Kronologi Kemenpora Tahu Kontroversi Raffi-Nagita Jadi Ikon PON Papua

Mercy Raya - Sport
Jumat, 04 Jun 2021 20:00 WIB
Raffi Ahmad dan Nagita Slavina saat ditemui di kawasan Antasari.
Kronologi Kemenpora Tahu Kontroversi Raffi-Nagita Jadi Ikon PON Papua (Pool/Noel/detikFoto)
Jakarta -

Penunjukan pasangan selebritis Raffi Ahmad dan Nagita Slavina sebagai ikon Pekan Olahraga Nasional (PON) jadi kontroversi. Kabar tersebut bahkan lebih dulu sampai ke Kantor Staf Presiden.

Hal itu diungkapkan Sekretaris Kemenpora, Gatot S. Dewa Broto, yang mengatakan KSP sudah mengetahui adanya pemberitaan tersebut sejak Senin (31/5/2021).

Saat itu, Deputi V bidang politik, hukum, keamanan, dan HAM Kantor Staf Presiden, Jaleswari Pramodhawardani, menanyakan terkait usulan penunjukan Raffi dan Nagita sebagai duta PON kepada Gatot melalui pesan Whatsapp.

"Jadi pertama kali kami tahu itu Senin lalu. Kami ditanya oleh Deputi V dari KSP, Bu Dani. Beliau bertanya soal pemberitaan itu dan kami (Kemenpora) jawab tidak tahu," buka Gatot kepada detikSport, Jumat (4/6/2021).

"Kemudian, saya berkomunikasi dengan Kadispora Papua, Pak Alexander Kapisa, dan ternyata beliau juga kaget dan kayaknya kurang berkenan juga (dengan penunjukkan tersebut). Lalu saat itu juga, saya laporkan kepada Menpora (Zainudin Amali) dan beliau juga kaget. Kemudian bergulir-bergulir sampai puncaknya kemarin muncul di media jika Raffi dan Nagita hanya ikon, dutanya adalah Boaz Solossa" dia menjelaskan.

Kontroversi penunjukan Raffi dan Nagita kian masif juga salah satunya dipicu dari unggahan komika Arie Kriting mengkritisi penunjukkan Nagita dan Raffi sebagai ikon PON XX Papua melalui akun Instagram pribadinya.

Ia mengunggah tangkapan layar Nagita yang mengenakan pakaian tradisional Papua sekaligus menuliskan pendapatnya terkait penunjukkan Nagita sebagai Duta PON.

Ia menjelaskan bahwa penunjukan Nagita sebagai ikon pada akhirnya akan mendorong terjadinya cultural appropriation. Seharusnya sosok perempuan Papua, dipresentasikan langsung oleh perempuan Papua. Unggahan itu pun menuai pro kontra dari warganet. Bahkan, pemerintah pusat melalui Menpora Zainudin Amali ikut angkat bicara.

"Intinya bahwa kami sangat menyayangkan. Memang betul bahwa PON miliknya Indonesia. Tapi poin yang ingin kami sampaikan seharusnya PB PON punya kepekaan. Tidak bisa PON Papua disamakan sepenuhnya dengan PON yang lain," kata Gatot.

"Dulu di PON Jawa Barat (2016) saja dutanya, ikonnya adalah warga Sunda. Lalu di Kalimantan Timur juga sama. Nah, Raffi dan Nagita tak salah, jangan disalahkan ya, cuma memang tak ada tokoh Papua yang bisa dijadikan ikon? Kan banyak. Atlet segambreng, artis ada, tokoh masyarakat juga ada," Gatot menegaskan.

"Jadi poinnya, situasi politik kadang-kadang up and down di Papua. Jadi jangan diperkeruh oleh hal-hal yang melukai perasaan orang Papua itu sendiri. Jadi kronologinya seperti itu."

Sesmenpora Gatot S Dewa BrotoSesmenpora, Gatot S Dewa Broto (Dok. Kemenpora)

Tak hanya itu, Gatot juga menyayangkan sikap PB PON yang tak melaporkan terkait adanya penunjukan tersebut, meskipun kewenangan ada di tangan panitia penyelenggara.

"Memang tidak ada hal itu (persetujuan harus dari Kemenpora atau tidak) karena sepenuhnya kewenangan panitia penyelenggara. Dan tak ada ketentuan untuk melaporkan (ke Kemenpora) juga. Tapi salah satu kunci sukses sebuah event itu kan ada koordinasi dan komunikasi," ujarnya.

"Sebab, masyarakat kan tahunya begitu PON pasti Kemenpora. Tapi saya jelaskan ini tak ada hubungannya dengan Kemenpora, wong kami tidak tahu, tak diajak (untuk penunjukan tersebut)," katanya.

Beda Ikon dan Duta

Persoalan Raffi Ahmad dan Nagita Slavina pada akhirnya tak sebatas alasan penunjukan, tapi berkaitan dengan statusnya sebagai ikon. Padahal, sebelumnya sudah ada Boaz Solossa yang ditunjuk sebagai duta.

"Jangan tanya kami (soal perbedaannya). Kami tak diajak ngomong kok. Pertanyaan yang sama juga ditanya masyarakat dan wartawan, apa bedanya? wong kami belum pernah dipaparkan soal rencana itu. Bukan maksud kami lepas tangan, tapi kami sama sekali tak tahu dan itu ranahnya panitia penyelenggara," kata Gatot.

Dalam KBBI, duta diartikan sebagai orang yang diutus pemerintah (raja atau sebagainya) untuk melakukan tugas khusus, biasanya ke luar negeri. Sedangkan ikon merupakan gambar atau simbol kecil yang melambangkan satu program dalam komputer.

"Sebenarnya kami tahu yang namanya ikon apa, duta tahu. Tapi dalam konteks Papua tak ada penjelasannya. Yang kami pahami itu duta ya ambasador. Ini pakai terminologi umum ya, duta itu seperti ambasador, seorang publik figur yang digunakan untuk membantu mem-back up sosialisasi dan publikasi," Gatot menjelaskan.

"Supaya publik mengenal, 'Oh event ini tujuannya ini karena yang mempublikasi tujuannya ini. Dulu PON 2016 kan dutanya Maria Selena, efektif sekali. Kalau ikon tidak jauh dari brandingnya. Sebenarnya bedanya tipis. Makanya, waktu Asian Games 2018, kami tidak membentuk duta atau ikon, kami hanya mengenal logo dan maskot supaya tidak ada kebingungan," dia menegaskan.

(mcy/krs)