Kisah Partin, Peraih Tiga Emas Peparnas 2021 yang Diarak di Kampung Halaman

Eko Susanto - Sport
Kamis, 18 Nov 2021 09:00 WIB
Partin memamerkan koleksi medali yang ia raih di Peparnas Papua 2021.
Partin berfoto bersama medali yang ia raih di Peparnas. Foto: Eko Susanto/detikcom
Magelang -

Atlet atletik asal Magelang, Partin berhasil mendapatkan tiga medali emas dan satu medali perak dalam Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) XVI Papua. Kepulangannya ke kampung halaman disambut meriah warga.

Di Kantor Desa Kaliangkrik, terpasang spanduk bertuliskan ucapan selamat. Selain itu, ada juga karangan bunga. Partin kemudian diarak dari kantor desa menuju rumahnya di Dusun Wonocoyo, tepatnya berada di lereng Gunung Sumbing, Selasa (16/11).

Di sana, pemuda 19 tahun ini melepas kangen dengan kedua orangtuanya, Muhlisin (46) dan Latri Musiyah (38) serta kakaknya, Nur Rifai (21) karena selama 3 bulan tidak bertemu.

PartinPartin berfoto bersama keluarga. Foto: Eko Susanto/detikcom

Bagi Partin, capaian yang ia raih menjadi gengsi tersendiri, meskipun sebelumnya ia tidak menargetkan medali. Terlebih lagi tiga medali emas tersebut tak cuma dari cabang lari, namun juga ada dari lompat jauh yang sama sekali bukan keahliannya.

"Lompat jauh di luar dugaan saya, di luar prediksi. Sebenarnya saya nggak narget, yang penting saya fokus nggak diskualifikasi karena kalau lari itu emang harus bener-bener fokus. Jadi sebelum pistol bunyi nggak boleh lari dulu, saya cuma mikir jangan sampai diskualifikasi yang penting finish. Saya cuman targetnya cuman itu, Alhamdulillah bisa mendapatkan medali tersebut," kata Partin saat ditemui di rumahnya, Rabu (17/11/2021).

Ia menceritakan, awalnya ikut lari sejak di SMK Muhammadiyah Bandongan. Saat itu, ada ektrakurikuler, kemudian memilih futsal dan lari. Namun oleh salah satu gurunya disarankan untuk untuk memilih salah satu saja.

"Terus larinya, saya ikut lari. Waktu itu, guru saya menyarankan latihan di Borobudur sama Pak Iwan. Kalau sekarang namanya Persatuan Magelang Atletik. Saya masuk 2018 akhir," tutur Partin yang menyebutkan saat kecil kaki kirinya terbakar.

Dari sinilah, Partin mengenal yang namanya National Paralympic Committee (NPC). Setelah itu, mendapatkan informasi jika akan ada lomba Pekan Paralimpik Provinsi di Solo yang sekaligus sebagai ajang seleksi.

"Saya pertama ikut dulu latihan lari, cuma joging-joging saja, nggak tahu nomor-nomornya. Saya daftar 200 meter, 400 meter sama 800 meter. Ternyata, untuk saya itu yang nomor jauh nggak ada. Mentok di 400 meter, jadi yang kecantol cuma 200 sama 400, 800 hangus. Alhamdulillah di Peparprov itu yang 200 mendapatkan perak dan 400 mendapatkan emas tahun 2018," katanya.

Setelah itu ia dipantau dan diminta untuk terus latihan. Kemudian pada tahun 2019 kembali ada Kejurprov. Ia ikut lari di nomor 100, 200 dan 400 meter. "Yang 100, Alhamdulillah dapat emas, 200 dapat emas juga, yang 400 itu nggak ada pesertanya gagal," ujar Partin.

Partin menuturkan, jika orangtuanya mendukung apa yang dilakukan. Termasuk mengizinkan Partin kos selama setahun di Solo demi untuk memudahkannya berlatih.

"Ngekos Juni 2020 sampai Juni 2021. Terus bulan Agustus dipanggil sama Jawa Tengah persiapan untuk Papua. Saya masuk tahap kedua bulan Agustus, September, Oktober, November berangkat ke Papua," tutur Partin.

"Cabor atletik ada lompat, ada lari, ada lempar. Spesialis masing-masing, saya lari nomor jarak pendek seperti 100, 200, karena juga di lompat ada peluang saya diikutkan di lompat jauh. Kalau latihan full lompat jauh nggak pernah, tapi kayak di Solo program lompat jauh pasti lama sendiri karena membutuhkan konsentrasi. Pasti lama selesai program, saya cuman ngikut-ngikut saja. Di Papua juga diikutkan di lompat, saya nggak nyangka kalau ikut lompat juga. Ikut 3 nomor yang individu, 100, 200, sama lompat jauh. Terus beregu itu, satu estafet 400 meter, tapi untuk 4 orang," lanjut dia.

Partin menuturkan, saat di Papua untuk lari 100 meter sedianya ada 8 peserta, namun akhirnya hanya 6 orang. Kemudian diberangkatkan bersama dan larinya menang. Demikian halnya yang lari 200 meter.

Pelari Jawa Tengah Partin berlomba pada final lari 100 meter putra klasifikasi T42 Peparnas Papua di Stadion Lukas Enembe, Kabupaten Jayapura, Papua, Selasa (9/11/2021). Partin memecahkan rekor nasional dengan catatan waktu 12,90 detik. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/nym.Partin berlomba pada final lari 100 meter putra klasifikasi T42 Peparnas Papua, dan memecahkan rekor nasional dengan catatan waktu 12,90 detik. Foto: ANTARA FOTO/WAHYU PUTRO A

"Contohnya seperti 100 meter itu ada 8 peserta sebenarnya, yang dua nggak berangkat, tinggal 6 diberangkatkan semua jadi langsung final, langsung menang. Itu yang 100 meter, kalau 200 meter pun sama karena peserta lintasannya cukup ya diberangkatkan langsung final, tapi untuk lompat jauh 8 peserta itu diberi kesempatan itu empat kali percobaan. Jadi setiap lompatan kan nggak mesti berhasil semua, nah diberi kesempatan empat lompatan nanti yang terjauh yang diukur. Saya cuma satu kali lompatan nggak ada yang ngejar, pelatih saya bilang udah saja. Lompat jauh 5 meter 3 cm, itu paling jauh," kata Partin, seraya menyebut tanggal 20 November harus sudah kembali ke Solo.

Sementara itu, Kepala Desa Kaliangkrik Nidaul Khusna mengatakan pihaknya melakukan penyambutan karena apa yang diraih Partin bisa menjadi motivasi dan menginspirasi warga lainnya. Selain itu, penyambutan tersebut merupakan salah satu wujud terima kasih Desa Kaliangkrik.

"Salah satu wujud terima kasih kami ke yang bersangkutan karena kita pun nggak berkontribusi apa-apa. Ya tidak hanya sekadar suport doa dari awal fasilitasi kita juga seadanya hanya suport moril kok, ternyata disana bisa mengharumkan desa kami. Jadi kami seperti punya kewajiban untuk berterima kasih, kita juga merasa bangga, pingin menunjukkan kepada warga khusus kelurahan di sini, ayuk kok di sini yang bisa kalian juga harus bisa seperti itu. Alhamdulillah antusias juga sangat bagus," ujarnya.

Lihat juga Video: Aceh-Sumut Jadi Tuan Rumah Peparnas Berikutnya

[Gambas:Video 20detik]



(adp/adp)