KOI Siap Bantu Cari Solusi soal Ancaman Sanksi Badan Antidoping

Mercy Raya - Sport
Jumat, 08 Okt 2021 19:35 WIB
Ketua Komite Olimpiade Indonesia, Raja Sapta Oktohari, meminta dukungan untuk atlet Indonesia di Olimpiade Tokyo 2020 lewat medos.
Ketua Komite Olimpiade Indonesia, Raja Sapta Oktohari. (Foto: dok.Istimewa)
Jakarta -

KOI ikut angkat bicara terkait ancaman sanksi dari Badan Anti-Doping Dunia (WADA) terhadap Indonesia. KOI siap bantu mencarikan solusi.

Laman resmi WADA, 7 Oktober 2021, menyatakan lima Organisasi Anti-Doping (ADO) tidak patuh terhadap Kode Anti Doping Dunia, yaitu Badan Anti-Doping Korea Utara, Badan Anti-Doping Thailand, Lembaga Anti-Doping Indonesia (LADI), serta dua federasi Internasional yakni Federasi Bola Basket Tuna Rungu Internasional (DIBF) dan Federasi Olahraga Gira Internasional (IGSF).

Dalam keterangan tersebut, Badan Anti-Doping Korea Utara dan Indonesia dianggap tidak patuh dalam mengimplementasikan program uji doping yang efektif. Akibatnya, Indonesia potensial kehilangan hak-haknya di olahraga internasional hingga status LADI dipulihkan kembali.

"Komite Olimpiade Indonesia (KOI) menyesalkan kejadian ini bisa terjadi. Meski ini bukan ranah kerja KOI, kami turut prihatin karena dampak yang ditimbulkan memengaruhi peran Indonesia di olahraga Internasional. Kami akan segera berkoordinasi dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga untuk membicarakan masalah ini," kata Ketua KOI Raja Sapta Oktohari dalam keterangan tertulisnya, Jumat (8/10/2021).

"Kami sangat menghargai LADI dalam menyelesaikan urusan-urusan pekerjaannya. Kami berharap masalah ini bisa terselesaikan segera," kata Okto.

"Namun, ini menjadi pelajaran kita bersama. Ketika kita ingin berprestasi di level dunia, sudah sepatutnya kita mengikuti aturan Internasional, olahraga punya otoritas tertinggi yakni Komite Olimpiade Internasional (IOC) yang memiliki bidang-bidang khusus seperti WADA. Jika ada aturan dilanggar, bisa memberikan sanksi fatal bagi Indonesia sehingga sudah sepatutnya kita menghormati aturan tersebut."

[Halaman selanjutnya: Agar atlet Indonesia tidak seperti kontingen Rusia di Olimpiade Tokyo]

Sehubungan itu, KOI sebut Okto, akan membantu bila ada yang diperlukan demi keamanan olahraga Indonesia.

"Semaksimal mungkin dalam ranah kami untuk apa yang bisa kami kerjakan. Namun, masalah ini harus ditanggapi dengan segera. Jangan sampai Indonesia tampil di multievent seperti Rusia saat di Olimpiade 2020 Tokyo karena Merah putih merupakan kebanggaan kita dan bisa mengumandangkan Indonesia Raya di negeri orang itu menjadi kebanggaan tersendiri," ujarnya.

Saat itu, Rusia tampil di Olimpiade Tokyo tanpa menggunakan bendera negara, melainkan bendera Komite Olimpiade Rusia (NOC Rusia). Hal ini dikarenakan Negeri Beruang Merah masih menjalani sanksi doping yang didukung oleh negara.

Indonesia tercatat akan menggelar kejuaraan single event Internasional hingga akhir tahun ini. Di antaranya, PBSI menggelar Indonesia Masters (16-21 November), Indonesia Open (23-28 November), dan BWF World Tour Finals 2021 (1-5 Desember).

Selain itu, agenda padat juga menanti Indonesia pada 2022, yakni Asian Indoor & Martial Art Games (10-20 Maret), SEA Games (Mei), Islamic Solidarity Games (9-18 Agustus), Asian Games (10-25 September), Asian Youth Games (20-28 Desember).

"Kita harus pikirkan bersama bagaimana agar agenda yang telah disusun National Federation ini tidak terganggu. Apalagi atlet kita sudah menyiapkan diri sejak jauh-jauh hari," kata Okto.

"Komite Olimpiade Indonesia akan membantu semaksimal mungkin dalam ranah kami untuk apa yang bisa kami kerjakan. Namun, masalah ini harus ditanggapi dengan segera. Jangan sampai Indonesia tampil di multi event seperti Rusia saat di Olimpiade 2020 Tokyo karena Merah putih merupakan kebanggaan kita dan bisa mengumandangkan Indonesia Raya di negeri orang itu menjadi kebanggaan tersendiri."

(mcy/krs)