Kejuaraan yang dikhususkan untuk anak-anak berusia 10-12 tahun ini dibuat dengan tujuan menciptakan suasana kegembiraan dan persahabatan khas Piala Dunia. DNC ingin agar anak-anak tidak sekadar bermain sepakbola, tetapi juga menikmatinya. Ada empat nilai yang dijunjung oleh DNC, yakni keterbukaan, keikutsertaan, sportivitas, dan kegembiraan.
Setiap tahunnya anak-anak dari berbagai negara di belahan dunia (termasuk Indonesia) akan berkompetisi di Prancis untuk memperebutkan trofi juara. Prancis adalah negara pertama yang keluar sebagai juara tahun 2000 yang kemudian diikuti oleh Reunion Island (2001), Argentina (2002), Afrika Selatan (2003), Spanyol (2004), Rusia (2005), kemudian Reunion Island lagi (2006), dan terakhir adalah (kembali) Afrika Selatan (2007).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada edisi tahun 2005 Indonesia mencetak sejarah dengan menjadi tim yang paling produktif dalam sejarah DNC. Mereka berhasil menorehkan 24 gol sepanjang kompetisi, meski akhirnya hanya hanya menempasti posisi 11 dari 32 negara yang ikut serta.
Edisi tersebut juga mencatat nama anak Indonesia, Irvin Museng, sebagai topskorer turnamen dengan 10 gol. Akibat penampilan impresifnya itu, Irvin pun diundang untuk mengikuti seleksi masuk akademi Ajax Amsterdam. Dari sekitar 3.000 anak yang mengikuti seleksi, Irvin akhirnya terpilih. Ia pun menjadi satu-satunya anak asal Asia yang saat itu berada di akademi Ajax.
"Itulah yang menjadi value dari kejuaraan ini. Di sini setiap anak bisa mendapat pembelajaran mengenai teknik bermain sepakbola," tandas Sekjen PSSI Nugraha Besoes pada konferensi pers DNC di STC Senayan, Jakarta, Kamis (3/7/2008).
"Apa yang DNC tawarkan pada anak-anak adalah tidak hanya kesempatan untuk mengukir nama Indonesia. Yang lebih penting adalah kesempatan untuk memperoleh pengalaman yang tak terbeli. Bertemu dan berkumpul dengan teman-teman dari seluruh dunia dalam suasana akrab dan penuh nuansa persahabatan," kata Senior Brand Manager Danone Aqua George Yudistira.
(roz/din)











































