European Super League Ingin Pangkas Waktu 90 Menit Sepakbola

Yanu Arifin - Sepakbola
Selasa, 20 Apr 2021 21:50 WIB
BARCELONA, SPAIN - FEBRUARY 16: The final result is shown at the scoreboard at the end of the UEFA Champions League Round of 16 match between FC Barcelona and Paris Saint-Germain at Camp Nou on February 16, 2021 in Barcelona, Spain. (Photo by David Ramos/Getty Images)
European Super League ingin pangkas waktu 90 menit sepakbola (Getty Images/David Ramos)
Madrid -

European Super League datang untuk mengubah sepakbola yang diklaim sudah membosankan. Misalnya, mempersingkat waktu bermain bukan lagi 90 menit.

Hal itu dilontarkan Presiden European Super League, Florentino Perez. Dalam wawancaranya bersama El Chiringuito, pria yang juga menjabat sebagai bos Real Madrid itu menilai anak-anak muda sudah bosan menyaksikan sepakbola sekarang.

"Sepakbola harus berubah dan beradaptasi," kata Perez, seperti dilansir ESPN.

"Kami menganalisis mengapa anak muda, 16 hingga 24 tahun, 40% dari mereka tidak tertarik dengan sepak bola. Kenapa? Karena ada banyak game berkualitas rendah, dan mereka memiliki platform hiburan lain," katanya.

Salah satu hal yang disorot Perez adalah lamanya waktu pertandingan. Satu pertandingan sepakbola sendiri bisa menghabiskan waktu 90 menit, bahkan 120 menit pertandingan jika terdapat babak tambahan.

"Mereka mengatakan permainannya terlalu lama. Kami harus mengubah sesuatu jika ingin sepakbola tetap hidup. Kadang kita tidak mengerti anak atau cucu kita," kata Perez.

"Mereka menciptakan yang berbeda, dunia berubah. Jika anak muda tidak menonton keseluruhan pertandingan, itu karena itu tidak cukup menarik, atau kita harus mempersingkat permainannya. Ada pertandingan, yang bahkan saya boleh jujur, jangan tonton semuanya," ujarnya.

Proposal European Super League sendiri digagas 12 tim. Selain Real Madrid, ada Barcelona, Atletico Madrid, Manchester United, Manchester City, Manchester United, Chelsea, Liverpool, Arsenal, Juventus, Inter Milan, dan AC Milan yang mendeklarasikan sebagai tim pendiri kompetisi itu.

Gagasan liga antaklub Eropa itu kemudian dikecam, karena dianggap bersifat eksklusif. Sebanyak 15 tim akan selalu bermain di liga tanpa ada sistem promosi degradasi, dan cuma memberi kesempatan lima tim ikut serta lewat jalur kualifikasi.

Hal yang pada akhirnya dianggap tidak memberi kesempatan tim kecil bersaing melawan tim terbaik. Selain itu, semua tim penggagas tidak melibatkan suporter saat memutuskan gabung European Super League.

(yna/mrp)