Mencari Celah di Rapatnya Lini Tengah

<I>Preview</I> Jerman vs Aljazair

Mencari Celah di Rapatnya Lini Tengah

- Sepakbola
Senin, 30 Jun 2014 19:35 WIB
Mencari Celah di Rapatnya Lini Tengah
Getty Images
Jakarta -

Pelatih Jerman Joachim Loew tampaknya sudah mendapat banyak pelajaran, kala anak asuhnya ditahan imbang 2-2, oleh Ghana pada pertandingan kedua grup G. Pasalnya, permainan Aljazair tak jauh berbeda dengan gaya permainan The Black Stars, sama-sama menumpuk banyak pemain di tengah dan mengandalkan serangan balik cepat lewat kedua sayap.

Oleh karena itu, tampaknya, Loew tak akan mengubah komposisi pemainnya. Di depan, Thomas Mueller akan tetap diplot sebagai false 9, ditemani Mesut Oezil dan juga Mario Goetze. Ya, Goetze akan tetap menjadi pilihan utama, mengingat Lukas Podolski masih dililit cedera.

Pun begitu dengan komposisi barisan pertahanan. Jerome Boateng tampaknya akan kembali bermain sebagai fullback kanan. Benedikt Howedes, meskipun lamban, ia akan tetap mengisi pos fullback kiri. Sementara Matt Hummels dan Per Mertesacker akan tetap dipercaya sebagai palang pintu pertahanan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Yang sedikit mengganggu pikiran Low saat ini, mungkin, adalah komposisi lini tengah. Memang Philipp Lahm akan tetap ditugaskan sebagai holding midfielder. Begitu juga dengan Tony Kross, ia akan tetap memainkan peran sebagai gelandang box to box. Nah, yang kini menjadi pertanyaan, siapakah yang akan diturunkan untuk menemani Kross? Bastian Schweinsteiger ataukah Sami Khedira?

Untuk melawan tim Afrika, yang terkenal kuat dan punya cover bola yang baik, tentu Jerman butuh gelandang yang kuat juga. Jika itu yang menjadi pertimbangan The Bundestrainer, tentu Khedira jawabannya. Tapi, yang perlu diingat, gelandang asal Real Madrid itu sudah enam bulan tidak bermain di La Liga dan baru muncul di laga final Liga Champions. Terlebih, ia juga lamban.

Sementara itu, jika Jerman hendak mendominasi permainan dan juga mengimbangi kecepatan pemain tengah Aljazair, Loew tentu butuh gelandang box to box yang punya kecepatan dan dapat mengalirkan bola dengan baik, maka pilihan tersebut ada di diri Schweini. Tapi, tak bisa dipungkiri lagi, usia mulai menggerogoti Schweinsteiger. Ia tak mungkin berlari terus menerus dan mengimbangi kecepatan Sofeani FeghuoliΒ maupun Yachine Brahimi.

Komposisi pemain tengah inilah yang harus dipikirkan Loew masak-masak. Soalnya, saat menghadapi Aljazair nanti malam, Jerman akan tetap mengandalkan cairnya pergerakan antarpemain, dan merangsak masuk ke kotak penalti dengan umpan-umpan terobosan.


[Grafis perkiraan pergerakan pemain di atas lapangan]

Permasalahan di Fullback Jerman

Selain punya permasalahan di lini tengah, Jerman juga punya permasalahan di posisi fullback, pos di mana Boateng dan Howedes bermain. Meski fullback bukanlah posisi natural Boateng, namun, sejauh ini, pemain asal Bayern Munich itu mampu bermain di posisi itu dengan baik. Saat ada kebuntuan di lini tengah, Boateng selalu sigap untuk naik dan membantu membuka ruang pemain tengah. Ia juga disiplin menjaga posnya. Setelah timnya kehilangan bola, ia langsung cepat turun, menutup pos yang ditinggalkannya.

Tentu, Boateng bukanlah masalah utama. Yang menjadi masalah adalah Howedes. Sama halnya dengan Boateng, Howedes juga bukan seorang fullback. Tapi, jika Boateng dapat mengemban tugas dengan baik, tidak demikian dengan Howedes. Saat menyerang misalnya, Howedes tak terlalu berani untuk melakukan overlapping. Ia juga seperti tidak nyaman berlama-lama dengan bola. Inilah yang kemudian menjadikan serangan Jerman, sejauh ini, "lebih berat" ke kanan.

Memang, hal tersebut juga dipengaruhi oleh naluri sang pemain. Maklum, selama ini, Howedes selalu bermain sebagai centerback, di mana kedisiplinan dan tak terlalu terpancing untuk membantu penyerangan adalah kuncinya.

Inilah yang kemudian menjadi PR besar bagi Loew. Ia harus bisa mengubah kekurangan Howedes itu menjadi sebuah kelebihan. Jikalau pemain asal Schalke 04 itu tak bisa terlalu membantu penyerangan, mungkin, Howedes bisa difokuskan untuk menjaga pergerakan Feghouli ataupun Aissa Mandi, fullback Aljazair yang rajin membatu penyerangan.

Aljazair yang (Kemungkinan) Masih Sama

Meski mengaku akan memberikan kejutan, tapi tampaknya pelatih Aljazair, Vahid Halilhodzic, tak akan melakukan banyak perubahan. Tim "Serigala Gurun" akan tetap memainkan gaya permainan yang sama: menumpuk pemain di tengah, lalu melakukan serangan balik dengan mengandalkan kecepatan pemain-pemain sayap mereka.

Saat timnya kehilangan bola, Halilhodzic, akan menginstruksikan anak didiknya untuk memperkuat lini tengah. Ketika bertahan, Feghouli yang biasanya bermain sebagai sayap kanan, akan diinstruksikan untuk sedikit ke tengah, rapat dengan Yachine Brahimi.

Sementara itu, para pemain belakang tampaknya juga akan tetap diperintahkan untuk mamasang garis pertahanan tinggi. Selain untuk menjaga kerapatan lini tengah, pilihan taktik ini juga dimaksudkan untuk menghambat agresivitas fullback Jerman agar tak terlalu sering membantu serangan.

Jika taktik tersebut berjalan lancar, maka pemain-pemain Jerman akan dipaksa untuk mengandalkan umpan-umpan lambung agar dapat merangsek ke sepertiga akhir lapangan lawan. Namun, jika tidak berhasil, maka taktik itu akan menjadi bumerang bagi tim. Pasalnya, jika tidak diimbangi dengan disiplin dan komunikasi antarpemain yang baik, hal tersebut akan memudahkan pemain-pemain Jerman masuk ke sepertiga akhir lapangan, dan langsung berhadap-hadapan dengan kiper Aljazair, Rais M'bolhi.

Sedangkan saat menguasai bola, Aljazair, tampaknya akan tetap mengandalkan kecepatan pemain-pemain sayapnya. Yang sedikit berbeda, mungkin, Aljazair tak lagi mengandalkan crossing layaknya saat menghadapi Rusia, Jumat (27/6) lalu. Tapi akan mengandalkan umpan-umpan terobosan menyusur tanah, mengingat Jerman memiliki centerback dengan postur tinggi.

Karenanya, saat menyerang, Halilhodzic akan lebih mengandalkan cairnya pergerakan trio lini depan mereka, Feghouli-Slimani-Djabaou. Sama halnya ketika melawan Rusia, Abdelmoumene DjabouΒ akan tetap digantung di depan. Ia juga akan dijadikan fokus serangan, sekaligus mengeksploitasi sisi kanan pertahan Jerman, pos yang diisi Boateng.

Ketika Boateng sibuk membantu penyerangan, pemain-pemain Aljazair akan langsung mengirimkan umpan kepada Djabaou, tanpa melewati Behrami terlebih dahulu. Dan dengan kecepatan Djabaou, Aljazair mencoba merangsak masuk ke sepertiga akhir lapangan lawan, lalu melakukan cutting inside ataupun mengirimkan umpan cutback.

Mengandalkan kecepatan Djabaou dalam menyisir lapangan memang salah satu pilihan yang realistis. Mengingat, Boateng-lah yang kemungkinan akan sering meninggalkan posnya untuk membantu penyerangan. Sedangkan Howedes, seperti yang disebutkan di awal, meski berperan sebagai fullback, ia jarang naik membantu penyerangan.

Itulah sebabnya, malam ini, kedisiplinan Boateng akan menjadi kunci untuk kedua tim. Bagi Der Panzer, jika ingin memenangi pertandingan, Boateng harus disiplin menjaga posnya. Ia tak boleh berlama-lama dengan bola. Setelah membantu membuka ruang, ada baiknya, ia langsung turun untuk menutup pertahanan.

Dan bagi Aljazair, jika ingin memenangkan pertandingan, mereka harus pandai-pandai memancing Boateng. Sebisa mungkin, pemain naturalisasi itu, terus dipancing untuk meninggalkan posnya, agar Djabaou lebih leluasa dalam mengeskpoitasi sisi kanan pertahanan Jerman. Tapi, jika Djamel Mesbah cs. gagal memanfaatkan hal itu, maka mereka juga harus siap untuk mengangakat koper cepat-cepat.

Prediksi

Malam nanti, kedua tim akan sama-sama mengandalkan kesabaran. Jerman harus sabar untuk membongkar rapatnya pertahanan lini tengah Aljazair, sedangkan Aljazair, mereka juga harus sabar. Sabar menunggu momentum untuk melakukan serangan balik. Kesabaran? Tentu Aljazair punya hal itu. Tapi, saat ini, seluruh penggawa mereka sedang menjalani ibadah puasa. Hal yang kemungkinan membuat kebugaran pemain-pemain Aljazair sedikit menurun.

Kalau sudah begitu, bisa jadi, malam nanti akan menjadi malamnya Lahm dkk. Skor 2-0 untuk Jerman, tampaknya bisa jadi hasil akhir di Stadion Beira-Rio, Porto Alegre.

====

* Pandit Football Indonesia Mengkhususkan pada analisis sepakbola, baik Indonesia maupun dunia, meliputi analisis pertandingan, taktik dan strategi, statistik dan liga. Keragaman latar belakang dan disiplin ilmu para analis memungkinkan PFI untuk juga mengamati aspek kultur, sosial, ekonomi dan politik dari sepakbola. Twitter: @panditfootball Facebook: panditfootballΒ Website: www.panditfootball.com.

(a2s/cas)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads