Scolari Bukan 'Mr Runner-up'

Jelang Liga Inggris

Scolari Bukan 'Mr Runner-up'

- Sepakbola
Selasa, 12 Agu 2008 11:07 WIB
Scolari Bukan Mr Runner-up
Jakarta - Chelsea melalui musim lalu tanpa sebiji pun piala masuk ke lemari trofinya. Empat ajang diikuti, tiga di antaranya berakhir dengan gelar runner-up. Bagaimana musim ini?

Tiga angka
dan sebuah penalti yang gagal memisahkan Chelsea dari dua gelar, Liga Inggris dan Liga Champions. Dua ajang itu akhirnya menjadi milik Manchester United. Satu 'titel' runner-up lagi datang dari Piala Liga Inggris. Di sana, The Blues ditekuk Tottenham Hotspur.

Sejumlah pihak menyalahkan kegagalan Chelsea merengkuh titel pada sosok Avram Grant. Sang manajer asal Israel itu dinilai tidak punya cukup kualitas untuk memacu timnya jadi juara.

Naiknya Grant jadi manajer memang sebuah kecelakaan sejarah. Ia naik karena Chelsea --lebih tepatnya Roman Abramovich-- berselisih paham dengan Jose Mourinho, manajer yang membuat Chelsea jadi juara lagi setelah setengah abad.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mourinho dipecat hanya sekitar sebulan setelah liga dimulai dan Grant bertahta. Hasilnya? Nir gelar.

Setelah era manajer 'antah-berantah' dalam sosok Grant, Chelsea kini kembali berada di tangan manajer juara: Luiz Felipe Scolari. Di tangan lelaki Brasil itu, harapan Chelsea untuk beranjak dari treble runner-up disematkan.

Disebut pelatih juara, karena Scolari pernah menghadirkan titel juara dunia kepada negaranya, Brasil, pada tahun 2002. Sebuah instant success karena ia mulai membesut 'Samba' hanya setahun sebelumnya.

Beralih menangani Portugal, Scolari memang tidak memberikan titel juara dunia atau juara Eropa. Ia mengantar Seleccao ke final Euro 2004 untuk dikalahkan Yunani. Portugal juga dibawa ke semifinal Piala Dunia 2006, tapi kalah dari Prancis. Di Euro 2008, Portugal ditekuk Jerman di perempatfinal.

Meski tak berhasil mempersembahkan gelar kepada Portugal, kata sukses tetap susah dilepaskan dari nama Scolari. Sentuhannya tetap dianggap mumpuni untuk membawa tim yang diasuhnya berprestasi.

Scolari membawa pendekatan baru di Chelsea. Dibanding Mourinho yang datang-datang sudah mengaku dirinya sebagai 'Special One', Scolari lebih rendah hati. Ia, setidaknya saat ini, juga belum bikin masalah dengan manajer-manajer lain.

Scolari ingin membawa Chelsea menjadi klub yang dicintai di seluruh dunia, seperti halnya Barcelona atau MU. Meski demikian, menjadi juara tampaknya juga menjadi kewajiban pria 59 tahun ini bila ingin bertahan lama di Stamford Bridge.

Scolari punya modal bagus untuk menambah titel juara di curriculum vitae-nya; sesuatu yang terakhir kali ia dapatkan enam tahun lalu.

Dari sisi teknis, Chelsea jelas sangat kapabel untuk menjadi yang terbaik. Pemain-pemain berkualitas mulai dari Petr Cech, John Terry, Frank Lampard hingga Didier Drogba masih akan jadi tulang punggung utama permainan The Blues ala Scolari. Selain itu, datangnya Deco dan Jose Bosingwa menambah kedalaman skuad Chelsea.

Tangguh di segi teknis, Chelsea membutuhkan penguatan di sisi non-teknis. Sudah bukan rahasia lagi, beberapa pemain The Blues adalah loyalis Mourinho. Bila tidak berhasil dijinakkan, hal itu menjadi ganjalan di kemudian hari.

Sebagai pelatih, Scolari dikenal dengan disiplin tingginya. Kapabilitas teknis dan strategis Scolari, bila dapat dipadu dengan kedisplinan dan kemampuan memotivasi para pemain secara serasi, maka sukses bagi Chelsea adalah sebuah keniscayaan.

(arp/krs)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads