detikSport
Follow detikSport Linkedin share
Jumat, 22 Nov 2019 20:40 WIB

Pecatur Dikritik karena Bengong Saja, Percasi Jelaskan Aturannya

Mercy Raya - detikSport
Olahraga catur diinilai haram karena membuang-buang waktu (Muhammad Aminudin/detikSport)
Jakarta - Catur dianggap cabang olahraga yang membuang waktu karena pelakunya hanya bengong saja. Percasi jelaskan aturan mainnya.

Dalam ceramahnya, Ustaz Abdul Somad tak sepakat catur masuk dalam cabang olahraga karena bukan mengandalkan ketangkasan dan cenderung diharamkan. Di sisi lain, catur merupakan permainan yang buang-buang waktu karena pelaku hanya bengong selama tiga jam.

Percasi tak menampik catur pelaku diberikan waktu untuk diam. Namun, diam bukan berarti bengong seperti yang dimaksud melainkan berpikir untuk melakukan strategi.

"Memang dalam pertandingan catur itu setiap pemain diberi jatah waktu berpikir, istilahnya begitu. Jatah waktu berpikir yang saat ini sering digunakan internasional itu setiap pemain dapat jatah waktu berpikir 1,5 jam atau 90 menit untuk pecatur standar. Jadi kalau dua pemain ya tiga jam itu," kata Sekretaris Jenderal PB Percasi, Henry Hendratno kepada detikSport, Jumat (22/11/2019) dalam sambungan telepon.

"Nah kenapa dianggap buang-buang waktu tiga jam karena itu beradu strategi. Di catur kan ada istilahnya hukumnya, atau pedomannya. Jadi sebelum menyentuh buah catur itu harus berpikir karena kalau sudah sentuh harus dijalankan. Makanya, berpikirnya itu ya kayak orang memikirkan utang. Mungkin itu yang dinilai tapi kan dia tak tahu itu tujuannya apa, esensinya apa, dan pemainnya ini sedang apa tapi berkaitan dengan peraturan itu. Nah, bagi orang awam yang tak mengerti catur bisa menilai seperti itu," dia menjelaskan.
"Saya juga pernah dengar celotehan, seperti sepakbola buat apa lari mengejar satu bola selama 2 x 45 menit, wong bola di toko banyak, istilahnya begitu. Kalau catur sama tapi 3 jam sampai selesai. Jadi saya anggap (UAS) tidak mengerti catur. Cuma itu saja penilaian saya."

Lagipula, catur juga menyimpan filosofi yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk bagaimana mengambil keputusan tidak dengan buru-buru.

"Kalau orang mengerti catur pasti mengerti kenapa mereka duduk seperti orang bengong karena peraturannya seperti itu. Makanya harus berpikir matang-matang sebelum ambil tindakan, nah itu dipraktekkan di kehidupan sehari-hari. Istilahnya jangan grasak grusuk. Filosofinya tinggi kalau di catur, makanya di politik selalu simbolnya catur, kalau ada acara, talkshow awalnya gambaran catur," demikian dia.




Simak Video "Doa di Malam Nisfu Sya'ban Menurut UAS"
[Gambas:Video 20detik]
(mcy/mrp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksport.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com