Three Lions Roar (2006)
Khayalan Tingkat Tinggi tentang Timnas Inggris
Judul Buku: Amukan Singa Luka [Three Lions Roar]
Judul Asli: Three Lions Roar, A Novel Of World Cup 2006
Penulis: Umut Ozturk
Penerbit: Mizan Learning Center
Halaman: 408 halaman
Terbit: 2006
Sepakbola bukan sekedar olahraga. Dia adalah bagian dari globalisasi, berkat globalisasi sepakbola, orang kini mengidentifikasi hal baru dalam dirinya. Melupakan identitas lama dan bangga dengan identitas baru, meskipun akar kesejarahan identitas barunya itu masih terbilang pendek.
Hal serupa yang mungkin dilakukan Umut Ozturk seorang novelis yang kini tinggal di Amerika. Darah Turki yang mengalir di tubuhnya tak menghalangi kecintaannya terhadap tim nasional Inggris yang baginya adalah segala-galanya. Darah Turki di tubuhnya tak menghalangi obsesinya pada timnas Inggris, sampai-sampai dia membuat sebuah novel berjudul The Three Lions Roar [selanjutnya ditulis Roar saja].
Novel ini menarik bukan karena soal timnas Inggris-nya, melainkan bagaimana Ozturk mengisahkan tokoh-tokohnya yang sangat mencintai Inggris dan sepakbolanya, justru saat dia sendiri sebenarnya adalah bagian dari perantau yang jadi warga negara Inggris.
Novel ini mengisahkan sebuah keluarga tak harmonis di kota kecil Ashington. Tokoh utamanya, John Roark, adalah pemabuk kelas berat namun penggila timnas Inggris dan Manchester United. Dia punya seorang istri bernama Katie yang kerap dia sakiti karena alasan tak sanggup memberinya anak laki-laki. John berjanji ia akan berhenti menjadi pemabuk dan berbuat kasar jika keinginannya itu tercapai. Akhirnya impiannya itu terkabulkan. Katie hamil dan memberinya anak laki-laki yang lantas diberi nama Josh Roark.
John menularkan darah gila bola kepada sang anak. Diajaknya si kecil Josh ke toko-toko sepakbola. Kamar si kecil Josh penuh dengan pernah-pernik sepakbola, khususnya tentang Manchester United dan timnas Inggris. John berharap, saat anaknya membuka dan menutup mata untuk tidur, yang dilihatnya adalah para pemain bola hebat, para pahlawan John sendiri yang diharapan juga akan jadi pahlawan bagi Josh, anaknya.
John pun sering membawa Josh hadir di Old Trafford, idolanya kala itu adalah Robby Kiel yang tenar seantero inggris. Ayahnya berharap Josh kecil mampu seperti Bobby Charlton dan Robby Kiel. Josh memang berbakat bermain bola, sejak kecil ia menunjukannya. Sayang saat bermain bola dengan ayahnya, John terkena serangan jantung dan meninggal seketika itu juga. Josh pun trauma. Ia jadi benci sepakbola. Karena bola ayahnya tiada. Kenangan soal sepakbola ingin ia buang dan lupakan selama-lamanya.
Ia meminta sang ibu, Katie, untuk pindah ke Amerika. Di Portland, Josn muda tumbuh dan besar. Di usianya 17 tahun ia menjadi seorang olahragawan yang cukup berbakat. Tapi ia tak memilih sepakbola melainkan bisbol, olahraga yang menjadi tradisi orang-orang di Negeri Paman Sam.
Namun suatu saat, berita mengejutkan datang dari Inggris. Robby Kiel menyatakan mengundurkan diri sebagai pemain Machester United, legenda itu gantung sepatu. Di Old Trafford, dikisahkan Kiel adalah dewa yang telah memberi banyak gelar bagi Manchester United. Tapi di timnas ia tak kasih apa-apa. Selama memperkuat Inggris di tiga edisi Piala Dunia, tak satupun gelar diraihnya.
Berita itu membuatnya ingat pada janji masa kecil pada ayahnya. Josh kecil memang pernah berjanji akan membawa Inggris meraih Piala Dunia. Josh ingin memenuhi takdirnya bergabung bersama Manchester United dan Timnas Inggris. Jadilah ia banting setir menjadi pesepakbola dengan memilih posisi sebagai seorang penjaga gawang. Dasar anaknya berbakat, dengan mudah dia merebut posisi kiper di sekolahnya. Dari situlah nama Josh mulai terkenal dan memancing minat Robby Kiel yang telah menjadi Pelatih Manchester United.
