Ragunan, oh Ragunan...

Luluk Hadiyanto - Sepakbola
Jumat, 01 Mei 2020 15:30 WIB
Sekolah Ragunan
Sekolah Khusus Olahraga Ragunan butuh pembenahan usai 43 tahun. (Foto: dok.Luluk Hadiyanto)
Jakarta -

Sekolah Khusus Olahraga (SKO) Nasional Ragunan menjadi lumbung atlet berprestasi untuk Indonesia. Usai 43 tahun, Ragunan kini makin keropos.

Didirikan melalui kerjasama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) dan Pemerintah Daerah DKI Jakarta, sekolah tersebut diresmikan pada tanggal 17 Januari 1977.

Gubernur Ali Sadikin yang meresmikan sekolah di selatan Jakarta itu. Ketiga pihak tersebut mempunyai tugas dan fungsi masing-masing yaitu: Kemendikbud menanggung biaya pelaksanaan pendidikan termasuk penyelenggaraan sekolah, asrama, poliklinik serta gaji/honor kepala sekolah, pembantu kepala sekolah, guru dan pegawai tata usaha.

Kemudian Kemendikbud dan KONI menanggung bersama biaya peningkatan prestasi dan pematangan juara (kompetisi) serta gaji/honor pelatih, sementara Pemda DKI Jakarta menyediakan sarana pendidikan dan olahraga yang disesuaikan dengan kegiatan program pendidikan dan latihan olahraga dan biaya pemeliharaanya.

Tujuan didirikannya sekolah ini adalah mencetak atlet yang berprestasi nasional dan internasional, mempunyai semangat olahragawan sejati dan berjiwa Pancasilais. Dengan pembinaan olahraga dan pendidikan yang sentralistik dan terpantau SKO Ragunan mampu melahirkan atlet-atlet hebat yang merajai kawasan Asia Tenggara, bersaing di level Asia dan bahkan menembus level dunia.

Almarhum Lukman Niode (Renang), Icuk Sugiarto, Lius Pongoh, Bobbi Ertanto, Sarwendah Kusumawardani (Bulutangkis), Yayuk Basuki (Tenis), Nurfitriyana Saiman, Lilis Handayani dan Kusuma Wardani (Panahan), Sudirman, Samsidar (Sepakbola), merupakan contoh jebolan Ragunan.

Kondisi bangunan di SKO Ragunan yang memprihatinkanKondisi bangunan di SKO Ragunan yang memprihatinkan Foto: Istimewa

Atlet-atlet muda dari Sabang sampai Merauke tersebut dibina dengan program yang jelas dan terarah dan tidak salah kalau di tingkat Asia Tenggara, Indonesia selalu menjadi juara umum karena pembinaan olahraganya fokus pada cabang-cabang olahraga yang dipertandingkan dalam multievent.

Indonesia menjadi juara SEA Games pada tahun 1977, 1979, 1981, 1983, 1987, 1989, 1991, 1993, 1997 dan 2011. Ketika menjadi juara SEA Games 2011, banyak faktor yang terselip di dalamnya seperti pemilihan cabang olahraga yang menguntungkan tuan rumah, mengenal lapangan yang akan digunakan, makanan, sampai suporter. Namun sejujurnya, di balik keberhasilan pada SEA Games 2011, sistem pembinaan olahraga di Indonesia sudah keropos.

Setelah 21 tahun diresmikan, tepatnya pada tanggal 24 Februari 1998, SKO Ragunan berganti nama. Dalam perjanjian bersama antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kemenpora, KONI dan Pemerintah Daerah DKI Jakarta, namanya menjadi Pusat Pendidikan dan Latihan (Diklat) SMP/SMA Negeri Ragunan.

Prestasi Diklat SMP/SMA Negeri Ragunan semakin menurun. Penyebab dari menurunnya prestasi Diklat SMP/SMA Negeri Ragunan di antaranya adalah industri olahraga yang mulai berkembang, perusahaan-perusahaan negara maupun swasta mendirikan klub-klub olahraga yang pengelolaannya lebih baik sehingga Diklat SMP/SMA Negeri Ragunan tidak lagi menjadi pilihan utama.

Klub-klub olahraga yang didanai oleh perusahaan-perusahaan tersebut ternyata tidak bisa berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Pada era 2000-an, banyak klub-klub olahraga menghentikan pembinaan olahraganya.

