UEFA Berencana Hapus Aturan FFP, Digantikan Salary Cap

Adhi Prasetya - Sepakbola
Jumat, 13 Agu 2021 11:17 WIB
BATH, ENGLAND - OCTOBER 13:  In this photo illustration, a stack of £1 coins is seen with the new £10 note alongside US dollar bills on October 13, 2017 in Bath, England. Currency experts have warned that as the uncertainty surrounding Brexit continues, the value of the British pound, which has remained depressed against the US dollar and the euro since the UK voted to leave in the EU referendum, is likely to fluctuate.  (Photo Illustration by Matt Cardy/Getty Images)
UEFA ingin mengganti aturan FFP dengan Salary Cap. Foto: Getty Images/Matt Cardy
Jakarta -

UEFA berencana menghapus aturan Financial Fair Play (FFP). Gantinya, mereka akan mengajukan aturan baru, yakni pembatasan gaji (salary cap).

Dilaporkan harian The Times, kebijakan salary cap ini bertujuan agar pengeluaran klub-klub Eropa untuk sektor gaji pemain lebih rendah dari pendapatan mereka. Dengan begitu, keuangan klub lebih terjamin.

Aturan salary cap ini juga lebih cocok digunakan ketimbang FFP, yang mewajibkan klub harus balik modal, atau setidaknya hanya mengalami kerugian sebesar 30 juta Euro selama periode tiga tahun.

Di tengah pandemi, FFP sulit diterapkan UEFA, bahkan saat ini tengah dilonggarkan. Kerugian yang disebabkan pandemi saat ini dihilangkan dari kalkulasi.

Itu sebabnya Paris Saint-Germain bisa menggaji mahal deretan bintang Lionel Messi, Sergio Ramos, Achraf Hakimi, Georginio Wijnaldum, dan Gianluigi Donnarumma. Itu juga yang membuat Manchester City masih optimis mengejar Harry Kane meski sudah membeli Jack Grealish seharga 100 juta Pound.

Belum ada kepastian resmi, namun aturan salary cap ini diperkirakan hanya membolehkan 70 persen pendapatan tahunan klub untuk masuk dalam alokasi gaji. Lalu bagaimana jika melebihi batas?

Lionel Messi, right, and PSG president Nasser Al-Al-Khelaifi hold Messi's jersey Wednesday, Aug. 11, 2021 at the Parc des Princes stadium in Paris. Lionel Messi said he's been enjoying his time in Paris PSG masih mampu merekrut Messi dan sederet bintang lainnya di tengah pandemi. Foto: AP/Francois Mori

Kabarnya sih boleh-boleh saja, namun klub-klub pelanggar itu harus siap dikenakan pajak barang mewah. Artinya, akan ada denda untuk setiap pengeluaran gaji yang melebihi batas di satu musim.

Setiap 1 Euro yang melebih batas, maka klub tersebut juga harus membayar 1 Euro. Jika di musim berikutnya hal itu kembali terulang, pajaknya akan meningkat 1,5-2 kali lebih banyak.

Intinya, akan ada level peningkatan pajak untuk pengeluaran yang berlebihan. Uang pajak itu nantinya akan didistribusikan kepada klub-klub kompetitor, diharapkan dapat meningkatkan level persaingan.

Selain itu, akan ada hukuman sanksi olahraga juga bagi pelanggar yang bebal, termasuk didiskualifikasi dari turnamen antar klub Eropa, karena denda saja diyakini tak akan cukup.

UEFA akan mengajukan proposal pergantian ini pada pertemuan bulan depan di Swiss, yang akan dihadiri banyak stakeholder sepakbola, termasuk asosiasi negara peserta, klub-klub, para operator liga, hingga para agen pemain.

Andai disetujui, belum diketahui kapan aturan salary cap ini berlaku di seluruh Eropa. Liga Spanyol sudah menerapkan lebih dulu, yang berakibat Barcelona tak bisa memperpanjang kontrak Lionel Messi. Sementara di Liga Prancis, ada rencana aturan itu diterapkan mulai 2023.

(adp/krs)