Sejak Drogba hadir di Stamford Bridge pada musim 2004/05, lini depan Chelsea hampir selalu identik dengan pemain asal Pantai gading. Entah ketika masa kepelatihan Jose Mourinho ataupun Avram Grant. Meski banyak penyerang lain keluar-masuk, nama Drogba hampir selalu menjadi pilihan utama.
Lalu, masuklah Anelka pada bulan Januari 2008. Penampilan subur bomber asal Prancis ini bersama Bolton Wanderers menjadi alasan utama manajemen Chelsea memboyongnya. Ia pun dihargai mahal, yakni sebesar 15 juta poundsterling (sekitar Rp 266 miliar).Β
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Memasuki musim 2008/09, Anelka pun mulai menunjukkan tajinya. Ketika Drogba belum bisa dimainkan akibat belum sepenuhnya pulih dari cedera, ia muncul sebagai bomber tersubur di skuad Chelsea.
Dari 11 kali bermain di Premier League musim ini, ia telah menghasilkan delapan gol. Tiga koleksi terakhirnya ia ciptakan akhir pekan lalu ketika Chelsea melumat Sunderland 5-0.
Catatan tersebut jelas membuat pelatih Luiz Felipe Scolari tersenyum. Pelatih berkebangsaan Brasil ini mengatakan, Anelka akan tetap menjadi pilihan utamanya, setidaknya hingga pertandingan Liga Champions melawan AS Roma midweek ini.
"Anelka adalah 'pemakai nomor sembilan' di tim ini dan selalu memberikan yang terbaik untuk tim. Dia memiliki banyak kesempatan di sini. Drogba memang telah kembali, tetapi keputusan saya untuk melawan Roma mudah: Anelka dalam kondisi yang lebih baik, jadi dia yang main," tukas Scolari di AFP.
Anelka sendiri memilih bersikap tenang atas keputusan manajernya itu. Ia tak mau berkomentar banyak soal performanya yang tengah menanjak saat ini. Pemain berusia 29 tahun ini mengungkapkan bahwa ia lebih suka bermain sebagai team player. Tim di atas segalanya.
"Selama kami bisa menciptakan banyak peluang dan memenangi pertandingan, kami sudah cukup bahagia," ujar Anelka singkat.Β
(roz/a2s)











































