Catatan Sepakbola
Raja Diraja San Siro
Kamis, 26 Feb 2004 13:59 WIB
Jakarta - Carlo Ancelotti itu "cuma" pelatih, tapi ia dan semua pemain AC Milan digaji oleh Silvio Berlusconi. Orang ini juga merupakan abdi pemerintahan nomor satu di Italia. Maka jadilah dia Raja Diraja di San Siro.Bahwa dirinya merasa punya hak teknis ditunjukkan akhir pekan lalu. Usai kemenangan timnya atas Inter 3-2, Berlu berteriak, "Mulai minggu depan pelatih Milan wajib memasang dua penyerang atau dia harus meninggalkan jabatannya. Ini bukan saran, tapi perintah!" Ancelotti, yang timnya lebih dulu tertinggal 0-2, di babak kedua lalu memasukkan Jon Dahl Tomasson untuk mendampingi Andriy Shevchenko. Milan menang 3-2, tapi ia melontarkan pernyataan yang kedengarannya naif. "Aku toh biasa memainkan dua striker dengan pilihan Sheva, Tomasson, Pippo Inzaghi, Kaka, Rui Costa, dan Marco Boriello."Ancellotti tak perlu "malu" dan merasa sendirian. Ia bukanlah pelatih kepala pertama yang gaweannya diintervensi sang big boss. Alberto Zaccheroni suatu ketika "dibisiki" konglomerat media massa Italia itu agar salah satu anak kesayangannya, Zvonimir Boban--kini mengikuti jejak Berlu berkarir di dunia politik--selalu ditaruh di belakang Geoge Weah dan Oliver Bierhoff. Kepada khalayak Zac senantiasa berkelit dengan mengatakan itu murni idenya.Pada tahun 1988, setahun setelah membeli Milan, Berlu juga pernah membeli striker Argentina bernama Claudio Borghi. Mungkin karena baru setahun berkuasa, pelatih dan para stafnya berani berkata 'tidak'. Maka Borghi dipinjamkan ke Como dan sejak itu namanya tak pernah kedengaran. Cenderung memakai striker tunggal adalah karakter kepelatihan Ancelotti. Maklum, dulu ia adalah salah satu gelandang bertahan terbaik di Italia. Dua "kelirumologi" yang pernah ia anut seperti menegaskan ketidakbergantungan dirinya pada penyerang: menggeser Thierry Henry ke sayap kiri sewaktu di Juventus dan tidak menghentikan penjualan Gianfranco Zola dari Parma ke Chelsea.Celakanya, Ancelotti berutang banyak pada Milan (baca: Berlusconi). Ia pernah menikmati uang sang empu sebelum gantung sepatu. Karir sebagai pelatih juga tak jauh-jauh dari Milan connection. Ia diajak Ariggo Sacchi--eks pelatih Rossoneri--untuk memimpin Roberto Baggio dan kawan-kawan di Piala Dunia 1994 yang kemudian jadi runner up. Posisi pelatih kepala mulai dilakoni Ancelotti pada musim 1995 bersama Reggina. Setelah mengangkat klub tersebut promosi ke Seri A, ia dicap pengkhianat oleh fans Reggina karena pindah ke Parma. Gialloblu diantarkannya ke gerbang runner up--prestasi yang sama sewaktu menukangi Juventus pada tahun 1999 dan 2000. Predikat spesialis nomor dua tidaklah buruk di mata Berlusconi. Maka pada November 2001 ia ditarik kembali ke San Siro untuk menggantikan Fatih Terim yang keras kepala. Musim lalu Berlu senang bukan kepalang melihat karyawannya itu mempersembahkan gelar juara Liga Champions. Tapi, Berlu adalah raja, kapan saja boleh bertitah.Tapi raja selalu punya penentang. Hegemoninya terhadap Milan dan monopolinya atas media Italia menjadi sasaran tembak lawan-lawan politiknya. Mereka menuding Berlu, yang sekarang menjabat perdana menteri italia, sengaja mengeksploitasi kedua institusi tersebut untuk mencari suara sebanyak mungkin pada pemilu lokal maupun parlemen Uni Eropa tahun ini.Mentradisikan kesuksesan pada Milan, yang notabene merupakan salah satu klub sepakbola tersukses dengan penggemar terbesar di dunia, diyakini bisa melicinkan jalan Berlu melanggengkan kekuasaannya. Itu sebabnya akhir-akhir ini ia begitu rajin tampil di berbagai stasiun televisi (miliknya) untuk mencitrakan sebuah terminologi "sukses"."Aku adalah pemenang, tak peduli orang mau bilang apa," begitu filosofi pemimpin partai Forza Italia tersebut. "Adakah yang lebih baik daripada sebuah filosofi sukses untuk menghadapi pemilu?" demikian tulis harian Corriere della Sera dalam editorialnya. "Dia tak cuma bercuap-cuap soal sepakbola. Ini bukanlah taktik, melainkan sebuah iklan," tulis yang lain. Salah satu lawan politiknya, Paolo Cento, menguatkan analisis tersebut. "Berlusconi menginfiltrasi semua acara TV dan sekarang olahraga pula. Ini seperti dalam rezim yang terburuk," kecam praktisi hukum terkenal Italia itu. (a2s/)











































