Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Detik Insider

    Michael Bridges dan O'Leary Babes

    Rossi Finza Noor - detikSport
    Getty Images Getty Images
    Jakarta -

    Di atas ketinggian puluhan ribu kaki, saya duduk di sebelah Michael Bridges. Entah berapa banyak orang di Indonesia yang masih mengingatnya, tapi sekitar satu dekade lalu dia adalah bagian dari Leeds United yang magis itu.

    Saya tidak lantas kebetulan berada dalam satu pesawat dan tahu-tahu duduk di sebelah Bridges. Cerita ini bermula dari anggukan setuju atas tawaran bertemu dengan Bridges dan para eks pemain lainnya di Bandung. Ketika itu para legenda Eropa itu sedang melakoni laga eksibisi melawan para bintang lokal. Tak dinyana, tawaran itu juga termasuk berangkat bareng ke Kuala Lumpur bersama mereka pada pesawat yang sama.

    Jika Jerzy Dudek, eks pemain lain yang berada dalam pesawat Air Asia itu, terkenal karena menjadi pahlawan Liverpool di Istanbul, maka saya mengingat Bridges dengan alasan yang sudah dijelaskan sebelumnya. Leeds di bawah arahan O'Leary itu memberikan banyak pelajaran. Sebuah tim yang begitu cepat naik permukaan, namun begitu cepat juga terjun bebas.

    "Kami dipanggil O'Leary Babes," ucap Bridges sembari tersenyum antusias, ketika saya menyebut-nyebut era itu. Bridges mungkin heran, di sudut Asia dan jauh dari Eropa masih ada yang bisa mengingatnya.

    Cerita magis Leeds-nya O'Leary itu mungkin terdengar klise, karena sama seperti cerita ideal dari sebuah tim kejutan; disesaki penuh pemain muda, tidak berpengalaman, dipandang sebelah mata, tetapi masih bisa tertawa di hadapan bahaya. Mulai dari AS Roma, AC Milan, Barcelona, hingga Real Madrid mereka hadapi dan beberapa di antaranya mereka taklukkan.

    "Saya ingat itu. Mereka membeli saya dari Sunderland karena (Jimmy Floyd) Hasselbaink pergi," kata Bridges. Pada musim pertamanya (1999/2000) dia kemudian mencetak 19 gol di Premier League dan jadi salah satu bintang di musim itu. Berduet dengan Alan Smith, Bridges mengantarkan Leeds finis di urutan tiga dan membawa mereka melaju sampai semifinal Piala UEFA.

    Leeds mengalahkan Roma di babak keempat, Slavia Praha di perempatfinal, sebelum bertemu Galatasaray di semifinal. Diiringi cerita tidak enak, di mana dua fans mereka tewas ditusuk di Istanbul, Leeds tersingkir setelah dua laga. Mereka kalah 0-2 di Istanbul dan bermain imbang 2-2 di Elland Road. Namun, cerita yang lebih monumental sudah menunggu mereka.

    "Musim itu kami mengalahkan Roma dan maju sampai semifinal. Tapi, setelahnya kami menghadapi Barcelona, AC Milan, lalu Real Madrid, Deportivo La Coruna. Wow... " ujar Bridges mengenang.

    Bridges memang tidak banyak bermain musim itu. Cedera menghambat performanya, seperti kemudian kariernya di Leeds pada musim-musim setelahnya. Namun, dia dengan gamblang menyebut bahwa para pemain Leeds ketika itu justru kaget sendiri atas apa yang tengah mereka alami. Menghadapi Rivaldo sebelumnya hanya ada dalam mimpi mereka saja.

    "Itu sangat sulit dipercaya. Banyak di antara kami baru berusia 18 atau 19 tahun. Tapi, kemudian kami bisa menghadapi Rivaldo, Patrick Kluivert, (Marc) Overmars. Mereka semua adalah idola kami."

    "Tapi, justru karena itu kami bilang kepada satu sama lain, kita harus mengalahkan pemain-pemain itu. Tim kami ketika itu begitu muda, cerdas, dan sangat cepat," jelasnya.



