sepakbola
Follow detikSport Follow Linkedin
Selasa, 13 Okt 2020 06:05 WIB

'Barcelona Juara Liga Champions karena Messi, Bukan Guardiola'

Novitasari Dewi Salusi - detikSport
VILLARREAL, SPAIN - MAY 01:  Head coach Josep Guardiola (R) of FC Barcelona embraces Lionel Messi during the La Liga match between Villarreal CF and FC Barcelona at El Madrigal stadium on May 1, 2010 in Villarreal, Spain.  (Photo by Manuel Queimadelos Alonso/Getty Images) Eks pelatih Bayern Munich, Felix Magath, menilai Pep Guardiola sukses di Barcelona karena Lionel Messi (Foto: Getty Images/Manuel Queimadelos Alonso)
Jakarta -

Eks pelatih Bayern Munich Felix Magath mengkritik taktik Pep Guardiola. Menurutnya, Barcelona juara Liga Champions dulu karena kecemerlangan Lionel Messi.

Barcelona meraih sukses besar saat dilatih Guardiola pada 2008-2012. Ia membawa Blaugrana memenangi 14 trofi, termasuk dua gelar juara Liga Champions.

Pada musim pertamanya di 2008/2009, Guardiola mengantar Barcelona meraih treble dengan menjuarai LaLiga, Copa del Rey, dan Liga Champions. Mereka kembali menaklukkan Eropa dengan memenangi Liga Champions dua tahun kemudian usai mengalahkan Manchester United di final.

Namun, sejak meninggalkan Barcelona, Guardiola belum mampu meraih trofi di kompetisi Eropa. Bersama Bayern Munich, ia meraih tiga gelar Bundesliga, tapi selalu gagal di Liga Champions. Bayern tiga kali beruntun terhenti di semifinal.

Setali tiga uang, Guardiola juga sukses di level domestik tapi kesulitan di Eropa bersama Manchester City. The Citizens masih mentok di perempatfinal Liga Champions selama dilatihnya.

Felix Magath menilai kesuksesan Pep Guardiola di Barcelona tak lepas dari peran Lionel Messi. Taktik Guardiola yang mengandalkan penguasaan bola dinilai Magath manjur karena Messi.

"Messi yang membawa jadi juara, bukan Guardiola. Tanpa Messi, sistem ini tidak pernah berhasil untuk Guardiola. Kalau berhasil, dia pasti sudah juara Liga Champions bersama Bayern atau Manchester City sejak lama," ujar Magath kepada Sport Bild seperti dilansir AS.

"Tiki-taka cuma berjalan kalau Anda punya pemain yang secara teknik superior daripada lawan. Untuk penonton, menahan bola, saya menyebutnya seperti itu, itu membosankan dan tim top tidak terlalu membutuhkannya."

"Menurut saya, Guardiola terlalu sering kehilangan arah ketika mencoba memenangi pertandingan di awal. Taktik itu seringnya berakhir di keputusan yang salah, yang menghalangi kesuksesan," katanya.

(nds/adp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksepakbola.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com