Bikin McGregor Ambruk, Seberapa Bahaya Jurus Tendangan Betis?

Afif Farhan - Sport
Selasa, 26 Jan 2021 14:35 WIB
SHENZHEN, CHINA - AUGUST 31:  (R-L) Kai Kara-France of New Zealand kicks Mark De La Rosa in their flyweight bout during the UFC Fight Night event at Shenzhen Universiade Sports Centre on August 31, 2019 in Shenzhen, China.  (Photo by Zhe Ji/Getty Images)
Seberapa Bahayanya Jurus Tendangan Betis di UFC? (Getty Images)
Jakarta -

Tendangan betis jadi jurus ampuh Dustin Poirier mengalahkan Conor McGregor di UFC. Seberapa bahayanya sih, tendangan betis itu?

UFC 257 di Fight Island, Abu Dhabi, Minggu (24/1) menyajikan duel Dustin Poirier vs Conor McGregor sebagai suguhan utama. Dua petarung di peringkat teratas UFC kelas ringan saat ini.

Dustin Poirier mampu menuntaskan pertarungan di ronde kedua. Conor McGregor dibuat TKO, setelah dihajar permainan atas bertubi-tubi.

Selain boxing yang gemilang, satu lagi jurus andalan Dustin Poirier. Jurus bernama calf kick alias tendangan betis!

Tendangan betis Dustin Poirier masuk sebanyak 18 kali dari 21 percobaan. Conor Mcgregor cuma dua kali.

Tendangan betis merupakan jurus yang bisa ditemui di olahraga Muay Thai dan juga Kick Boxing. Sesuai namanya, tendangan betis adalah mengincar betis lawan dalam pertarungan atas.

Tendangan betis memang tidak sekeren tendangan berputar atau head kick. Meski begitu, tendangan betis adalah jurus yang simpel dan efektif serta sulit ditepis

Dilansir detikSport dari berbagai sumber, petarung yang hendak melakukan tendangan betis tidak membutuhkan jarak. Selagi posisi stand up, betis terdekat lawan menjadi incaran.

Bayangkan Anda dalam posisi duel dengan petarung lain dan sama-sama bertipe ortodoks (kaki kiri di depan). Maka Anda cuma butuh mengayunkan tempurung kaki kanan ke betis kiri lawan.

Atau, Anda juga bisa bergerak selangkah ke kiri lalu mengayunkan kaki kiri (kaki depan) mengincar betis kiri lawan. Hal ini juga berlaku ketika lawan Anda bertipe southpaw.

SHENZHEN, CHINA - AUGUST 31:  (R-L) Kai Kara-France of New Zealand kicks Mark De La Rosa in their flyweight bout during the UFC Fight Night event at Shenzhen Universiade Sports Centre on August 31, 2019 in Shenzhen, China.  (Photo by Zhe Ji/Getty Images) (Getty Images)

Tendangan betis begitu efektif karena sulit terlacak oleh lawan. Biasanya para petarung yang melakukan tendangan betis, akan mengajak lawan berduel boxing.

Begitu perhatian lawan terpusat melindungi area atas tubuhnya (kepala), barulah tendangan betis dilancarkan. Persis seperti yang Dustin Poirier lakukan ke Conor McGregor.




Seberapa bahayanya tendangan betis?

Tendangan betis punya dampak yang cukup mengerikan. Tendangan betis mengincar saraf peroneus yang mengendalikan otot untuk mengangkat kaki. Saraf ini terletak di permukaan kulit pada bagian samping lutut yang menjalar sampai ke telapak kaki.

Tendangan betis juga mengincar tulang betis alias tulang fibula. Fungsi fibula adalah adalah sebagai tulang penyangga yang juga memperluas kemampuan gerak pergelangan kaki dan keseimbangan tubuh.

Tulang betis yang terus dihantam akan membuat lawan kesulitan untuk berdiri atau disebut juga dengan istilah foot drop. Keseimbangannya akan goyah dan kemudian lebih mudah untuk ditaklukkan.

Betis yang terus dihantam akan berakibat cedera. Bisa menjadi bengkak, paling parah bisa remuk tulang fibulanya sehingga sulit berjalan.

Tendangan BetisKaki petarung UFC yang sebelah kiri bengkak akibat menerima banyak tendangan betis (Twitter)

Tendangan betis tidak cukup hanya dilontarkan sekali dua kali. Petarung harus berkali-kali melakukannya demi membuat lawan jatuh.

Cara untuk mengantisipasi tendangan betis adalah dengan memutar kaki dan meredam tendangan betis lawan dengan tulang kering, atau bisa juga bergerak mundur. Namun tentu, timing-nya harus tepat dan cepat.

Tendangan betis merupakan jurus andalan beberapa petarung top UFC. Sebuah jurus yang ampuh untuk mengalahkan lawan, yang sekali lagi, simpel dan efektif.

(aff/krs)