Penundaan Laga Jadi Bukti Klub-klub Premier League Tak Percaya Pemain Muda

Adhi Prasetya - Sepakbola
Selasa, 25 Jan 2022 09:45 WIB
LONDON, ENGLAND - NOVEMBER 29: A television camera behind the Premier League logo during the Premier League match between Arsenal and Wolverhampton Wanderers at Emirates Stadium on November 29, 2020 in London, England. Sporting stadiums around the UK remain under strict restrictions due to the Coronavirus Pandemic as Government social distancing laws prohibit fans inside venues resulting in games being played behind closed doors. (Photo by Catherine Ivill/Getty Images)
Premier League dituding berperan menutup jalan pengembangan pemain muda. Foto: Getty Images/Catherine Ivill
Jakarta -

Premier League telah menunda 21 laga selama dua bulan terakhir akibat COVID-19. Aturan yang dipakai dalam pengambilan keputusan itu menuai kritikan, karena dianggap meremehkan pemain muda.

Salah satu penundaan laga yang mendapat sorotan adalah Tottenham Hotspur vs Arsenal. Laga yang seharusnya digelar pada 16 Januari itu ditangguhkan atas permintaan The Gunners, menyusul kondisi skuad utama yang tak memadai.

Skuad asuhan Mikel Arteta saat itu mengklaim tak punya 14 pemain (satu di antaranya kiper) yang dibutuhkan untuk bisa bertanding. Setidaknya ada 12 pemain yang berhalangan.

Meski begitu, hanya ada satu pemain saat itu yang terinfeksi COVID-19, yakni Martin Odegaard. Sisanya absen karena cedera dan membela timnas masing-masing di Piala Afrika yang tengah berlangsung.

Namun permintaan Arsenal itu dikabulkan, sebab sudah sesuai dengan aturan Premier League. Saat mengajukan penundaan, klub boleh memasukkan pemain yang absen bukan karena COVID-19 sebagai alasan kekurangan pemain.

Selain itu, jumlah minimal 14 pemain yang dihitung pun ada aturannya. Semua harus berstatus pemain utama. Kalaupun ada pemain dari akademi, mereka harus sudah pernah diturunkan oleh tim senior musim ini.

Hal ini menuai kritikan dari kolumnis The Guardian, Josh Gowling. Mantan pesepakbola berusia 38 tahun itu menyebut aturan di atas justru mengerdilkan kesempatan pemain muda untuk debut saat pemain utama berhalangan.

"Setiap orang ingin melindungi kepentingan masing-masing, namun ketika kalian melihat cedera dan alasan lain yang tak terkait COVID-19 justru menjadi alasan utama untuk mengajukan penundaan, jelas aturan yang ada tak berjalan semestinya," ujar Gowling.

Ia mencontohkan apa yang ia alami saat ini sebagai manajer tim amatir di Inggris, Hereford. Ketika sejumlah pemain absen karena COVID-19, ia mau tak mau memasukkan pemain akademi U-18 ke dalam timnya untuk memenuhi syarat bertanding.

Manchester United's Mason Greenwood, right, celebrates with Bruno Fernandes after scoring his side's second goal during an English Premier League soccer match between Brentford and Manchester United at the Brentford Community Stadium in London, Wednesday, Jan. 19, 2022. (AP Photo/Matt Dunham)Laga Brentford vs MU menjadi salah satu yang ditunda, namun sudah dijadwalkan ulang pada 19 Januari lalu. Foto: AP/Matt Dunham

"Saya jadi heran mengapa klub-klub di kasta teratas (Premier League) tak harus melakukan hal yang sama. Hal itu padahal bagus dari sisi olahraga, sebab kurangnya pengalaman bertanding di level kompetitif justru bisa merusak karier pemain akademi."

"Ketika sebuah tim kekurangan pemain dan harus menunda laga, kalian harusnya bertanya-tanya. Klub-klub yang bertarung di enam besar Liga Inggris itu punya pemain pro sampai 50 orang di dalam timnya, beberapa di antaranya digaji minimal 10 ribu Pound per pekan."

"Banyak di antaranya dipinjamkan ke klub lain, tapi masih ada banyak pemain lain yang bertahan dan hanya diturunkan di kompetisi level umur. Peraturannya harus diperjelas. Jika ada pemain muda yang sudah dikontrak profesional, mereka harusnya bisa dihitung sebagai masuk tim utama," jelas Gowling.

Dari 21 laga Premier League yang ditunda karena COVID-19, baru lima yang sudah dimainkan. Sisanya masih menunggu tanggal pengganti atau belum dijadwalkan ulang.

(adp/bay)