Pertunjukan Bernama Derby della Capitale
Secara sederhana, Derby della Capitale biasanya mentas layaknya derby sengit antara dua tim sekota atau dua tim yang dengan status rival berat. Seberapa sengit? Menurut catatan Opta, sebelum kickoff Senin (8/4) malam, selalu ada pemain yang diusir dari lapangan di delapan dari sembilan laga terakhir mereka di Seri A.
Di pertemuan pertama musim ini, dua pemain diganjar kartu merah. Daniele De Rossi dari kubu AS Roma lebih dulu diusir dari lapangan di penghujung babak pertama. Sementara di babak kedua, giliran Cristian Ledesma dari Lazio yang mendapat kartu merah.
Secara keseluruhan, dari sembilan perhelatan di Seri A sebelum perhelatan dinihari tadi, ada 14 pemain yang diusir dari lapangan. Rinciannya adalah tujuh pemain Roma dan tujuh pemain Lazio. Panas, bukan?
Derby della Capitale hanyalah salah satu contoh bahwa sepakbola terkadang memang lebih sebuah permainan. Tapi, kadang juga jadi sebuah cerita yang kemudian dituangkan dalam berbagai literatur dan naskah.
Dalam cerita-cerita yang tertuang, Derby della Capitale kerap digambarkan sebagai laga di mana Lazio dan AS Roma berusaha unjuk diri siapa penguasa kota Roma sesungguhnya. Mengenai tim bentukan penguasa dan mereka yang menentangnya. Sementara cerita lainnya akan menggambarkan bagaimana derby itu kerap dikaitkan dengan afiliasi politik, baik dari para ultras-nya hingga pemainnya.
Lakon sepakbola yang mirip play dari sebuah pertunjukan drama itu jugalah yang kemudian membuat seorang author bernama Brian Phillips membuat situs bernama Run of Play, di mana dia menuturkan sepakbola layaknya sebuah seni pertunjukan. Dengan segala latar belakang yang penuh intrik dan juga atmosfer menarik, yang tidak hanya terasa di dalam lapangan, Derby della Capitale memang layaknya sebuah play.
Kebetulan, Italia yang flamboyan itu punya wajah sepakbola yang tak ubahnya seperti sebuah pertunjukan. Semua ada di dalamnya; seni dan keindahan bermain, kepura-puraan, sampai gerak-gerik emosional para pelakunya (baca: pemain). Tidak percaya? Sebagai contoh, lihat bagaimana para Italiano kerap menggerakkan tangannya, seperti memohon, ketika wasit memberinya kartu kuning. Itu adalah siratan emosi.
Saya pun berasumsi bahwa jangan-jangan memang demikianlah orang Italia. Jika arena tempat dia bekerja adalah sebuah panggung, maka dia adalah aktornya. Sebagai seorang aktor, yang perlu dilakukan adalah memberikan sebuah pertunjukan semenarik mungkin. Di luar sepakbola, ada sosok flamboyan bernama Valentino Rossi. The Doctor punya kebiasaan untuk memberikan tontonan menghibur; ketinggalan duluan, tapi kemudian membalap lawan di depannya satu per satu. Tontonan serupa kebetulan dia tunjukkan akhir pekan lalu.
Derby della Capitale kemarin memang hanya berakhir imbang 1-1. Tapi, apa yang ditunjukkan oleh para pelakonnya bisa dibilang melebihi dua gol yang tercipta. Semuanya lengkap ada di laga itu, mulai dari gol indah, rekor, kartu merah, penalti, hingga penalti yang gagal. Layaknya sebuah pertunjukan, laga tersebut telah mengeluarkan semua act terbaiknya.
Hernanes dan Francesco Totti bisa jadi adalah protagonis masing-masing tim. Nama yang disebut pertama tidak hanya mencetak gol indah lewat sebuah sepakan dari luar kotak penalti, tetapi juga mengeksekusi sebuah tendangan penalti yang gagal, dan tak lama setelahnya membuat Roma mendapatkan penalti lantaran melanggar Miralem Pjanic.
Tendangan penalti itu kemudian dieksekusi dengan baik oleh dia yang disebut sebagai Pangeran Kota Roma, Totti. Dengan gol penalti tersebut I Pupone meraih torehan khusus. Dia menyamai rekor jumlah gol terbanyak di Derby della Capitale. Jumlah itu adalah yang terbanyak, menyamai catatan Dino da Costa dan Marco Delvecchio.
Kartu merah untuk Giuseppe Biava kemudian bak jadi pelengkap untuk pertandingan tersebut. Ah, apalagi yang bisa diminta dari sebuah pertunjukan yang lengkap?
===
* Akun twitter penulis: @rossifinza
(/)











