detikSport
Follow detikSport Linkedin share
Minggu, 27 Okt 2019 05:33 WIB

Federasi Pecah Tiga, Tenis Meja pun Tak ke SEA Games 2019

Mercy Raya - detikSport
Federasi tenis meja Indonesia mengalami trialisme. (Ilustrasi - Foto: Marcelo Endelli/Getty Images) Federasi tenis meja Indonesia mengalami trialisme. (Ilustrasi - Foto: Marcelo Endelli/Getty Images)
Jakarta - Atlet tenis meja Yon Mardiono merespons kasus trialisme kepengurusan cabang olahraga tenis meja. Cabor ini pada akhirnya tak dikirim SEA Games 2019.

Tenis meja sebelumnya sudah diputuskan tidak masuk dalam kontingen Indonesia ke SEA Games Filipina, 30 November-11 Desember mendatang. Keputusan itu diambil karena adanya trialisme kepengurusan di PP PTMSI.

Saat PP PTMSI punya tiga kubu, yakni Oegroseno, Lukman Eddy, dan Peter Layardilay.


Nah PP PTMSI pimpinan Oegroseno meresponsnya dengan melaporkan mantan Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia (KOI) ke Polda Metro Jaya. Erick dituduh melakukan penipuan karena tidak memberangkatkan cabor tenis meja ke SEA Games 2019.

Kepada detikSport, Yon mengaku tak kaget soal situasi itu. Dia malah sudah tahu tenis meja bakal dicoret sebelum ada kabar federasi mengalami trialisme.

"Yang saya dengar kalau SEA Games, sebelum ada trialisme memang sudah saya tahu tidak akan diberangkatkan. Karena apa yang dimajukan oleh Bapak Oegroseno adalah pemain-pemain yang tidak ada history. Ada nama yang jauh lebih baik dan teruji. Minimal sebelum dia memilih dia harus evaluasi dan seleksi pemain-pemain yang ada di Indonesia. Jadi tidak ada dampak tadi," kata Yon kepada detikSport, Sabtu (26/10/2019).


"Kalau saya prinsipnya tidak mengejar di nasional. Kami ini sudah legowo memberikan kepada yang muda. Kami ini adalah barometer untuk mereka tapi jangan kami dijadikan korban juga. Contoh di PON dibikin (aturan) U-25. Harusnya kami yang tua-tua dibuat jadi barometer pembinaan yang muda. Kami tak membutuhkan nasional, tapi kalau nasional membutuhkan kami siap," dia menjelaskan.

"Maka, kalau saya dari dulu tidak pernah memploting saya masuk PB atau PP mana. Saya selalu bilang jangan lagi kita itu milik PB atau PP. Kita ini milik Indonesia. Karena saya melihat PB atau PP sudah melenceng semua. Pertama dengan organisasinya sendiri, kedua dengan program pembinaannya. Yang ketiga, jangankan memikirkan kesejahteraan atlet atau sistem dari pembinaan pertandingan, mereka sendiri program saja tidak mumpuni cuma asal jalan."

Terbelahnya federasi juga amat disesalkan karena tak cuma berpengaruh ke SEA Games, melainkan juga ke Pekan Olahraga Nasional (PON) Papua 2020. Yon berharap seluruh kepengurusan bisa dileburkan dulu.


"Nah ini juga pasti di dalamnya PB ini sudah tidak punya program yang baik. Dia membuat aturan yang tidak pernah ada di dunia. (Misalnya) PON dibuat U-25. Padahal di tenis meja itu tak ada batasan usia. PON itu multievent, barometernya SEA Games, Asian Games, dan Olimpiade," sambung Yon.

"Indonesia barometernya kemana? Ini kan artinya ada kepentingan individual. Kalau saya menangkap dua-duanya tak bagus sehingga dampaknya ya itu jadi tidak diikutsertakan semua."

"Sebab, permasalahan ini sudah beberapa kali (coba diselesaikan) dengan pertemuan. Baik PB kepemimpinan Lukman Edi maupun Bapak Oegroseno. Saat bertemu kelihatan indah, setelah selesai mulai ego kembali. Jadi menurut saya dilebur semua saja dulu," ujar dia.

Simak Video "Hoki Dilarang Tampil di SEA Games, Ini Penjelasan Kepala Kontingen RI"
[Gambas:Video 20detik]
(mcy/raw)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksport.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com