ADVERTISEMENT

Emas Thailand di Olimpiade Tokyo Jadi Tamparan buat Taekwondo Indonesia

Mercy Raya - Sport
Selasa, 10 Agu 2021 18:45 WIB
LAUSANNE, SWITZERLAND - JUNE 18: Olympic logo in front of the new Olympic House of International Olympic Committee on June 18, 2019 in Lausanne, Switzerland. (Photo by Robert Hradil/Getty Images)
Emas Thailand di Olimpiade Tokyo Jadi Tamparan Taekwondo Indonesia. Foto: Getty Images/Robert Hradil
Jakarta -

Lamting, eks pelatih nasional taekwondo, menyesalkan atlet Indonesia yang kehilangan kesempatan tampil di Olimpiade Tokyo 2020. Padahal ada peluang dapat medali.

Diketahui, atlet taekwondo Thailand Panipak Wongpattanakit berhasil meraih medali emas di Olimpiade Tokyo 2020 yang telah berlangsung pada 23 Juli sampai 8 Agustus lalu. Keberhasilan Panipak pun mendapat sorotan khusus dari Lamting.

Lamting merasa jika saja atlet Indonesia, Mariska Halinda, berhasil lolos ke Olimpiade Tokyo 2020 maka potensi merusak persaingan taekwondo di kelas 49 kg bisa terjadi. Bahkan berpeluang medali.

Bagaimanapun, Mariska yang pernah menempati posisi tiga Kejuaraan Asia 2018 memiliki potensi lolos Olimpiade dan punya kans besar untuk merusak peta persaingan di nomor tersebut.

"Mariska itu bukan hanya berpeluang lolos tetapi bisa bersaing dengan atlet taekwondo asal Thailand, Panipak Wongpattanakit yang menjadi taekwondoin pertama dari Thailand yang mencuri medali emas di Olimpiade Tokyo 2020," ujar Lamting ketika dihubungi pewarta, Selasa (10/8/2021).

"Mariska juga punya rekam jejak mumpuni karena pernah mengalahkan rekannya Kompatriot Panipak, Phannapa Harnsujin saat bersaing di kelas 53kg Asian Open, Hochiminh City, di mana pada turnamen itu Mariska membawa pulang medali perunggu."

Namun, ia menyoroti kelalaian Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PB TI) dalam mengurus administrasi kualifikasi Olimpiade. Ia bahkan menilai kejadian ini merupakan sejarah buruk taekwondo Indonesia yang harus dipertanggungjawabkan.

"Atlet taekwondo Australia saja sampai mencari dana sendiri untuk membiayai keperluannya agar bisa tampil di Olimpiade. Masa tiga atlet taekwondo Indonesia yang sudah dibiayai APBN tidak bisa tampil di babak kualifikasi Olimpiade hanya karena masalah administrasi. Ini kesalahan terbesar yang tidak bisa ditolerir dan menjadi sejarah buruk taekwondo Indonesia yang harus dipertanggung jawabkan kepada masyarakat taekwondo dan juga pemerintah," kata Lamting.

Indonesia berpotensi meloloskan atlet taekwondo di nomor kyorugi (tarung) ke Olimpiade Tokyo. Namun, tiga taekwondoin Indonesia yang disiapkan PB TI yaitu Mariska Halinda (kelas -49kg putri), Muhammad Basam Raihan (-58kg putra) dan Adam Yazid Ferdiansyah (-68kg putra) batal mengikuti Turnamen Kualifikasi Olimpiade di Amman, Yordania, 21-22 Mei 2021 karena masalah administratif.

Ketiga atlet yang sudah berada di Amman tidak diperbolehkan tampil oleh panitia karena pendaftaran yang dilakukan pengurus PB TI dilakukan secara manual. Padahal, panitia penyelenggara mewajibkan peserta yang tampil teregistrasi secara daring.

"Kalau tidak lolos babak kualifikasi karena mengalami kekalahan dalam pertandingan itu wajar. Tapi, mereka datang ke Amman dan tidak bisa bertanding. Itu yang paling menyedihkan. Saya bisa merasakan kekecewaan mereka yang sudah kehilangan kesempatan tampil di Olimpiade Tokyo 2020," ungkap mantan atlet yang juga sekaligus menjadi bintang sinetron laga ini.

Menurut Lamting, potensi tiga atlet taekwondo Indonesia untuk bisa lolos cukup terbuka. Apalagi Merah Putih sudah pernah memiliki wakil yang tampil di Olimpiade, yakni Juana Wangsa Sydney 2000. Pada penyelenggaraan Olimpiade selanjutnya di Athena, Juana bahkan tampil membawa Merah putih bersama Satriyo Rahadhani (-58kg).

(mcy/krs)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT