Antara Perang dan Sepakbola
Selasa, 08 Agu 2006 08:27 WIB
Jakarta - Di saat Eropa akan segera menggelar ajang prestisius Liga Champions, perang antara Israel dan Libanon pun semakin berkecamuk. Masalahnya, klub-klub Israel juga termasuk dalam kontestan Liga Champions. Maccabi Haifa akan menantang juara Liga Champions 2005 Liverpool di Israel. Dengan adanya keadaan yang tidak memungkinkan, kubu The Reds pun menginginkan pemindahan tempat bertanding -- yang akhirnya dikabulkan UEFA. Di tengah-tengah hiruk pikuknya dunia sepakbola internasinal, memang kita dikejutkan oleh sepak terjang Israel yang menyerang Libanon. Namun tentunya, dunia perang atau politik harus dipisahkan dengan dunia sepakbola yang menjunjung sportivitas bermain. Dua dunia ini memang sangat berbeda. Dendam sangat dinajiskan dalam sepakbola. Apalagi saat ini permainan ini telah menjadi ikon internasional dan juga merupakan ikon pemersatu bangsa-bangsa. Tak terhitung berapa banyak pemain bintang yang terlibat peran aktif sebagai duta badan-badan sosial dunia untuk menyuarakan perdamainan, perang terhadap kemiskinan, dan lain-lain.Saya pikir sangat riskan memang jika sebuah klub raksasa macam Liverpool yang dihuni bintang-bintang kelas dunia harus berjibaku di tengah-tengah suasana peperangan di tanah Israel. Kondisi seperti ini tentunya tidak kita inginkan bersama. Namun seperti saya katakan tadi, sepakbola mempunyai dunia tersendiri yang tidak bisa dimasuki atau dirasuki oleh siapapun dan suasana apapun. Lihatlah bagaimana keadaan politik Korea Selatan dan Korea Utara yang terus saja bertikai, namun saat bertemu dalam pertandingan sepakbola, mereka sangat menjunjung sportivitas dengan tidak membawa-bawa dendam politik di negara masing-masing. Lihat juga pertikaian antara Amerika dan negara-negara timur tengah termasuk Iran. Namun saat berlaga di Piala Dunia ketika kedua tim bertemu, mereka berangkulan seolah-olah di antara kedua negara tidak pernah terjadi apa-apa.Itulah indahnya sepakbola. Fair play menjadi faktor utama di sini. Bagaimana dengan situasi sekarang yang terjadi di Israel? Saya merasa warga Libanon ingin sekali melihat pertandingan klub-klub raksasa dunia di mana para bintang idola mereka bermain. Begitu pun dengan Israel, mereka juga ingin melihat klub negaranya bisa bermain baik di Liga Champions. Nah, inilah yang menarik. Coba kita bayangkan bagimana jadinya jika memang Liverpool bersedia bermain di markas Maccabi Haifa dan pertandingan ini ditonton oleh rakyat Israel dan juga Libanon yang berkumpul bersama untuk menyemangati para idolanya. Ini tentu akan menjadi momen yang sangat mengharukan, di mana saat kedua negara tengah dilanda peperangan, masyarakatnya tetap bersama-sama mendukung para idolanya. Mungkin hal inilah yang harus dipikirkan oleh petinggi kedua negara, yaitu bagaimana menjadikan sepakbola sebagai alat perdamaian bagi keduanya, mengingat sepakbola adalah olahraga semua insan dunia. Semoga kehadiran sepakbola yang memukau akan menjadi tonggak perdamaian antara Israel dan juga Libanon. Bravo sepakbola! ===* Penulis adalah penggemar sepakbola, tinggal di Manado, Sulawesi Selatan.** Redaksi menerima artikel atau tulisan bebas dari pembaca yang bisa dikirim melalui imel ke redaksi@detiksport.com. Sertakan keterangan singkat biodata anda, dan kalau ada sisipkan foto. Redaksi berhak mengedit setiap naskah yang masuk dan akan dipublikasikan. (a2s/)











































