detikSport
Follow detikSport Linkedin share
Kamis, 27 Feb 2020 23:11 WIB

ASEAN Para Games Mundur, Atlet Tenis Meja Tetap Asyik Latihan

Bayu Ardi Isnanto - detikSport
Atlet tenis Para Games berlatih di Solo Atlet Para Tenis Meja berlatih di Solo (Bayu Ardi Isnanto/detikSport)
Solo -

Tertundanya ASEAN Para Games di Filipina karena virus corona membuat atlet harus lebih lama mengikut pelatnas. Ada banyak cara dilakukan demi melepas kejenuhan.

ASEAN Para Games 2020 dijadwalkan 18-24 Januari di tiga kota, Manila, Clark, dan Subic. Dalam prosesnya, tuan rumah keberatan dan memutuskan untuk mengubah jadwal pesta olahraga untuk atlet difabel itu menjadi 20-28 Maret. Alasannya karena anggaran.

Kini, tuan rumah kembali mengambil keputusan untuk memundurkan jadwal karena virus corona. Seperti diketahui, Filipina menjadi salah satu negara yang terkena dampak virus yang sudah memakan korban jiwa pertama di luar China.

Alhasil, persiapan atlet pun meniadi molor dan tidak jelas. Salah satu yang terkena dampak adalah para atlet tenis meja. Pelatih tenis meja National Paralympic Committee (NPC) Indonesia, Bayu Widi Hapsara Purba, mengatakan dirinya harus banyak memberikan motivasi kepada para atlet.



Sebab penundaan ini juga bisa berdampak pada mental atlet. Selain latihan rutin, pelatih juga memberikan wahana permainan untuk mereka. Atlet bisa bermain headis dan tenis meja kecil untuk sejenak menghilangkan rasa jenuh.

"Takutnya mengalami kejenuhan. Ini ada fun games biar anak-anak selalu happy. Karena pelatnas hampir satu tahun ini, ASEAN Para Games sudah diundur dua kali," kata Bayu di lokasi latihan Hartono Trade Center, Sukoharjo, Kamis (27/2/2020).

Ada dua permainan yang disiapkan khusus oleh produsen meja tenis Shiamiq, yakni Headis dan tenis meja mini. Keduanya tak jauh beda dengan permainan pingpong, namun lebih bersifat menghibur. Namun hingga saat ini, Bayu menilai para atlet masih dalam kondisi stabil. Dia yakin mereka tetap bersemangat menyambut ASEAN Para Games dan kompetisi lain.

"Ini permainan tapi tidak lepas dari pingpong. Karena memang tiap hari itu harus mukul. Nggak bisa kalau sehari nggak pegang, feelingnya beda," ujarnya.

"Kalau mental sih saya lihat anak-anak masih stabil. Karena mereka juga masih ada yang mau kualifikasi Olimpiade juga."



Sementara itu, atlet tenis meja David Jacobs mengatakan pelatnas kali merupakan pelatnas terlama yang pernah dia ikuti. Dia juga mengaku seringkali harus melawan kejenuhan.

"Latihan setiap hari pasti ada mungkin capek, jenuh, tapi kita harus lawan rasa-rasa itu. Karena memang kita di sini tugas negara dan punya target di ASEAN Para Games," tutur Jacob.

Selain bermain headis dan tenis meja mini, para atlet kerap melepas rasa penat dengan makan malam bersama. Dalam acara makan malam, sering juga mereka bernyanyi bersama.

"Kalau enggak nyanyi bersama, ya santai-santai gitu. Kadang kalau saya sendiri di Solo, habis latihan ya nonton. Pernah juga menyempatkan pulang," tutupnya.



Simak Video "Update! Kasus Corona di RI Tambah 4.494 Per 26 September"
[Gambas:Video 20detik]
(bai/mrp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksport.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com