ADVERTISEMENT

Reaksi Ancelotti Saat European Super League Diumumkan: Lagi Bercanda, ya?

Adhi Prasetya - Sepakbola
Jumat, 23 Apr 2021 07:30 WIB
SHEFFIELD, ENGLAND - DECEMBER 26: Carlo Ancelotti, Manager of Everton reacts prior to the Premier League match between Sheffield United and Everton at Bramall Lane on December 26, 2020 in Sheffield, England. The match will be played without fans, behind closed doors as a Covid-19 precaution. (Photo by Nick Potts - Pool/Getty Images)
Ancelotti pernah melatih 4 klub penggagas European Super League, dan meraih sukses di sana. Foto: Getty Images/Pool
Jakarta -

Carlo Ancelotti angkat bicara soal European Super League. Pelatih kawakan asal Italia itu awalnya mengira itu hanya lelucon saja.

Dunia sepak bola sempat digemparkan pada hari Minggu (18/4) lalu, saat 12 klub raksasa asal Inggris, Italia, dan Spanyol mengumumkan akan membentuk liga baru. Hal ini sontak menimbulkan reaksi keras dari berbagai pihak, mulai dari UEFA, suporter klub, hingga klub-klub lain yang tak dilibatkan.

Sebab, European Super League dianggap hanya menguntungkan klub-klub besar yang sudah jadi penguasa di liga masing-masing. Selain itu, sistem kompetisi yang semi tertutup, di mana para founding members tak akan terdegradasi, dianggap mencederai asas olahraga.

Pada kelanjutannya, rencana ini gagal dilanjutkan. Para calon peserta, terutama dari Inggris, satu per satu mundur dari keikutsertaan pada Selasa (20/4).

Ancelotti, yang pernah melatih klub-klub penggagas European Super League seperti Juventus, AC Milan, Chelsea, dan Real Madrid juga dimintai tanggapan soal ini. Pria yang kini menukangi Everton itu awalnya sempat mengira hal itu cuma lelucon belaka.

"Reaksi saya saat itu mengira mereka sedang bercanda, ini hanyalah lelucon," kata Ancelotti, dikutip Sky Sports. "Saya pikir itu lelucon sebab tak akan terjadi. Mustahil," lanjutnya.

Menurut Ancelotti, salah satu penyebab utamanya adalah format European Super League yang sedikit banyak menganut kultur olahraga Amerika Serikat. Buatnya, hal itu sulit diterapkan di Eropa.

"Kultur olahraga di Eropa jelas berbeda dengan di Amerika sana. Bukan karena kami benar dan mereka salah, tapi memang budayanya berbeda. Di Amerika, olahraga seperti hiburan," lanjut Ancelotti.

"Sedangkan di Eropa, kita hidup dengan hasrat yang lebih. Saat kita kecil dulu, kita ingin mengalahkan tetangga kita. Cara kami tumbuh di sini berbeda, bukan seperti olahraga di sana."

"Memang sekarang sepak bola adalah bagian dari bisnis. Tapi kita harus mempertimbangkan dua hal (olahraga dan bisnis) itu. Olahraga harus didahulukan. Lalu dengan investasi yang banyak, menjadi ladang bisnis. Keduanya harus dipertimbangkan, dan itu normal," jelas Don Carletto soal pandangannya tentang European Super League.

(adp/pur)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT