Guardiola Kritik Format European Super League: Itu Bukan Olahraga Namanya

Adhi Prasetya - Sepakbola
Rabu, 21 Apr 2021 03:50 WIB
DORTMUND, GERMANY - APRIL 14: Pep Guardiola, Manager of Manchester City looks on prior to the UEFA Champions League Quarter Final Second Leg match between Borussia Dortmund and Manchester City at Signal Iduna Park on April 14, 2021 in Dortmund, Germany. Sporting stadiums around Germany remain under strict restrictions due to the Coronavirus Pandemic as Government social distancing laws prohibit fans inside venues resulting in games being played behind closed doors.  (Photo by Friedemann Vogel - Pool/Getty Images)
Guardiola mempertanyakan format European Super League. Foto: Friedemann Vogel - Pool/Getty Im/Pool
Manchester -

Pep Guardiola angkat bicara soal European Super League. Menurut manajer Manchester City itu, sistem kompetisi semi tertutup itu akan mencederai olahraga.

Format yang dianut European Super League memang menuai kecaman banyak kalangan. Sebanyak 12 founding members (rencananya akan bertambah menjadi 15) dari 20 klub peserta tak akan bisa terdegradasi.

Mereka secara konstan akan terus berada di liga dan menerima pendapatan besar dari dana yang dikucurkan setiap musimnya, terlepas dari baik buruknya penampilan mereka di ajang tersebut. Hal ini akan mengurangi semangat berolahraga dari masing-masing tim.

Apalagi dasar pemilihan klub-klub yang berpartisipasi belum jelas, termasuk soal 12 klub sebagai founding members yang dasar penunjukannya saat ini bisa diperdebatkan. Hal ini yang menjadi pemikiran Guardiola.

"Jika relasi antara usaha dan kesuksesan tidak ada, maka itu namanya bukan olahraga. Saat kesuksesan sudah terjamin, itu bukanlah olahraga. Saat kalah menang bukan lagi persoalan, itu namanya bukan olahraga," kata Guardiola, dikutip Sky Sports.

"Aku tak tahu mengapa klub-klub ini yang dipilih dan akan bermain di kompetisi itu. Aku sudah bilang berkali-kali, aku ingin kompetisi yang terkuat, khususnya Premier League."

"Tidak adil jika ada sebuah tim yang berjuang untuk juara namun tidak bisa lolos karena kesuksesannya sudah dijamin untuk beberapa klub tertentu saja."

"Kenapa Ajax Amsterdam yang sudah 4 kali juara Liga Champions tidak ada? Mereka harus menjelaskannya padaku, pada kita semua," kata entrenador asal Spanyol itu.

Manchester City's head coach Pep Guardiola celebrates with goal scorer Manchester City's Phil Foden during the Champions League quarterfinal second leg soccer match between Borussia Dortmund and Manchester City at the Signal Iduna Park stadium in Dortmund, Germany, Wednesday, April 14, 2021. (AP Photo/Martin Meissner, Pool)Man City juga menjadi salah satu klub yang akan menjadi founding members. Foto: AP/Martin Meissner

Meski begitu, Guardiola mengaku tidak nyaman membahas hal ini, sebab ia tak tahu banyak. Menurutnya, ia pun masih harus mendapat penjelasan dari direksi klub yang lebih tahu soal ini. Begitu pula dari UEFA yang menentang keras pembentukan liga baru ini.

Saat ini, Guardiola menganggap European Super League belum ada wujudnya. Ia memilih fokus pada pekerjaannya di sisa musim, yakni membawa Man City meraih gelar sebanyak mungkin.

"European Super League masih berupa embrio, belum ada napasnya. Itulah kenyataannya saat ini," kata Guardiola.

"Kami akan tampil di Liga Champions pekan depan, mencoba lolos ke babak final. Musim depan, kami juga akan tampil di kompetisi Eropa karena kami layak mendapatkannya, dan memenanginya di lapangan," tegasnya.

Diketahui, sebanyak 12 klub mendeklarasikan akan membentuk European Super League pada Minggu (18/4) lalu. Liga itu dianggap bisa menciptakan stabilitas keuangan untuk para pesertanya, yang diisi klub-klub kaya Eropa.

Arsenal, Liverpool, Chelsea, Tottenham Hotspur, Manchester United, Manchester City, Barcelona, Real Madrid, Atletico Madrid, AC Milan, Inter Milan, dan Juventus sudah menyatakan keikutsertaannya.

(adp/nds)