Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Detik Insider

    Balada ala Del Amitri

    - detikSport
    Getty Images Getty Images
    Jakarta - Suatu waktu, sebelum musim panas 1998 datang, Justin Currie dan rekan-rekannya menulis sebuah lagu. Lagu bola, kata mereka. Tapi berbeda dengan lagu bola yang ingar-bingar, karya Currie dan rekan-rekannya justru berkebalikan.

    Currie dan kawan-kawannya membentuk sebuah band bernama Del Amitri. Layaknya sebuah band kebanyakan, Del Amitri mengalami gonta-ganti personel, hingga hanya meninggalkan Currie dan Iain Harvey sebagai anggota tetap sejak mereka didirikan. Dari tangan Currie dan Harvey-lah banyak lagu-lagu Del Amitri tercipta.

    Anda mungkin tidak pernah mendengar Del Amtiri. Nama mereka memang tidak bisa dibandingkan dengan band-band tenar asal British lainnya, seperti Oasis atau Radiohead misalnya. Karena mereka tidak pernah juga membuat lagu sefenomenal "Wonderwall" atau "Karma Police". Tapi, pada suatu waktu sebelum musim panas 1998 itulah Currie menuliskan sebuah balada melankolis.

    Currie kelak menjuduli baladanya dengan "Don't Come Home Too Soon". Lagunya bukan lagu cinta.. tapi soal kecintaan, kecintaan terhadap tim nasional Skotlandia yang saat itu sedang jeblok-jebloknya.

    "Don't Come Home Too Soon" berbeda dengan lagu bola kebanyakan. Berbeda dengan, misalnya, "La Copa De La Vida" milik Ricky Martin yang bernuansa fiesta, "Three Lions 98" milik Lightning Seeds yang begitu optimistis, bersemangat, dan penuh chant suporter, atau "World In Motion" milik New Order, di mana Anda bisa mendengarkan Peter Beardsley dan Paul Gascoigne bernyanyi di dalamnya plus John Barnes sedikit nge-rap.

    Anda akan menemukan "Don't Come Home Too Soon" melankolis, mengalun lambat, dan penuh sayatan biola yang terdengar sedih. Anda akan menemukan video klipnya menangkap banyak adegan dalam gerak lambat. Entah di mana bisa menemukan video itu sekarang. Yang saya ingat, video tersebut menggambarkan tim nasional Skotlandia di sebuah bandara, hendak berangkat ke Piala Dunia Prancis, dan suporter Skotlandia mengiringi kepergiannya.

    Dalam adegan-adegan yang lambat itu juga, Colin Hendry tampak menggiring bola melintasi salah sudut bandara dengan sorak-sorai suporter di belakangnya. Ini adalah lagu untuk menyemangati tim, namun dinyanyikan dengan begitu mellow.

    Mengapa demikian? Currie dan rekan-rekannya melihat kenyataan bahwa Skotlandia yang jeblok itu punya peluang yang tidak terlalu besar di Prancis 1998. Bayangkan, The Tartan Army yang sejak perhelatan 1974 tidak pernah lolos dari babak grup --dan pada 1994 tidak lolos ke Piala Dunia sama sekali-- harus berada satu grup dengan raksasa bernama Brasil, kekuatan baru bernama Norwegia, dan kuda hitam dari Afrika bernama Maroko.

    Sadar bahwa peluang timnya tidak bagus-bagus amat, Currie dkk. mendukung dengan cara yang berbeda itu. Dalam bahasa yang lebih sederhana "Don't Come Home Too Soon" adalah pesan supaya Skotlandia tidak angkat koper terlalu cepat dari Prancis. Terserah melaju sampai babak mana pun, pokoknya jangan pulang cepat-cepat. Kira-kira demikian.

    Dalam salah satu baitnya, Currie menulis bahwa apa gunanya naik ke dalam pesawat itu jika kalian (timnas Skotlandia) tidak percaya untuk mengejar mimpi. Dalam bait lainnya, dia menulis supaya tidak mendengarkan apa yang orang-orang katakan. "Just don't come home too soon.. Just don't come home too soon.." katanya setelah itu. Currie telah mengubah kecintaan setia, absurd, dan sureal seorang fans sepakbola menjadi lirik yang indah.

    Pada akhirnya, Skotlandia memang tidak melangkah jauh. Dengan diperkuat kiper tua bernama Jim Leighton, mereka takluk dari Brasil di pertandingan pertama, lalu bermain imbang melawan Norwegia, dan ditekuk Maroko di laga ketiga. The Tartan Army melewati musim panas 1998 dengan pilu. Mereka pulang tanpa kemenangan, dan pada akhirnya pulang terlalu cepat juga.

    Currie dkk. telah menunjukkan realita dalam sepakbola itu sendiri, bahwa kadang sekecil apapun peluang tim kesayangan, Anda pasti menyimpan sedikit harap di sudut hati. Harapan itu jugalah yang kadang membuat Anda tetap datang ke stadion, berteriak, atau mungkin berjingkrak-jingkrak menyemangati tim, meskipun tahu tim Anda bukanlah siapa-siapa.

    Melihat romantisme Del Amtiri dan Skotlandia, saya pun jadi teringat tim nasional Indonesia...


    ===

    *penulis adalah wartawan detikSport. Beredar di dunia maya dengan akun Twitter @Rossifinza


    (roz/din)

    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game