Sejak berkarir di Eropa, dimulai saat direkrut Genoa di tahun 2003, hingga kini Milito mampu mencetak gol rata-rata 20 per musim di semua kompetisi. Setelah dua tahun di Genoa, ia pindah ke Real Zaragoza, lalu kembali ke Genoa di tahun 2008 sebelum diboyong Inter musim panas ini.
Kepergian Zlatan Ibrahimovic serta merta membuat tumpuan mendulang gol disandarkan pada pria asal Argentina beserta Samuel Eto'o, rekannya di lini depan. Dan kepercayaan yang diberikan Jose Mourinho pun terbayar lunas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun demikian gol nomor 22 yang dicetak Milito berarti banyak untuk Il Biscione dan para fansnya. Ya, gol semata wayang Il Principe ke gawang Siena membawa Inter ke tangga juara setelah berpeluh keringat berlomba dengan AS Roma.
Gol itu pun seakan melepas beban para pemain Inter yang sepanjang dibuat frustrasi karena tak kunjung bisa membuat gol. Sementara Roma sedari babak pertama sudah unggul 2-0. Jika keadaan itu terus berlangsung maka gelar juara menjadi milik Roma.
"Ini adalah gol terpenting dalam karirku. Kami sangat bahagia dan pantas mendapatkannya (scudetto)," sahut Milito di Football Italia.
"Syukurlah akhirnya bola tersebut masuk usai kami membuang banyak peluang di babak pertama. Saya sangat bahagia," pungkasnya.
Tak hanya pada partai kontra Siena, Milito pun tampil sebagai pahlawan saat Inter menang 1-0 dari Roma di final Coppa Italia. Kini partai berat lain menunggu Sang Pangeran yaitu final Liga Champions kontra Bayern Munich pada 22 Mei.
Akankah Milito tampil sebagai penentu lagi? (mrp/din)











































