Masalah Klasik Olahraga Indonesia: Peralatan Atlet yang Tak Jelas Datangnya

Jelang SEA Games 2015

Masalah Klasik Olahraga Indonesia: Peralatan Atlet yang Tak Jelas Datangnya

Mercy Raya - Sport
Senin, 25 Mei 2015 20:32 WIB
Masalah Klasik Olahraga Indonesia: Peralatan Atlet yang Tak Jelas Datangnya
Jakarta - Sampai sebulan sebelum SEA Games dimulai banyak atlet dari berbagai cabang olahraga Indonesia masih menantikan datangnya peralatan latihan. Dari tahun ketahun masalah yang sama terus terulang.

Sampai awal Mei lalu Menpora melalui Deputi V Bidang Harmonisasi dan Kemitraan Kemenpora, Gatot S Dewa Broto, mengaku kalau beberapa cabang olahraga masih belum menerima peralatan latih dan tanding untuk SEA Games. Padahal Indonesia diberikan target meraih 79 medali emas supaya bisa finis di dua besar.

Soal tersendatnya alat latihan dan tanding atlet itu dikeluhkan oleh Chef de Mission Kontingen Indonesia, Taufik Hidayat, saat melakukan Rapat Dengar Pendapat dengan Aggota DPR.

"Ya, mereka laporan kalau peralatannya belum datang. Makanya sebenarnya ini masalah klasik. Sudah seharusnya di waktu yang tinggal sedikit ini para atlet tidak memikirkan tentang peralatan lagi. Tapi latihan, makan, sehat, jangan sampai cedera."

"Namun ini justru sebaliknya, saat ada kunjungan ke lokasi latihan mereka tanya pak peralatannya mana? yah ini sama seperti kita waktu zaman saya menjadi atlet dulu. Setiap ada yang datang ditagihnya seperti itu," sahut Taufik.

Dalam menjalankan tugasnya sebagai Chef de Mission, Taufik menemui sendiri betapa beberapa cabang olahraga kondisi pelatnasnya tidak layak karena belum datangnya peralatan tanding. Padahal saat itu SEA Games menyisakan sebulan lagi.

Setelah beberapa hari berlalu kondisinya tidak kunjung berubah. Pada blusukannya kedua Taufik lebih kaget lagi ketika salah satu pelatih pelatnas cabang menembak justru bertanya balik soal berapa jumlah atlet yang akan diberangkatkan dan nomor pertandingan.

Kini, di hari pengukuhan kontingen tepat tanggal 25 Mei tak ada perubahan yang signifikan. Peraih medali emas olimpiade Athena tahun 2004 itu mengaku jika masih ada sejumlah cabang yang belum menerima peralatan. Salah satunya cabang taekwondo.

"Makanya saya bilang tadi lihat di bulutangkis memang ada masalah tetapi cabor lain ternyata... lebih parah. Lapangan tidak layak... Kasihan. Masih untung ada yang mau jadi atlet," cetusnya.

Taufik lantas menyebut kalau kebutuhan atlet untuk mencapai prestasi tertinggi tidaklah murah. Sayangnya dana dalam jumlah tak banyak yang tersedia masih ada yang tidak tepat sasaran.

"Ya, kalau mau jadi (atlet sukses) ya memang harus ekstra. Kalau mau menunggu pemerintah atau siapa, ya beratlah. Apalagi dananya besar. Besar kalau disalurkannya tepat sasaran dan bermanfaat. Tapi meski dua kali lipat atau tiga kali lipat, tapi sasarannya tidak benar ya sama saja," urainya.

"Makanya sebenarnya jadi atlet itu mahal. Juara itu cuma satu. Tidak ada juara dua atau tiga, dan yang bisa naik ke podium itu pasti juara satu," tuntas dia.



(Mercy Raya/Doni Wahyudi)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads