Kok PSG Enggak Ikutan European Super League?

Afif Farhan - Sepakbola
Selasa, 20 Apr 2021 12:47 WIB
MUNICH, GERMANY - APRIL 06: Nasser Ghanim Al-Khelaifi, President of PSG looks on during a PSG Paris Saint-Germain training session ahead of the UEFA Champions League Quarter Final match against FC Bayern Munich at Allianz Arena on April 06, 2021 in Munich, Germany. (Photo by Alexander Hassenstein/Getty Images)
Nasser Al-Khelaifi, pemilik PSG (Getty Images)
Paris -

Paris Saint-Germain (PSG) menolak tawaran dari European Super League. Ada faktor politik dan kedekatan sang pemilik klub, Nasser Al-Khelaifi dengan UEFA.

Senin (19/4) kemarin, 12 tim resmi menggagas European Super League. Mereka adalah enam raksasa Premier League yakni Manchester City, Manchester United, Chelsea, Liverpool, Tottenham Hotspur, dan Arsenal, kemudian tiga wakil Serie A yakni Juventus, Inter Milan, dan AC Milan, serta wakil Laliga yakni Real Madrid, Barcelona, dan Atletico Madrid.

Nantinya European Super League akan diisi 20 tim, dengan delapan tim peserta tambahannya masih ditunggu keikutsertaannya sampai batas waktu tidak ditentukan. European Super League didanai oleh JPMorgan, perbankan asal Amerika Serikat dengan kucuran dana segar.

Para pesertanya mendapat uang tampil yang menggiurkan, sekitar 300 juta paun atau hampir Rp 6 T, jumlah yang bisa bertambah sesuai penampilan. Dinilai, kompetisi ini sebagai sebuah solusi (keuangan) di tengah pandemi.

Akan tetapi, European Super League sejatinya mendapat pertentangan. Sebab, ajang tersebut hanya membuat klub yang kaya menjadi semakin kaya dan yang miskin menjadi makin miskin.

UEFA dan FIFA pun mengancam klub-klub ikut dalam European Super League. Pemain yang ikutan, bakal dilarang tampil di liga domestik, Liga Champions, sampai Piala Dunia.

Dilansir dari Marca, klub raksasa asal Liga Prancis, PSG rupanya juga disebut-sebut bakal bergabung dengan European Super League.

Namun, PSG diyakini bakal menolak untuk bergabung dengan kompetisi itu. Apa alasannya?

Logo PSGLogo PSG (Getty Images/Catherine Ivill)

Usut punya usut, PSG merupakan rekanan dekat UEFA. PSG dimiliki oleh Qatar Sports Investments (QSI) dan dipimpin oleh Nasser Al-Khelaifi.

Nah, BeIN Sports yang merupakan produk dari QSI memegang hak TV untuk Liga Champions. Sementara Qatar sendiri, akan menjadi tuan rumah Piala Dunia pada 2022.

Nasser Al-Khelaifi juga punya hubungan baik dengan Presiden UEFA, Aleksander Ceferin. Malah, Nasser Al-Khelaifi juga mau menjadi presiden dari European Clubs Association (ECA) alias presiden Asosiasi Klub Eropa.

Jabatan tersebut kini dipegang oleh Presiden Juventus, Andrea Agnelli. Namun, Andrea Agnelli dipastikan menyeberang ke European Super League dan jabatannya bisa dipastikan jatuh ke Nasser.

Terakhir, PSG nggak pernah ada masalah sama kekurangan duit meski di tengah pandemi. PSG pun sudah merasa kalau format Liga Champions sudah merupakan bentuk kompetisi terbaik dan paling adil dalam kompetisi antarklub sepakbola di Eropa.

PSG ada di sisi UEFA.

MUNICH, GERMANY - APRIL 06: Nasser Ghanim Al-Khelaifi, President of PSG looks on during a PSG Paris Saint-Germain training session ahead of the UEFA Champions League Quarter Final match against FC Bayern Munich at Allianz Arena on April 06, 2021 in Munich, Germany. (Photo by Alexander Hassenstein/Getty Images)Nasser Al-Khelaifi, pemilik PSG (Getty Images)
(aff/krs)