Pembuktian Massimiliano Allegri

Serial Juventus (Bagian 3-Habis)

Pembuktian Massimiliano Allegri

- Sepakbola
Sabtu, 30 Agu 2014 12:00 WIB
Pembuktian Massimiliano Allegri
Getty Images/Marco Luzzani
Jakarta -

Penunjukkan Massimiliano Allegri sebagai pelatih baru Juventus kerap menghadirkan kritik dan cemoohan. Tak sedikit yang memiliki anggapan bahwa dominasi 'Si Nyonya Besar' di Serie A akan segera berakhir.

Apalagi setelah Juve tak bisa mengalahkan Lucento dan Cesena pada laga pra-musim pembuka. Kapabilitas Allegri semakin dipertanyakan.
Namun tekanan pada Allegri mulai mereda setelah Bianconeri meraih hasil positif saat menjalani tur Asia. Secara berurutan Juventus mengalahkan Indonesia All Star, Australia All Star, dan Singapura All Star.

Meski sebenarnya hasil tersebut belum menghadirkan rasa optimistis bagi Juventini, ada beberapa hal yang bisa membungkam semua kritik dan cemoohan yang ditujukan pada Allegri.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Memiliki Kedalaman Skuat Mumpuni

Tak dapat dipungkiri, Juve akan sangat kehilangan Conte. Namun, untungnya sang mantan pelatih telah meninggalkan fondasi yang kuat dan kokoh, yaitu skuat bertalenta dengan mental pemenang dan tim yang solid.

Di lini belakang ada Gianluigi Buffon yang berkolaborasi dengan trio bek berlabel tim nasional Italia. Lini tengah dihuni oleh pemain-pemain yang saling melengkapi dengan kelebihannya masing-masing. Di sektor sayap ada Kwadwo Asamoah dan Stephan Lichtsteiner, pemain yang mengandalkan kecepatan dan berteknik tinggi. Sedangkan di lini depan, duet ideal Carlos Tevez dan Fernando Llorente siap untuk membobol gawang lawan.

Skuat Juventus memang tak mengalami banyak perubahan karena beberapa pemain kunci dipertahankan (kecuali Arturo Vidal yang santer diberitakan akan hijrah ke Manchester United). Malahan, pemain-pemain baru menjadikan skuat memiliki kedalaman yang lebih baik dari sebelumnya.

Alvaro Morata, penyerang muda yang didatangkan Real Madrid dengan nilai 16 juta poundsterling, memberikan opsi di lini depan. Patrice Evra yang direkrut dari MU membuat Asamoah memiliki pengganti sepadan. Lalu, Romulo Souza dan Roberto Pereyra bisa diperankan di banyak posisi.

Selain nama-nama di atas, Allegri ternyata mampu memaksimalkan pemain-pemain yang kurang mendapatkan tempat dalam skuat musim lalu. Martin Caceres, Simone Pepe, Marco Motta dan Sebastian Giovinco berkali-kali menunjukkan performa positif pada laga pra-musim. Penting untuk dicatat, dua nama terakhir kurang mendapatkan kesempatan bermain saat era Conte. Bahkan Motta harus rela dipinjamkan ke Bologna dalam dua musim terakhir.

Perbedaan mencolok pada musim ini adalah tak menumpuknya pemain pada posisi penyerang, mengingat pada tiga musim terakhir Juventus selalu memiliki lebih dari lima penyerang dengan level kelas dua.

Musim lalu, Fabio Quagliarella, Mirko Vucinic, dan Giovinco sering kali turun dari bangku cadangan tanpa memberikan kontribusi maksimal.
Dengan skuat seperti itu, Juve nyaris tanpa kelemahan dan memiliki kedalaman skuat yang mumpuni. Belum lagi kabarnya Allegri masih ingin mendatangkan pemain baru, khususnya di sektor pertahanan.

Asa di Kompetisi Eropa

Kegagalan terbesar Conte ketika melatih Juventus adalah ketidakmampuannya mendatangkan prestasi dari kompetisi Eropa. Pada 2012/2013, Juve tersingkir pada babak perempat final setelah dikalahkan Bayern Munich. Musim lalu, mereka pun gagal lolos dari fase grup.

Bahkan, saat terlempat ke Europa League pun Juventus hanya mampu melangkah hingga semi-final. Conte beralasan bahwa kegagalan Juve di kompetisi Eropa ini karena skuat yang ada memang tak mampu untuk bersaing di Eropa. Ia membutuhkan pemain-pemain yang benar-benar berkualitas agar Juve bisa berbicara banyak di Eropa.

Selain itu, formasi 3-5-2 yang menjadi andalan Conte pun tak mampu menandingi lawan-lawannya yang berasal dari tanah Eropa ini.
Namun bersama Allegri, harapan untuk berprestasi di kancah Eropa muncul. Saat menangani Milan, Allegri sendiri selalu berhasil melangkah ke babak 16 besar setiap musim.

Padahal,Milan secara berurutan harus kehilangan pemain bintang macam Thiago Silva, Zlatan Ibrahimovic, Antonio Cassano, Clarence Seedorf, Alesandro Nesta, Filippo Inzaghi, Gianluca Zambrotta, dan Gennaro Gattuso.

Tak seperti Conte, Allegri bisa membuat para pemain Juve nyaman memainkan pola empat bek, satu hal yang menjadi kegagalan Conte. Saat menjalani pertandingan pra-musim, berkali-kali skema empat bek ini diperagakan. Malah anehnya, pola permainan Juve lebih berkembang ketika menggunakan formasi empat bek ketimbang formasi tiga bek yang telah menjadi pakem Juve dalam dua musim terakhir.

Ditangani Allegri, para pemain Juventus memang mulai mengenal variasi taktik. Allegri sendiri mengatakan bahwa ia tak akan hanya megacu pada satu pola. Selain 3-5-2,ia juga telah merancang formasi 4-3-1-2 dan 4-3-2-1 untuk musim ini.

Hal menarik dari penggunaan formasi empat bek ala Allegri ini adalah kita akan lebih sering melihat Juventus menurunkan empat gelandang terbaiknya sekaligus –yaitu Pirlo-Pogba-Vidal-Marchisioβ€”dengan Marchisio ditempatkan agak ke depan untuk berperan sebagai trequartista.

Rentetan Prestasi Allegri

Prestasi mutlak wajib diraih Allegri untuk membungkam segala kritik yang dialamatkan padanya. Dan, jika kita melihat catatan karier kepelatihannya, tak mustahil bagi Allegri untuk bisa melakukan hal itu karena sebenarnya ia bukan pelatih sembarangan.



Pada awal musim lalu misalnya. Pelatih yang sempat mengangkat Cagliari itu sempat diincar oleh Roma. Akan tetapi Allegri lebih memilih untuk tetap menangani Milan. Lalu Allegri pun termasuk dalam salah satu calon pelatih tim nasional Italia ketika Cesare Prandelli memutuskan untuk mundur, walaupun pada akhirnya ia lebih memilih untuk melatih Juventus.

Allegri mencuri perhatian Serie A ketika pada 2008 ia berhasil mempromosikan Sassuolo dari Serie B.Kemudian, Allegri secara konsisten mengantarkan Cagliari bertengger di posisi papan tengah pada 2008-2009. Pada musim yang sama, Allegri dilabeli β€˜Panchina d’Oro’ atau pelatih terbaik Serie A, mengalahkan Jose Mourinho.

Prestasi inilah yang mengantarkan Allegri ke San Siro.

Di musim pertamanya bersama Milan, Allegri langsung mempersembahkan scudetto pertama setelah Milan absen mengangkat trofi Serie A selama tujuh musim. Musim keduanya bersama Milan pun tak begitu mengecewakan, dengan Milan berhasil berada di peringkat dua klasemen akhir.

Musim terakhirnya bersama Milan memang seperti bencana dan tak menunjukkan bahwa Allegri adalah pelatih berkelas. Namun, jika kita menengok lebih dalam, kegagalannya itu adalah puncak dari karut marutnya manajemen Milan, dalam hal ini presiden klub Silvio dan Barbara Berlusconi, serta direktur Adriano Galliani.

Allegri terpaksa mengikuti segala instruksi dari para petingginya. Ia tak bisa bergerak bebas dalam perihal transfer pemain. Ia pun harus rela pemain-pemain terbaiknya pergi, kualitas timnya pun kian menurun.

Kesimpulan

Kehilangan pelatih sekaliber Antonio Conte menjelang bergulirnya liga jelas pukulan besar. Namun, berdasarkan hal di atas, Juventini perlu percaya bahwa Allegri tak seburuk dari yang diperkirakan. Karena terlepas dari hal negatif yang menaungi karir Allegri, nyatanya tak sedikit pula catatan emas yang digoreskan oleh pelatih berusia 47 tahun ini.

Para pemain pun sudah mengikhlaskan kepergian Conte. Mereka menyatakan kepedean-nya menyambut musim baru bersama pelatih baru.
Era baru Juve bersama Allegri akan dimulai Sabtu malam nanti (30/08) dengan Chievo Verona sebagai ujian pertama. Dan bersamaan dengan itu pula perburuan scudetto tanpa Conte akan dimulai.

Meraih gelar keempat secara beruntun tentunya akan menjadi lebih berat bagi Juventus. Apalagi dengan kekuatan Roma-Napoli yang mengalami peningkatan, dan duo Milan yang terus berjuang mengembalikan nama besarnya.

Satu hal yang pasti, selepas Conte pergi, perburuan mahkota Serie A 2014-2015 akan lebih kompetitif.Dan inilah masa yang tepat bagi Allegri untuk membuktikan kemampuannya sebagai pelatih.

Karena sesungguhnya tak ada ujian yang lebih berat ketimbang meneruskan tahta kerajaan Conte dan membuat Si Nyonya Tua tetap menjadi penguasa.

====

*ditulis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini

Baca Juga:
Serial Juventus (Bagian 1): Ketika Conte Membangun Kerajaan Juventus
Serial Juventus (Bagian 2): Ketika Kebijakan Transfer Buat Sang Raja Angkat Kaki

(roz/roz)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads