European Super League Tutup Isu Rasisme, Aubameyang Cabut dari Twitter

Randy Prasatya - Sepakbola
Kamis, 22 Apr 2021 01:00 WIB
LONDON, ENGLAND - MARCH 18: Pierre Emerick Aubameyang of Arsenal reacts during the UEFA Europa League Round of 16 Second Leg match between Arsenal and Olympiacos at Emirates Stadium on March 18, 2021 in London, England. Sporting stadiums around Europe remain under strict restrictions due to the Coronavirus Pandemic as Government social distancing laws prohibit fans inside venues resulting in games being played behind closed doors. (Photo by Julian Finney/Getty Images)
Pierre-Emerick Aubameyang kesal dengan kegaduhan European Super League. (Foto: Getty Images/Julian Finney)
Jakarta -

Kapten Arsenal, Pierre-Emerick Aubameyang, menonaktifkan akun Twitter pribadinya. Dia kesal dengan kegaduhan European Super League, yang bikin orang lupa isu besar lainnya.

Kemunculan European Super League telah memicu pro dan kontra. Imbasnya. Enam klub asal Liga Inggris, yakni Chelsea, Manchester United, Liverpool, Arsenal, Manchester City, dan Tottenham Hotspur tak jadi ambil bagian.

Aubameyang turut menyimak kegaduhan di media sosial karena European Super League. Alih-alih ikut mengkritik atau mendukung, Aubameyang malah cabut dari Twitter dan mengingatkan bahwa ada isu yang tertutup karena kegaduhan European Super League.

"Saya tidak merindukanmu Twitter. Jadi kami tidak diizinkan untuk berbicara tentang apa pun?" kata Aubameyang dalam kicauan terakhirnya, yang dikutip dari Daily Mail.

"Hanya sepakbola dan Super League? Tidak lagi berbicara tentang Covid?! Atau pelecehan online atau rasisme. Bagus banget. Bahkan saya merasa lebih baik ketika sakit ketimbang sekarang. Biarkan saya menonaktifkannya. Sampai jumpa."

Aubameyang baru pulih dari sakit malaria. Dia absen di beberapa laga terakhir Arsenal karena menjalani perawatan di rumah sakit.

Striker asal Gabon juga melancarkan kritik lainnya lewat stories Instagram. Dia mengingatkan bahwa ada kasus George Gloyd, warga kulit hitam di Amerika Serikat, yang meninggal karena kekerasan polisi dalam penangkapan.

"Ini menjadi beberapa hari yang emosional tetapi hanya keputusan yang tepat telah dibuat malam ini untuk para penggemar dan untuk sepakbola - dan bahkan lebih penting dalam kasus George Floyd," tulisnya.

Mantan polisi Minneapolis, Derek Chauvin, dinyatakan bersalah dalam kasus pembunuhan George Floyd. Putusan dikeluarkan pengadilan bersamaan dengan heboh European Super League.

Di bawah hukum Minnesota, dia bakal dipenjara selama 12,5 tahun karena ini merupakan vonis pertamanya. Namun, jaksa berniat menjebloskannya selama 40 tahun jika hakim mempertimbangkan.



Simak Video "Prediksi Tottenham Vs Arsenal, Derby London Utara"
[Gambas:Video 20detik]
(ran/aff)