Berkat tempaan Kiel, Josh menjadi kiper nomor satu di Old Trafford. Posisi sebagai kiper utama timnas Inggris pun bisa diraihnya saat Kiel didapuk menukangi timnas Inggris menghadapi Piala Dunia 2006. Mudah ditebak, Josh pun diikutsertakan ke dalam skuat timnas.
Lewat Novel berjudul Three Lions Roar ini, Ozturk mampu mengejawantahkan sinisme publik terhadap Inggris yang selalu mengklaim sebagai pencetus sepakbola modern, tetapi selalu suram dalam hal prestasi. Era kejayaan timnas Inggris teramat jauh umurnya. 1966 sudah terlewat jauh, itulah terakhir kalinya Inggris menjadi juara dunia.
Novel ini memang diterbitkan jelang gelaran Piala Dunia 2006, berisikan sebuah sugesti peneguhan ramalan yang sama sekali tak terbukti nyata. Momen dikeluarkannya novel ini amatlah tepat. Bagi penggemar Inggris, era keemasan 1966 adalah forklore nyata yang kerap didendangkan dari kakek hingga cucu mereka. Sebuah kisah kerinduan yang amat mendalam.
Ketika momen Piala Dunia itu kembali datang kerinduan itu kembali disegarkan. Kerinduan untuk meraih mimpi itu yang dikonstruksikan Ozturk melalui skenario tokoh-tokoh fiksi di novel ini; John Roark, Katie, Josh Roark, dan Robby Kiel.
Ozturk menyusun novel ini dengan berbagai kisah dan romantika yang kadang terasa terlalu didramatisir. Dan dramatisasi yang paling kentara bukanlah kehidupan tokoh-tokohnya, seperti kisah Josh yang dengan terkesan mudah dalam meraih posisi kiper nomor 1 di Inggris. Dramatisasi yang paling mencolok justru terletak pada kehadiran timnas Inggris yang digambarkan begitu digdaya. Bukankah menggambarkan timnas Inggris sebagai tim hebat adalah dramatisasi yang menyedihkan?
Novel Roar adalah sejenis novel futuristik. Novel itu ditulis sebelum Piala Dunia 2006 tapi justru mengisahkan perjalanan timnas Inggris di Piala Dunia 2006 yang berlangsung di Jerman. Dengan novel itulah, Ozturk mencoba menumpahkan obsesinya terhadap prestasi timnas Inggris. Tak sanggup juara di alam nyata, bikin saja prestasi di alam fiksi. Kira-kira begitu.
Bahwa novel ini ditulis oleh seorang berdarah Turki membuat novel ini jadi menarik. Sayang sekali, Ozturk memilih karakter yang secara genetis memang berdarah anglo-saxon, bukan karakter yang dibuat sebagai tokoh dengan darah perantau atau imigran yang lantas jadi warga negara Inggris. Peluang untuk menghadirkan sepakbola sebagai situs persemaian lintas budaya jadi tak mungkin dipenuhi oleh novel ini.
Saya teringat film Sixty Six. Film yang juga diproduksi jelang Piala Dunia 2006 ini mengisahkan tentang keluarga Yahudi-Inggris yang harus menyelenggarakan bar miztvah, ritus dalam agama Yahudi untuk anak lelaki usia 12-13 tahun yang jadi momen simbolik penahbisan seorang anak menjadi orang dewasa.
Sayangnya, acara itu diselenggarakan tepat pada hari final Piala Dunia 1966 yang mempertemukan tuan rumah Inggris melawan Jerman Barat. Karena itulah banyak tamu undangan yang batal datang dengan alasan lebih suka menonton final legendaris itu di Wembley. Akhirnya, Bernie Reubens, si bocah Yahudi itu, bersama ayahnya meninggalkan rumah menuju Wembley demi mengejar pertandingan final.
Film itu dengan cukup bagus menggambarkan posisi sepakbola dalam sebuah masyarakat atau komunitas "imigran". Lewat gambaran antara final Piala Dunia dan ritus bar miztvah itulah, sutradara Paul Weiland menyodorkan sebuah pertanyaan kultural mengenai di mana posisi adat dan tradisi di hadapan sebuah budaya massa semacam sepakbola ini.
Sepakbola memang telah jadi budaya massa yang kerap kali berhasil memposisikan ulang tradisi dan adat yang berakar lama. Globalisasi sepakbola membuat batas antara yang tradisional dan yang modern, antara yang lokal dan yang global, jadi seringkali tidak relevan. Berkat sepakbola modern seperti sekarang, orang dengan mudah mengklaim memiliki kebangsaan baru. Seperti yang dilakukan sebagian orang Indonesia saat mendukung Belanda lengkap dengan atributnya di Gelora Bung Karno belum lama ini.
=====
*akun twitter penulis: @aqfiazfan dari @panditfootball








