Perdana Dipertandingkan di Paralimpiade, Parabadminton Andalan RI Emas

Mercy Raya - Sport
Senin, 16 Agu 2021 14:30 WIB
parabadminton menuai emas pertama untuk Indoensia di Asian Para Games 2018, Minggu (7/10).
Parabadminton menjadi andalan mendulang emas di Paralimpiade Tokyo 2020. (Foto: Agung Pambudhy/detikSport)
Jakarta -

Cabang olahraga parabadminton untuk kali pertama dipertandingkan di Paralimpiade Tokyo 2020. Atlet Indonesia langsung diandalkan meraih emas.

Setelah sempat menjadi cabang olahraga eksibisi, parabadminton kini mentas di Paralimpiade edisi ke-16. Selain parabadminton ada juga cabor para taekwondo.

Wakil Sekretaris Jenderal Komite Paralimpiade Nasional (NPC) Indonesia Rima Ferdianto mengatakan parabadminton akhirnya dipertandingkan di Paralimpiade setelah melalui berbagai proses.

"Yang jelas tak secepat empat tahun tapi lebih dari itu usulannya. Jadi parabadminton itu meskipun favorit di Olimpiade tapi belum sepepuler di Paralimpiade. Saat itu, National Federation (NF) juga belum punya atlet banyak," kata Rima kepada detikSport.

"Selain itu, ada juga aturan khusus jika ingin dipertandingkan. Jadi cabor harus diusulkan lebih dulu, kemudian International Federation (IF) yang membawahi cabor harus sehat, dan NF yang membina cabor itu juga banyak. Jika sudah memenuhi usulan itu lalu dibahas di general assembly dan diputuskan dipertandingkan. Usulannya delapan tahun lalu kalau tak salah. Lalu biasanya ada eksibisi dulu baru dipertandingkan," dia menjelaskan.

Kehadiran parabadminton di Paralimpiade Tokyo 2020 pun seakan menjadi angin segar untuk Indonesia. Bagaimana tidak, hampir semua atletnya merupakan pemain-pemain top dunia.

Di multievent terbesar di dunia yang dikhususkan untuk atlet difabel ini, Indonesia meloloskan tujuh pebulutangkis dari 23 wakil yang akan tampil di Paralimpiade.

Mereka ialah Fredy Setiawan (tunggal putra SL4), Hari Susanto (tunggal putra SL4, ganda campuran SL3, SL4/SU5), Dheva Anrimusthi (tunggal putra SU5), Leani Ratri Oktila (tunggal putri SL4, ganda putri SL3, SL4/SU5, ganda campurab SL3, SL4/SU5), Khalimatus Sa'diyah (tunggal putri SL4, ganda putri SL3), Ukun Rukaendi (tunggal putra SL3), dan Suryo Nugroho (tunggal putra SU5).

Ketujuhnya menjadi andalan Indonesia untuk mengumpulkan pundi-pundi medali di Tokyo. Hal ini wajar mengingat ketujuhnya merupakan penghuni top 10 dunia. Bahkan beberapa di antaranya merupakan juara dunia.

Sebut saja Leani dan Dheva merupakan pemain ranking 1 dunia di sektor tunggal putri SL4 dan tunggal putra SU5, dan Suryo yang menempati peringkat 3 tunggal putra SU5.

Sementara di ganda campuran SL3-SU5 Leani menempati peringkat satu bersama Hari Susanto. Sedangkan di nomor ganda putri Leani bersama Khalimatus menempati ranking 1 dunia.

"Empat tahun lalu (Paralimpiade Rio 2016) tidak ada bulutangkis makanya kami tidak pernah emas. Tapi ini begitu ada bulutangkis, kami yakin minimal satu medali emas. Kami punya empat juara dunia," kata Rima.

Meskipun begitu, Rima tak ingin jemawa. Berkaca di Olimpiade Tokyo banyak unggulan bulutangkis tumbang, termasuk ganda putra andalan Indonesia Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon, serta Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan yang gagal meraih medali emas. Kendati akhirnya diselamatkan oleh ganda putri Greysia Polii/Apriyani Rahayu yang mampu menorehkan tinta emas dan mengukir sejarah.

"Kita lihat Olimpiade unggulan 1 dan 2 tumbang makanya kami tak membebani harus emas, ya satu emas saja biar tak terlalu terbebani. Kami tak mau mereka kepikiran," ujarnya.

"Sebenarnya kami yakin mereka mampu tiga emas cuma kalau kami bebani nanti atlet tersebut terbeban. Jadi satu emas saja, biar nanti mereka yg main saja dengan perfomanya," dia menegaskan.



Simak Video "Momen Video Call Jokowi Bersama Peraih Medali Emas Paralimpiade Tokyo"
[Gambas:Video 20detik]
(mcy/cas)