Ketika didatangkan dari Werder Bremen pada musim panas lalu, Juventus seperti merasa mendapatkan figur terbaiknya di lapangan tengah, setelah Pavel Nedved gantung sepatu. Playmaker Brasil itu bahkan diprediksi bisa seperti Zinedine Zidane sewaktu masih berseragam Bianconeri.
Pada mulanya Diego seperti akan begitu. Ia tampil gemilang di tiga bulan pertamanya di Seri A, menjadi inspirator permainan dan kreator serangan skuad Ciro Ferrara. Pembelian dirinya pun dianggap sangat tepat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ujian bagi Diego terjadi lagi dinihari tadi, Minggu (13/12/2009). Pada pertandingan di kandang Bari, ia membuat sebuah kegagalan besar, tak mampu mencetak gol dari tendangan penalti di pertengahan babak kedua. Juve kalah 1-3, Diego belum dapat lagi harinya.
"Kami semua dekat dengan Diego dan mencoba membantu dia. Wajar kalau dia down karena gagal penalti. Tapi hal itu bisa terjadi dalam sepakbola dan pada pertandingan itu kami punya banyak peluang lain untuk menyamakan kedudukan," komentar Ferrara tentang Diego.
"Kami harus terus merangkul dia dan membuat dia mengerti bahwa dia tidak perlu memikul tanggung jawab yang begitu besar," sambung sang pelatih dikutip Football Italia.
Ditambahkan Ferrara, pemain berusia 24 tahun itu adalah sosok yang penting tapi juga orang asing baru di Seri A. Datang dengan banyak ekspektasi, wajar jika setiap kali melakukan kesalahan, hal tersebut akan teramat disoroti.
"Gagal penalti itu memang amat disayangkan, tapi semua orang kadang-kadang bisa gagal," tukasnya.
"Perjalanan Diego agak aneh. Dia memulainya dengan sangat baik di musim ini, dan tekanan mulai menggelayuti dia. Kami akan mendampinginya karena dia figur yang teramat berharga buat klub ini," pungkas Ferrara. (a2s/roz)











































