Presiden Barca: Liverpool-MU Biangnya European Super League!

Mohammad Resha Pratama - Sepakbola
Senin, 21 Jun 2021 15:23 WIB
MANCHESTER, ENGLAND - MAY 13: Mohamed Salah of Liverpool battles for possession with Fred of Manchester United during the Premier League match between Manchester United and Liverpool at Old Trafford on May 13, 2021 in Manchester, England. Sporting stadiums around the UK remain under strict restrictions due to the Coronavirus Pandemic as Government social distancing laws prohibit fans inside venues resulting in games being played behind closed doors. (Photo by Michael Regan/Getty Images)
Liverpool dan MU adalah penggagas European Super League (Getty Images/Michael Regan)
Barcelona -

Presiden Barcelona Joan Laporta membantah klubnya jadi inisiator utama European Super League. Ide itu justru muncul dari Liverpool dan Manchester United.

Barcelona bersama 11 klub top Eropa membuat heboh medio April lalu saat mencetuskan European Super Super League. Mereka ingin adanya kompetisi yang bisa menjamin keberlangsungan ekonomi klub ke depannya.

Apalagi di tengah pandemi virus corona saat ini, klub-klub besar itu kesulitan keuangan karena pemasukan mandek. Tapi, baru berumur tiga hari, liga itu keburu ditunda atau boleh dibilang ditutup, karena gelombang protes yang begitu deras.

Satu per satu klub pencetus mundur hingga tersisa Barcelona, Real Madrid, dan Juventus. Ketiganya bersikeras kompetisi itu tetap harus berjalan di masa mendatang demi kebaikan klub.

Maka wajar jika Barcelona dikritik habis karena tidak mau mengundurkan diri dari turnamen itu, meski sudah ada tekanan hebat. Bahkan ancaman UEFA berupa hukuman berat juga tidak membuat Barcelona goyah.

Ketika kritik terus mengarah ke manajemen tim terutama Laporta sebagai presiden, pembelaan pun dikeluarkan. Menurut Joan Laporta, Barcelona, Real Madrid, dan Juventus bukanlah penggagas European Super League.

Sebab, ide itu muncul dari Liverpool dan Manchester United yang memang menginginkan format kompetisi layaknya olahraga Amerika Serikat. Ya, kebetulan kedua klub itu dimiliki orang Amerika Serikat yang juga punya tim olahraga di Negeri Paman Sam.

"Liverpool dan United-lah penggagas Super League sebenarnya. UEFA pun mengancam dan itu berlebihan. Klub belum membayar sama sekali kompensasi setelah mundur," ujar Joan Laporta kepada La Vanguardia.

"Proyek Liga Super masih ada. Ini akan jadi kompetisi paling menarik di dunia, dan berdasarkan solidaritas serta saling menguntungkan," sambungnya.

(mrp/rin)