Meneropong Titik Lemah Barca

Catatan Sepakbola

Meneropong Titik Lemah Barca

- Sepakbola
Rabu, 27 Feb 2013 23:19 WIB
AFP/Pierre-Philippe Marcou
Jakarta - Barcelona begitu digjaya dan superior selama dipegang Pep Guardiola. Walaupun masih tetap menakutkan, tapi pelan-pelan tim-tim lawan mulai menemukan celah untuk meredam tiki taka.

Guardiola pernah mengungkapkan "sepakbola adalah permainan dengan kegembiraan yang menghibur". Dengan ungkapan sederhana itu Barca dipoles menjadi tim terhebat dalam 5 tahun terakhir ini. Tak perlu dikupas tuntas lagi kehebatan El Barca, karena semua pecinta sepakbola dunia hafal betul kehebatan tim kebanggan Catalan ini.

Sejak kemudi kepelatihan dioper kepada penerusnya yang juga asistennya dulu, Tito Vilanova, yang memang sedikit memberikan sentuhan yang beda, tetap saja wewangian tiki taka sangat kental dalam aroma strategi bermain Barcelona.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejak Barca mengampanyekan sepakbolanya yang luar biasa menuju puncak kehebatan permainan yang mencengangkan, begitu banyak pelatih dengan berbagai pola dan taktik strategi yang dirumuskan untuk membunuh permainan manis pasukan Camp Nou. Namun, kita pun dibuat terkagum-kagum dengan kesuksesan Lionel Messi dan kawan-kawan melumat semua tim yang mencoba berbagai teori anti Barca. Tak tanggung-tanggung, The Special One Jose Mourinho, dedengkot Premier League Sir Fergie, meneer Lois van Gaal, The Profesor Arsene Wenger, juga Guus Hiddink, pernah dibekuk oleh "kesederhanaan" racikan strategi ala Barca.

Bahkan publik meyakini bahwa tak akan pernah ada sebuah tim yang benar-benar memainkan sebuah strategi meyakinkan yang bisa membongkar keuletan tiki taka, terlepas dari kekalahan Barca di Giuseppe Meazza oleh Internazionale era Mourinho. Pun keberhasilan Chelsea mengamankan tiket laga Final Liga Champions Musim lalu. Sama halnya saat Barca merelakan titel Copa Del Rey ke tangan musuh utamanya Real Madrid, di musim awal kepelatihan Mourinho. Sebabnya, publik sepakbola internasional menilai, ada penerapan sepakbola negatif -- kemudian diistilahkan dengan strategi "parkir bus" -- atau apapun sebutannya, yang jelas sarat dengan kontroversi.

Lalu, pertanyaan paling mungkin di benak seluruh pecinta sepakbola dunia adalah, apakah memang Barca tidak punya kelemahan, Apakah benar belum ada sebuah strategi yang bisa membuat Barca tertekan dan tak berdaya?

Tentu saja ada. Setidaknya seperti yang tergambar dalam tiga dari empat partai terakhir yang sudah dilewati Barca.

Adalah pelatih Granada, Alucas Alcaraz, yang di awal Februari "membisikan" kepada dunia sedikit celah kelemahan di kubu Barcelona . Berbekal dua kemenangan sensasional di kandang musuh (3-0 atas Deportivo La Coruna di Riazor, lalu 1-0 atas Real Madrid di Santiago Bernabeu), pasukan El Grana menjamu Barca di Estadio Nuevo Los Carmenes di pekan ke-24 La Liga.

Pertandingan itu memberi perbedaan Barca sebelumnya, karena untuk pertama kalinya mereka tertekan dalam intensitas yang tinggi dan berulang-ulang sepanjang laga. Granada bahkan unggul lebih dulu lewat sebuah skema serangan balik yang teratata dengan rapi dan sangat cepat dalam menekan lini jangkar Barca. Itulah yang membuat area pertahanan Los Cules sedikit panik dan terbongkar. Gol bagus Odion Oghalo mengabarkan kepada dunia bahwa begitulah cara efektif menekan Barca, serta bagaimana menampar skema indah alur main tiki taka yg diagung-agungkan.

Meskipun akhirnya takluk 1-2 oleh dua gol Messi, namun pengagum dan juga musuh Barca terbuka matanya dengan alot nya perlawanan Granada di partai ini.

Diakui ataupun tidak, suka maupun tidak, jika mencermati laga panas di San Siro di Liga Champions minggu lalu, cara yang dilakukan AC Milan sedikit mirip Granada itu. Walaupun tetap mengusung gaya bermain Milan, pelatih Maxi Allegri memiliki pendekatan yang nyaris serupa dengan Alcaraz, yaitu menekan langsung ke lini jangkar, dan mengandalkan kecepatan sayap saat penetrasi dengan memanfaatkan ketertinggalan dua full back Barca. Di situ ada sedikit momen longgarnya koordinasi gelandang jangkar dan dua bek sentral saat meng-cover area yang terbuka di pos full back. Saat kehilangan bola, Barca hanya dibiarkan memainkan tiki taka di tengah dan mereka tak mendapatka ruang yang cukup luas saat memasuki area 16 meter.

Dan yang paling mutakhir adalah keberhasilan Real Madrid saat membungkam Barcelona di Camp Nou tadi malam (26/2) dengan skor bagus 3-1, untuk mengamankan tiket final Copa Del Rey dengan skor agregat 4-2.

Dari apa yang sudah diterapkan Alcaraz, Allegri lalu Mourinho, tak tampak ada teori anti-Barca dan juga anti-Messi. Yang ada hanya pemanfaatan sedikit kelemahan yang terkuak dalam skema main Barcelona. Dalam pandangan saya, strategi dan pendekatan taktik yang sudah dilakukan Alcaraz dengan pasukan Granada-nya cukup menggambarkan kepada seluruh calon lawan Barcelona ke depan, bahwa itulah setitik celah yang jika dieksploitasi dengan tepat mampu meruntuhkan kuatnya alur permainan tiki taka.

Menurut hemat saya, terbiasanya Tito (yang dalam beberapa duel terakhir diwakili oleh asistennya, Jordi Roura), memainkan strategi 4-3-3 deep dengan Messi sebagai False 9, serta menempatkan Andres Iniesta di sektor kiri penyerangan, justru memberikan beban lebih kepada Segio Busquets yang menjadi jangkar lini tengah. Selain 'kelebihan beban' yang dialami Sergio, strategi ini pun tidak akan maksimal jika Cesc Fabregas tak berfungsi dengan baik sebagai dinding pemantul bagi Messi. Akibatnya, Messi sering terlihat malah menjelajah di kawasan kerja Pedro dan atau Iniesta. Ini jelas menimbulkan kurangnya kordinasi sumbu penyerangan.

Lalu, jauhnya jarak antara Xavi dengan Iniesta memaksa Xavi kewalahan saat berupaya meng-cover Busquets jika tekanan langsung masuk ke lini jangkar. Akibatnya, konduktor permainan yang jelas-jelas bersumbu pada Xavi tidak bisa berfungsi maksimal karena kejelian lawan membaca sedikit ruang di antara Xavi-Busquets. Kerapuhan Busquets sangat terasa ketika dia mendapat direct pressing. Sedikit salah kordinasi saja antara ia dengan Carles Puyol maupun Gerard Pique, terutama dalam meng-cover area yang ditinggalkan dua full back Dani Alves dan Jordi Alba, maka Barca harus siap terhukum dan membayar sangat mahal seperti kegagalan tadi malam di Camp Nou.



==

* Penulis adalah pemerhati sepakbola, tinggal di Pondok Cina, Beji, Depok






(a2s/krs)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads