Odekta Dulu Balas Dendam kepada Kemiskinan Kini Berlari untuk Tuhan

Femi Diah - Sport
Minggu, 10 Okt 2021 12:15 WIB
Pelari DKI Jakarta Odekta Elvina Naibaho finis pertama pada nomor marathon atletik PON XX Papua di kawasan Kuala Kencana, Mimika, Sabtu (9/10/2021). PB PON XX Papua / Rommy Pujianto
Odekta Elvina Naibaho, berlari untuk Tuhan. (Foto: dok.PON Papua/Rommy Pujianto)

Semua gara-gara Triyaningsih

"Kok bisa gampang banget dapat uangnya kak Triyaningsih sekali lari dapat Rp 25 juta, dapat Rp 30 juta. Saya ingin seperti dia," kata Odekta di tahun 2015 itu.

Keinginan itu bukan perkara gampang. Dia baru mengenal lari pada 20012. Dia menjadikan lari sebagai alat untuk menurunkan berat badan.

Sebelumnya, dia tidak pernah tahu apa itu kejuaraan daerah, apa itu klub atletik, apa itu perlombaan mengejar medali emas. Yang dia tahu, waktunya hanya untuk bermain, sekolah, dan pergi ke ladang.

Saat pertama kali lari, Odekta terkejut karena dia sering dilewati oleh ibu-ibu yang berlari bersamanya. Baru berlari satu putatan di ring road Stadion Utama GBK, dia sudah ngos-ngosan.

Odekta memang tidak memiliki pengalaman berlatih lari atau cabang olahraga apapun hingga dia tiba di Jakarta pada 2012. Saat itu, dia nekat meninggalkan kampung halamannya dengan satu semangat: memutus rantai kemiskinan keluarga lewat pendidikan.

Lulus dari SMA di Soba Dairi, Sumut dia ngotot ke Jakarta. Dia membobol tabungan yang isinya Rp 400 ribu. Dia juga minta uang kepada keluarga Rp 1 juta.

Bukan perkara mudah untuk meminta uang itu. Odekta dan keluarga sempat beradu mulut. Mereka berbeda keyakinan soal menentukan nasib di masa depan. Keluarganya bersikukuh perbaikan ekonomi keluarga cuma dapat dicapai lewat berladang, sedangkan Odekta meyakini sekolahlah caranya.

Singkat cerita, Odekta berhasil mendapatkan uang itu dan membeli tiket kapal ke Jakarta. Soal hidup di Jakarta, dia yakin bisa mendapatkan penghasilan dengan kuliah sambil bekerja.

Sesampai di Jakarta, Odekta melamar pekerjaan apapun. Tidak mulus, hingga suatu hari dia diterima menjadi salah satu pekerja di sebuah usaha simpan pinjam di Bogor. Bekerja setahun, Odekta bisa mengumpulkan uang Rp 12 juta. Dia pun percaya diri mendaftar kuliah di Universitas Kusuma Negara, Jakarta. Saat mau kuliah, dia mau dengan berat badannya.

"Saat itu, aku merasa gemuk. Jadilah ingin lari-lari biar agak kurus," kata Odekta.