, yakni dilarang berkecimpung di dunia sepakbola seumur hidup. Aparat keamanan yang berwenang pun juga dijerat sanksi.

Kapolres Malang AKBP Ferli Hidayat dan 9 komandan Brimob Polda Jatim dicopot dari jabatannya. Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa juga menyatakan akan mejatuhkan hukuman pidana untuk prajurit-prajurit yang terbukti menganiaya suporter di lapangan.

(adp/krs)

ADVERTISEMENT