ADVERTISEMENT

Premier League Sekarang Wajibkan Pelatihan Sexual Consent untuk Pemain

Adhi Prasetya - Sepakbola
Jumat, 05 Agu 2022 02:00 WIB
Manchester City and France international footballer Benjamin Mendy (C) leaves after a pre-trial hearing at Chester Crown Court in Chester, northwest England, on February 2, 2022. - Mendy, who has been charged with seven counts of rape, was freed on bail last month with
Benjamin Mendy dituduh melakukan 9 kasus pemerkosaan dan kekerasan seksual, dan kini tengah diadili. Foto: AFP via Getty Images/LINDSEY PARNABY
Jakarta -

Seluruh pemain dan staf klub Premier League kini diwajibkan menjalani pelatihan terkait hubungan seksual yang disetujui (sexual consent). Hal itu dilakukan seiring munculnya kasus kekerasan seksual yang melibatkan pesepakbola di Inggris.

Dilaporkan Daily Telegraph dan BBC, pelatihan ini bertujuan agar para pesohor olahraga ini bisa memahami hubungan yang sehat dan saling menghormati, serta bisa membedakan mana yang masuk kategori pelecehan dan yang mendapat persetujuan.

"Pengumuman hari ini adalah langkah penting menuju arah yang benar setelah tertunda sekian lama," ujar Andrea Simon selaku direktur End Violence Against Women Coalition.

"Kekerasan berbasis gender adalah masalah yang meluas dan sistemik, yang harus ditangani di seluruh industri sepak bola secara keseluruhan, dengan tindakan segera dan terkoordinasi."

Langkah ini merupakan bagian dari program pendidikan perlindungan yang telah diperbarui dan dikembangkan setelah munculnya Sheldon Report pada 2021, yang menguak adanya pelecehan seksual anak dalam sepakbola Inggris.

Federasi Sepakbola Inggris (FA) dinilai gagal mengatasi masalah ini dan tak melakukan upaya maksimal untuk melindungi anak-anak tersebut. Kemudian pada Februari lalu, FA dan Premier League juga menerima surat terbuka dari aktivis perempuan.

Mereka tergabung dalam tiga koalisi berbeda, yakni End Violence Against Women Coalition, The Three Hijabis, dan Level Up. Pada Maret dan Juni lalu, mereka telah bertemu dengan otoritas Premier League, namun pihak FA tak hadir saat itu.

Selain pelatihan wajib, koalisi tersebut juga meminta agar klub-klub Premier League mengadopsi kebijakan untuk langsung menindak pelanggaran seksual yang jelas, dibuktikan dengan penandatanganan nota kesepahaman.

Selama sekitar satu tahun terakhir, setidaknya ada tiga kasus terkait kekerasan gender dan pelecehan seksual yang melibatkan pemain Premier League, yakni seorang pemain Everton yang tak disebutkan namanya (media Islandia menyebut Gylfi Sigurdsson), lalu ada Mason Greenwood, dan yang paling heboh adalah Benjamin Mendy.

Belum lama ini, muncul kembali pemberitaan mengenai kekerasan seksual yang melibatkan seorang pemain Premier League. Namun sejauh ini sang pemain tak ditahan dan namanya tak diumumkan oleh pihak berwajib dan bisa melanjutkan aktivitas bersama klub.

Di satu sisi, pelatihan ini mendapat pujian, apalagi dulu hal semacam ini hanya wajib diikuti pemain di bawah 23 tahun. Namun tak sedikit yang mencibir hal ini di media sosial. Pandangan negatif muncul karena moral para pemain dewasa dinilai menyedihkan sampai perlu diajari tentang sexual consent.

(adp/raw)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT