Sepakbola Usang Big Sam Redam Modern Football Klopp

Putra Rusdi K - Sepakbola
Senin, 28 Des 2020 10:45 WIB
LIVERPOOL, ENGLAND - DECEMBER 27: Darnell Furlong of West Bromwich Albion and Sadio Mane of Liverpool battle for possession during the Premier League match between Liverpool and West Bromwich Albion at Anfield on December 27, 2020 in Liverpool, England. A limited number of fans (2000) are welcomed back to stadiums to watch elite football across England. This was following easing of restrictions on spectators in tiers one and two areas only. (Photo by Stu Forster/Getty Images)
Sepakbola defensif Sam Allardyce mampu meredam Liverpool (Foto: Getty Images/Stu Forster)
Liverpool -

Sepakbola bertahan Sam Allardyce bawa West Bromwich Albion meredam permainan menyerang Liverpool bersama Juergen Klopp. Si Merah cuma bikin 2 shoot on target.

Liverpool menjamu West Bromwich Albion pada pekan ke-15 Liga Inggris, Minggu (27/12/2020) malam WIB. Pertandingan yang berlangsung di Anfield ini berakhir imbang 1-1.

Si Merah membuka gol terlebih dahulu melalui Sadio Mane di menit ke-12. Keunggulan Si Merah tersebut harus sirna delapan menit menjelang bubaran berkat gol dari Sami Ajayi.

Laga Liverpool vs WBA ini sendiri menyajikan duel adu taktik dua manajer beda filosofi bermain. Sam Allardyce yang menukangi WBA masih setia dengan sepakbola bertahan dengan mengandalkan serangan balik.

Gaya main Big Sam ini kerap kali dianggap usang dan membosankan. Hal tersebut bertolak belakang dengan Juergen Klopp yang diagungkan karena dianggap mengusung modern football. Manajer asal Jerman melekat dengan permainan menyerang yang dinilai menghibur bersama Liverpool.

Perbedaan gaya main kedua manajer ini langsung tercermin dari statistik di lapangan. Dikutip dari Opta, Liverpool begitu dominan dengan menorehkan penguasaan bola sebesar 78,1 persen dan melepas 17 tembakan, sedangkan WBA yang lebih banyak menunggu hanya membuat 21,9 persen dengan lima kali percobaan tembakan.

[Gambas:Opta]

Meski demikian, sepakbola usang ala Allardyce ternyata tak semudah itu ditaklukkan Klopp. WBA mampu dengan baik meredam Liverpool dan bahkan beberapa kali merepotkan lewat serangan balik.

Penjaga gawang WBA Sam Johnstone tak banyak bekerja keras karena Liverpool hanya membuat dua shoot on target. Sementara, WBA justru tampil lebih mengancam dengan membuat tiga shoot on target berkat efektifitas mereka.

Maka dari itu, Allardyce menolak anggapan bahwa WBA hanya beruntung bisa menahan imbang Liverpool di Anfield. Mantan pelatih timnas Inggris ini menegaskan hasil tersebut diraih karena anak asuhanya mampu menjalankan taktiknya dengan baik.

"Semua orang membicarakan (hasil ini) seolah-olah kami beruntung. Sam tidak membuat penyelamatan demi penyelamatan," ujar Allardyce dikutip dari Mirror.

"Dia memang merupakan penjaga gawang dengan penyelamatan tertinggi di Liga Inggris sebelum hari ini. Namun, saya tidak yakin ia melakukan banyak penyelamatan hari ini. Mungkin, hanya satu yang dibicarakan (dari upaya Firmino)."

"Jadi, ini menunjukkan betapa bagusnya kami meredam salah satu tim menyerang terbaik di negara ini dan Eropa. Kami membuat penjaga gawang kami tak membuat banyak penyelamatan."

Apresiasi juga layak diberikan kepada pemain terus berusaha mengalirkan bola ke depan. Saya rasa kami akhirnya mendapatkan poin lewat permainan yang sangat bagus," jelas Allardyce, yang kini berusia 66 tahun.

(pur/raw)