Soal Format Baru Liga Champions, Guardiola: UEFA Tak Peduli Pemain

ADVERTISEMENT

Soal Format Baru Liga Champions, Guardiola: UEFA Tak Peduli Pemain

Rifqi Ardita Widianto - Sepakbola
Sabtu, 24 Apr 2021 02:05 WIB
Manchester Citys head coach Pep Guardiola reacts after a Champions League round of 16 second leg soccer match between Manchester City and Borussia Moenchengladbach at the Puskas Arena in Budapest, Hungary, Tuesday, March 16, 2021. (Tibor Illyes/MTI via AP)
Pep Guardiola mengecam UEFA soal format baru Liga Champions. (Foto: AP/Tibor Illyes)
Jakarta -

Polemik European Super League turut menghasilkan perubahan format Liga Champions oleh UEFA. Manajer Manchester City Pep Guardiola mengecam perubahan ini.

Jagat sepakbola panas dengan isu European Super League yang digagas 12 tim top Eropa. Enam di antaranyar dari Inggris, yakni Manchester United, Liverpool, Chelsea, Arsenal, Tottenham Hotspur, dan termasuk Manchester City.

Pembentukan kompetisi ini tak lepas dari ketidakpuasan klub-klub tersebut dengan Liga Champions milik UEFA. European Super League menjanjikan uang lebih besar, yang dibutuhkan klub-klub ini menyusul krisis akibat pandemi.

Tapi rencana itu kandas sebelum berjalan. Diawali dari mundurnya enam tim Inggris akibat gelombang protes dan tekanan dari pemerintah. Untuk mengakomodasi keinginan tim-tim ini, UEFA pun bertindak dengan mengubah format Liga Champions mulai 2024.

UEFA akan menerapkan Swiss System di babak grup, dengan tiap tim akan memainkan minimal 10 pertandingan. Peserta akan bertambah dari 32 menjadi 36 tim. Dengan lebih banyak pertandingan, harapannya pemasukan buat klub juga meningkat.

Manajer Manchester City Pep Guardiola, yang sebelumnya mengkritik pembentukan European Super League, juga menyoroti format baru Liga Champions. Menurutnya itu bukan solusi yang adil buat para pemain.

"Selalu begini kejadiannya. Semua manajer dan pemain meminta kualitas yang lebih baik dan dunia sepakbola mengejar kuantitas," ungkapnya dikutip Sky Sports.

"Tapi kami tak punya kendali atas itu. Kami harus meminta UEFA dan FIFA untuk memperpanjang tahun, mungkin 400 hari setahun. Mungkin mereka bisa menemukan solusi dari sana," imbuhnya.

Guardiola mencontohkan bagaimana musim ini Manchester City sudah sangat kewalahan. Dengan mundurnya start tahun kompetisi, Citizens tak menjalani pramusim yang layak dan praktis tak punya jeda tengah pekan karena tampil di empat kejuaraan.

Bukan tidak mungkin situasinya bakal seperti itu ketika format baru Liga Champions diterapkan.

"Setiap kali kita membicarakannya ke UEFA, mereka bilang akan mencatatnya. Tapi setelah itu ada lebih banyak pertandingan. Lalu ada kompetisi (format) baru," sambung Guardiola.

"Ini seperti seorang aktor atau aktris di teater tampil tiga kali sehari. Mereka ingin menunjukkan penampilan bagus, tapi tiga kali sehari itu terlalu banyak," imbuh pria asal Catalunya ini.

(raw/ran)