Gudang Garam yang membina tenis meja, Suzuki Indomobil yang mendukung pembinaan tenis contohnya. Bahkan saat ini di cabang olahraga bulutangkis yang sudah mendunia hanya tinggal beberapa klub yang konsisten membina olahraga seperti Djarum (PT. Djarum), Jaya Raya (Ciputra), Mutiara Cardinal (Tekstil), Exist (Hiburan) dan SGS PLN.

Di era milenial, Ragunan dalam kondisi tidak ideal. Anggaran terbatas, salah satunya, berimbas ke honor pelatih dan uang saku atlet. Dukungan nutrisi dan gizi juga sulit dibilang ideal. Ada problem serupa terkait kondisi asrama, fasilitas latihan, dan poliklinik, jumlah masseur (tukang pijat) dan jumlah pelatih fisik, juga kondisi perlengkapan latihan dan bertanding.

Egy Maulana Vikri saat di SKO Ragunan.Egy Maulana Vikri saat di SKO Ragunan. Foto: Hasan Alhabshy

Dalam kondisi seperti itu, Diklat SMP/SMA Negeri Ragunan masih mampu melahirkan atlet-atlet hebat dan berkontribusi untuk tim nasional. Sebut saja Egy Maulana dan Witan Sulaiman, dua pesepakbola yang meniti karier di Eropa.

Selain itu masih ada nama seperti, Ikhsan Rumbay (Bulutangkis/pelatnas utama PBSI), Yeremia Rambitan (Bulutangkis/pelatnas utama), Amry Syahnawi (Bulutangkis/pelatnas utama PBSI, M. Fathir, M. Yasin, Juliana Clarissa (Angkat Besi), M. Bassam (Taekwondo.

Keadaan semakin tidak menentu ketika pada awal tahun 2019 secara tiba-tiba dan halus Pemda DKI Jakarta meminta Diklat SMP/SMA Negeri Ragunan (binaan Kemenpora) mencari tempat baru di luar komplek Ragunan dengan alasan komplek Ragunan akan direvitalisasi.

Faktanya Pemda DKI Jakarta malah menambah jumlah atlet Pusat Pembinaan dan Latihan Pelajar (PPLP). Jumlah atlet binaan Kemenpora dan Dispora DKI Jakarta pun tetap tidak proporsional dengan jumlah fasilitas yang tersedia.

Agar SKO Ragunan bisa mencetak atlet yang lebih berprestasi lagi, jelas butuh banyak perbaikan. Bagaimana langkah pemerintah pusat mempertahankan Diklat SMP/SMA Negeri Ragunan?

Lantas apa kata Menpora Zainudin Amali?

"Jadi SKO Ragunan bukan milik Kemenpora lagi tapi PPLD DKI Jakarta. Jadi sudah dikelola mereka. Nah, Cibubur itu akan kami bangun untuk SKO. Kami akan konsentrasikan untuk cabor-cabor Olimpiade dulu di sana."

"Dulu kalau masih ingat, saya pernah bilang, saya sudah mendapat arahan dari Bapak Presiden untuk membangun Training Camp untuk cabor yang ada harapan. Nah, ini kami bikin di grand desain sekalian. Jadi SKO kita yang di Cibubur, kami akan bangun lagi. Tapi bukan kami, kami akan minta bantuan dari Kementerian PUPR."

Terkait itu, ia menyatakan pula bahwa prosesnya sudah menuju pematangan grand design. Namun, progres-nya saat ini memang masih terkendala pandemi COVID-19 yang membutuhkan fokus tertuju ke sektor lain. "Artinya jika grand desain sudah ada tinggal renovasi. Tempat menginap atlet, tempatnya, dan saya sudah rapat dengan Kementerian PU PR, sudah ada timnya, cuma terhenti karena ada covid ini. Kan semua konsentrasi dan SDM diarahkan ke COVID-19."


***

Penulis adalah pemerhati Olahraga. Alumni Pascasarjana Manajemen Olahraga UNJ, Mantan Ganda Putra No. 1 Dunia Bulutangkis bersama Alvent Yulianto.



Simak Video "MU Vs Arsenal: Setan Merah Tak Pernah Menang di 5 Pertemuan Terakhir"
[Gambas:Video 20detik]
(cas/ran)