    Di fase grup, Leeds sempat mengalahkan Milan dan menahan imbang Barcelona. Mereka kemudian melaju ke fase grup kedua, di mana Madrid sudah menunggu. Tim yang ketika itu juga diisi oleh Rio Ferdinand, Ian Harte, Harry Kewell, Robbie Keane, Lee Bowyer, hingga Jonathan Woodgate itu memang tidak bisa mengalahkan Madrid, namun mereka mampu lolos ke babak perempatfinal.

    La Coruna yang jadi lawan mereka selanjutnya, mereka kalahkan dua kali. Tetapi, cerita heroik Leeds itu kemudian berakhir di tangan tim Spanyol lainnya, Valencia -- yang kemudian kalah dari Bayern Munich di partai puncak. Kendati demikian, Bridges menyebut bahwa perjalanan Leeds ketika itu sudah memberikan kenangan tersendiri bagi para suporternya. Yang dia ingat, mereka tidak pernah berhenti bernyanyi pada malam-malam di Eropa itu.

    Takdir tampak begitu indah buat Leeds. Dengan pemain-pemain yang sedemikian menjanjikan, ada kesan bahwa cepat atau lambat mereka akan merajai Premier League atau mungkin Eropa. Tapi, goresan yang tertulis setelahnya sungguh berbeda dari apa yang diharapkan. Tiga musim setelah malam-malam yang menyenangkan di Eropa itu, dengan diiringi krisis finansial akut, Leeds terdegradasi dari Premier League. Hingga kini, mereka masih berkutat di bawah sana.

    Utang yang kelewat besar tidak diiringi dengan pemasukan yang sepadan. Cerita krisis finansial ini kemudian berimbas ke mana-mana. Salah satunya adalah ketika jurnalis Guardian, David Conn, dilarang masuk ke Elland Road. Masalahnya, ketika itu Conn dan Guardian membuat laporan yang mempertanyakan kepemilikian Leeds. Singkat kata, Conn menduga bahwa siapa pemilik Leeds ketika itu tidak jelas.

    Alhasil, Leeds terpaksa menjual pemain. Salah satunya adalah Rio Ferdinand yang akhirnya hijrah ke Manchester United, yang mana membuatnya mencetak rekor sebagai bek termahal di Inggris ketika itu. Penjualan Ferdinand juga diikuti oleh para pemain bintang lainnya. Leeds pun terjun bebas dan tenggelam.

    "Semuanya karena uang. Uang jugalah yang membuat perbedaan begitu besar di Premier League saat ini. Kamu bisa melihatnya, tim kuat semakin kaya sementara yang lainnya kesulitan."

    "Mungkin sedikit berbeda dengan Queens Park Rangers. Mereka tidak stabil karena banyak pemain baru masuk dan belum cukup berbaur. Tunggulah satu atau dua musim lagi ketika mereka sudah berbaur. Saya harap, mereka tidak kena degradasi karena di sana ada Harry Redknapp dan mereka punya pemain-pemain hebat," ujar Bridges.

    Leeds saat ini masih berkutat di Divisi Championship dan tidak sedikit pun menyentuh papan atas di divisi itu. Mereka tersendat di papan tengah dan entah kapan akan bisa kembali ke Premier League lagi.

    "Tunggu saja. Antusiasme penonton di sana masih terjaga, mereka masih sering datang ke stadion dan memberikan pemasukan untuk klub. Mungkin musim depan mereka bakal promosi," ucap Bridges tersenyum yakin.

    Dua puluh menit setelah perbincangan itu, pesawat mendarat di Kuala Lumpur. Sesuai jadwal, penerbangan ditempuh dalam waktu dua jam dan 20 menit --sebuah kepastian. Tetapi, entah kepastian seperti apa yang menanti Leeds di depan sana. Tidak ada yang tahu.




    ===


    * Penulis adalah wartawan detiksport, biasa beredar di dunia maya dengan akun twitter @rossifinza

    (roz/a2s)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game