Hadiah European Super League Gede Banget, Liga Champions Cuma Seuprit

Afif Farhan - Sepakbola
Selasa, 20 Apr 2021 20:50 WIB
Bayern Munich keluar sebagai juara Liga Champions 2019/2020. Die Roten menjadi kampiun setelah mengalahkan Paris Saint-Germain 1-0 di Estadio da Luz, Lisbon, Portugal, Senin (24/8/2020) dini hari WIB.
Hadiah Liga Champions Cuma Seuprit ketimbang European Super League (AP Photo)
London -

European Super League jadi kontroversi karena dianggap cuma bisa dinikmati segelintir klub. Sudah begitu, hadiah bagi juaranya gede banget!

Pada Senin (19/4) kemarin, 12 tim resmi menggagas European Super League. Mereka adalah enam raksasa Premier League yakni Manchester City, Manchester United, Chelsea, Liverpool, Tottenham Hotspur, dan Arsenal, kemudian tiga wakil Liga Italia yakni Juventus, Inter Milan, dan AC Milan, serta wakil Liga Spanyol yakni Real madrid, Barcelona, dan Atletico Madrid.

Nantinya liga ini akan diisi 20 tim, dengan delapan tim peserta tambahannya masih ditunggu keikutsertaannya sampai batas waktu tidak ditentukan. Nanti formatnya adalah klasemen, tanpa degradasi dan dilangsungkan tiap tengah pekan.

European Super League didanai oleh JPMorgan, perbankan asal Amerika Serikat dengan kucuran dana segar. Dinilai, itu sebagai sebuah solusi di tengah pandemi.

Salah satu yang menyedot perhatian soal European Super League adalah soal hadiah. Bagi sang juara, hadiahnya begitu sangat menggiurkan.

Sang juara bakal mendapat hadiah uang tunai sebesar 400 juta Euro atau setara Rp 7 triliun!

Jumlah uang segitu berkali-kali lipat dari hadiah yang didapat juara Liga Champions. Juara Liga Champions cuma dapat 120 juta Euro atau setara Rp 2,1 triliun.

Hingga kini, European Super League masih jadi kontroversi. UEFA dan FIFA belum memberi lampu hijau, plus sudah menebar ancaman berupa pemain yang ikut ajang tersebut dilarang bermain di level Piala Dunia dan terancam dicoret dari liga domestiknya.

Lain sisi, para penggagas European Super League menilai kalau ajang tersebut merupakan solusi di tengah pandemi. Plus, membuat gairah bisnis sepakbola bergejolak lagi.

(aff/krs)