Punya Banyak Pemain Muda Top, Mengapa Chelsea Malah Jeblok?

Afif Farhan - Sepakbola
Sabtu, 09 Jan 2021 12:20 WIB
LONDON, ENGLAND - DECEMBER 26: Tammy Abraham of Chelsea looks dejected after his team concede during the Premier League match between Arsenal and Chelsea at Emirates Stadium on December 26, 2020 in London, England. The match will be played without fans, behind closed doors as a Covid-19 precaution. (Photo by Julian Finney/Getty Images)
Punya Banyak Pemain Muda Top, Mengapa Chelsea Malah Jeblok? (Getty Images/Julian Finney)
London -

Chelsea terseok-seok di Liga Inggris musim ini. Punya banyak pemain muda top, mengapa The Blues malah lagi jeblok?

Chelsea menghabiskan uang sampai Rp 4 triliun di bursa transfer musim panas kemarin untuk belanja pemain-pemain muda jempolan di bawah usia 25 tahun. Sebut saja seperti Timo Werner, Ben Chilwell, dan Kai Havertz.

Chelsea begitu pede menyambut musim 2020/2021. Lalu lagi-lagi terjadi inkonsistensi, yang sementara kini The Blues terseok-seok di Klasemen Liga Inggris.

Hingga pekan ke-17, Chelsea sementara bercokol di peringkat sembilan dengan koleksi 26 poin (malah baru menang sekali dari lima laga terakhir). Mereka beda tujuh poin dari Liverpool di posisi puncak.

MANCHESTER, ENGLAND - OCTOBER 24: Kai Havertz of Chelsea in action during the Premier League match between Manchester United and Chelsea at Old Trafford on October 24, 2020 in Manchester, England. Sporting stadiums around the UK remain under strict restrictions due to the Coronavirus Pandemic as Government social distancing laws prohibit fans inside venues resulting in games being played behind closed doors. (Photo by Michael Regan/Getty Images)Kai Havertz yang belum menunjukkan 'sinarnya' di Chelsea (Getty Images/Michael Regan)

Padahal, skuad Chelsea begitu mentereng. Beberapa pemain dari musim lalu alias musim pertama Frank Lampard menjadi manajer masih dipertahankan, seperti Mateo Kovacic, Kurt Zouma, N'Golo Kante, dan Christian Pulisic.

Pemain-pemain muda jebolan akademinya seperti Mason Mount, Reece James, dan Tammy Abraham juga makin matang. Ditambah dengan amunisi baru seperti Timo Werner, Kai Havertz, hingga Hakim Ziyech dan bek veteran Thiago Silba, harusnya Chelsea bisa berbicara banyak.

Namun sayang, masih jauh panggang dari api.

Isu pemecatan manajer Frank Lampard merebak. Lampard si legenda klub sudah pasti bakal terancam posisinya kalau Chelsea terus-terusan loyo.

Masih ada peluang juara Liga Champions dan Piala FA. Namun sepertinya, jalan Lampard dan Chelsea tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.

Chelsea's head coach Frank Lampard scratches his head after the English Premier League soccer match between Chelsea and Manchester City at Stamford Bridge, London, England, Sunday, Jan. 3, 2021. City won the match 3-1. (Andy Rain/Pool via AP)Frank Lampard dibayang-bayangi isu pemecatan (AP/Andy Rain)

Pundit sepakbola yang juga eks pemain Arsenal di medio 1990-an, Paul Merson memberi pendapat soal Chelsea di musim ini. Baginya, tugas Frank Lampard menjadikan Chelsea tim hebat memang bukan barang mudah.

"Anda tidak bisa belanja ratusan juta pound dan dalam semalam tim Anda akan jadi hebat. Itu membutuhkan waktu, apalagi pemain-pemain barunya begitu bertalenta," terang Merson dalam kolomnya seperti dilansir dari Mirror.

"Frank Lampard butuh waktu. Ingat, inilah musim pertamanya dia memiliki banyak pemain muda top," lanjutnya.

Menurut Paul Merson, selama ini Frank Lampard masih sering mencoba-coba strategi dan gaya permainan baru. Itu dirasa terlalu cukup berisiko.

"Lampard harus kembali ke dasar. Pemain-pemain yang sudah matang harus jadi pilihan," terang Merson.

"Barulah pelan-pelan pemain baru dimainkan untuk bisa mengikuti gaya permainan di lapangan dan menemukan konsistensi. Menurut saya, masalah utama Frank Lampard sekarang ini adalah dia belum tahu susunan tim terbaiknya," tutup Merson yang pernah meraih dua titel Premier League bersama Arsenal di tahun 1989 dan 1991.

(aff/raw)