Kemenpora-BKKBN Kerja Sama Cegah Stunting untuk Lahirkan Atlet Unggul

Yudistira Imandiar - Sport
Senin, 10 Mei 2021 16:34 WIB
Kemenpora & BKKBN
Foto: Kemenpora
Jakarta -

Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) menjalin kerja sama dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Kedua pihak meneken nota kesepahaman (MoU) terkait upaya pengentasan masalah stunting untuk mencetak atlet unggul di masa depan.

MoU telah ditandatangani oleh Menteri Pemuda dan Olahraga Zainudin P. Amali dan Kepala BKKBN dr. Hasto Wardoyo di Gedung Kemenpora, Jakarta, Senin (10/5/2021).

Zainudin menyampaikan, Presiden Joko Widodo menaruh perhatian besar terhadap pencegahan stunting di Indonesia. Hal itu dinilai amat penting bagi Indonesia yang akan menyambut bonus demografi di tahun 2045. Generasi bebas stunting akan membuat Indonesia bisa memanfaatkan momentum bonus demografi untuk menggapai kejayaan.

"Stunting ini bukan hanya menjadi problem dari BKKBN saja, tetapi menjadi problem bangsa. Bahkan tadi saya baru dengan persentasenya cukup besar. Itu juga akan berpengaruh kepada kegiatan-kegiatan khususnya bagi pengembangan sumber daya manusia yang unggul, kompetitif, yang berdaya saing," ujar Zainudin usai penandatanganan MoU.

Menteri kelahiran Gorontalo itu menekankan setiap individu di Tanah Air mesti berperan dalam upaya pencegahan stunting. Para pemuda khususnya, mesti memahami latar belakang dan penyebab stunting, sehingga dapat mencegah anak-anak mereka mengalami stunting.

"Bonus demografi harus benar-benar bermanfaat buat bangsa ini. Jangan sampai itu nantinya menjadi beban dan mudharat bagi bangsa ini. Hal-hal yang memungkinkan kita benahi di hulunya, karena urusan stunting ini adalah urusan hulu yang menjadi tanggung jawab kita semua. Kalau hulunya baik, maka pasti tengah dan hilirnya baik," papar Zainudin.

Ia menambahkan lahirnya generasi yang sehat akan berdampak baik bagi dunia olahraga di Indonesia. Generasi yang unggul akan melahirkan atlet-atlet berprestasi yang siap mengharumkan Indonesia dari kegiatan olahraga.

"Kami dari Kementerian Pemuda dan Olahraga tentu sangat berkepentingan khususnya penanganan para remaja para pemuda, baik itu remaja dan pemuda secara umum, maupun mereka yang dalam kategori atlet. Karena kalau talentanya di awal tidak bagus tentu itu akan bermasalah terhadap prestasinya," ulas Zainudin.

Kepala BKKBN dr. Hasto Wardoyo menjelaskan masalah stunting sangat dipengaruhi oleh latar belakang orang tua. Remaja usia belia berusia 16-17 tahun yang hamil akan terganggu pertumbuhan tulangnya, sekaligus melahirkan anak yang berpotensi stunting.

"Kita tahu bahwa remaja putri yang kawin dan hamil pada usia 16-17 tahun berhentilah pertumbuhan tulangnya, sehingga dia berhenti puncak kepadatan tulangnya, dan berhenti juga puncak kepanjangan tulangnya sehingga dia pasti menjadi orang yang pendek. Dan kemudian menurunkan generasi yang pendek, dan ini tentunya mempengaruhi prestasi dalam keluarga," urai Hasto.

Adapun program-program yang akan dikerjasamakan oleh Kemenpora dan BKKBN akan dibahas lebih rinci setelah penandatanganan MoU. Menpora menegaskan kerja sama yang dijalin akan fokus pada program-program pengembangan dan pembinaan pemuda untuk mencetak generasi yang unggul dan berdaya saing tinggi.

"Apa yang akan kita rumuskan dalam bentuk-bentuk kerja sama itu tentu kita akan duduk kembali, mendetailkan mengelaborasi apa yang sudah kita sepakati. Tapi yang jelas secara garis besar kita sudah bisa mendapatkan gambaran bahwa mengatasi perkawinan usia dini, mengatasi masalah-masalah keluarga, dan juga masalah-masalah bagaimana kita mendapatkan talenta yang sehat bebas dari stunting," jelas Zainudin.

Simak juga 'Cari Talenta Atlet, Menpora Akan Bikin 10 Sentra Pemusatan Latihan di Daerah':

[Gambas:Video 20detik]



(mul/mpr)