Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Detik Insider

    Romantisme pada Sebuah Malam di Camp Nou

    - detikSport
    AFP/Javier Soriano AFP/Javier Soriano
    Jakarta - Ada banyak romantisme dalam sepakbola. Salah satu yang paling ajaib atau mungkin yang paling berkesan baru saja terjadi di Camp Nou dua malam lalu.

    Romantisme adalah sesuatu yang melenakan, mengasyikkan, mesra. Demikian yang tertera dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Oleh karenanya, tidak heran jika romantisme atau hal-hal yang berbau romantis kerap dikait-kaitkan dengan percintaan. Tapi, saya rasa, romantisme tidak melulu soal cinta.

    Menilik dari pengertiannya sebagai sebuah hal yang melenakan dan mengasyikkan, romantisme juga bisa menjadi perwujudan dari sebuah idealisme. Tidak ada yang lebih menyenangkan dan melenakan ketika segala sesuatu di dunia ini berjalan sesuai kehendak Anda, sesuai idealisme Anda. Tidak ada yang mengalahkan rasa puasnya.

    Simak bagaimana Xavi Hernandez menjabarkan romantisme sekaligus idealismenya dalam bermain bola berikut ini:

    "I'm a footballing romantic just like Cruyff. We like football that is attractive, attacking and easy on the eye. When you win playing like this its twice as satisfying."

    Mungkin bagi Xavi, bermain sepakbola sama halnya dengan menikahi wanita paling cantik di dunia; sakral, indah, tapi bisa mencumbuinya tiap malam. Begitu menyenangkan -- semenyenangkan melihat dirinya menciptakan hal-hal rupawan dengan bola di kakinya. Dari mulai passing membelah lapangan hingga mengorkestrasi benang-benang halus yang tidak terlihat, mengendalikan dan menghidupkan siapa saja yang jadi rekannya.

    Romantisme bersepakbola Xavi hidup dalam (dan menghidupi) sepakbola Barcelona, mendarah dan mendaging. Xavi, layaknya para pemegang teguh idealisme yang tidak kenal kompromi, Xavi tidak pernah membiarkan permainannya berada di bawah level dari apa yang dia jabarkan di atas. Kalaupun Barca kalah, biasanya, mereka tidak sampai kalah penguasaan bola.

    Idealisme bersepakbola Xavi menjadi refleksi permainan Barca dalam beberapa tahun terakhir. Sesuatu yang membuat tim asal Catalan itu begitu superior di Eropa, mengangkangi begitu banyak tim-tim lain -- seperti raja tiran mengangkangi para bawahan dan rakyatnya. Barca yang begitu indah dengan tiki-taka-nya itu adalah tim untuk dikalahkan.

    Jika ada sesuatu yang sudah kelewat superior dan begitu menguasai, maka pemberontakan biasanya akan terjadi senatural umur yang tiap hari berkurang. Barca memang tidak setiap tahun merajai Eropa, tapi bagaimana mereka memenangi penguasaan bola di hampir tiap pertandingan seperti sudah menunjukkan betapa sewenang-wenangnya raja itu berkuasa. Bagi para pemberontak dan mereka yang melawan, tidak ada yang lebih menyenangkan melihat sang raja balas dikerjai dengan cara yang sama.

    Barangkali memang sudah sifat alami manusia untuk senang melihat sesuatu yang begitu superior roboh. Supaya tidak stagnan. Ini adalah romantisme para pemberontak yang ironisnya muncul dari romantisme milik Barca. Romantisme yang satu ini seperti berkata, "Tidak bisa tidak, Barca harus jatuh."

    Dan begitulah, sepakbola selalu punya caranya sendiri untuk mewujudkan mimpi terliar para penikmat dan pelakonnya. Liverpool mendapatkan romantisme itu pada sebuah hari tidak terlupakan di Istanbul. Cristiano Ronaldo mendapatkannya pada sebuah malam berhujan di Moskow, sampai-sampai dia jatuh terisak di lapangan. Kini, Bayern Munich --dan mereka yang menghendaki Barca jatuh-- melihat dengan mata kepala mereka sendiri mimpi terliar itu.

    "Kamu tahu, Nak? Kami melumat mereka seperti sebuah tank," mungkin demikian cerita Bastian Schweinsteiger kepada anak atau cucunya kelak.

    Sepanjang masa di mana mereka dianggap superior itu, Barca memang bukannya tidak pernah kalah. Inter Milan sudah pernah menunjukkan pada Eropa bagaimana cara mematikan mereka. Oleh karenanya, kekalahan dari Bayern tersebut tidak serta-merta layak disebut sebagai akhir sebuah era untuk Barca.

    Tapi, kapan lagi melihat mereka dijadikan bulan-bulanan, tidak diizinkan mencetak gol, dan gawang mereka digelontor tujuh gol dalam dua pertandingan? Sang raja kehilangan hak-nya untuk berkuasa. Malam itu di Camp Nou, Bayern sudah menyempurnakan pemberontakan.

    Xavi dan Barca masih bisa menguasai bola banyak-banyak di tengah, tapi Bayern dengan jeli dan gesit mengikis tembok Barca sampai habis dari samping. Anda bisa melihat bagaimana Franck Ribery kerap turun ke lini belakang, tapi setelahnya menerima bola dan membawanya sampai nyaris garis depan. Tidak terkecuali pula dengan Arjen Robben di sisi kanan.

    Di sisi lain, Bayern bermain dengan rapat dan memasang garis pertahanan yang tinggi. Strategi ini terbukti sukses. Ketika Robben meletakkan bola ke gawang Victor Valdes dengan sepakan kakinya, maka habislah sudah Barcelona. Die Roten sudah menang bahkan sebelum pertandingan habis.

    Entah romantisme-romantisme seperti apalagi yang akan tercipta. Jupp Heynckes akan menyudahi kariernya sebagai manajer Bayern begitu musim ini selesai. Tidak ada yang lebih menyenangkan selain menutupnya dengan trofi Liga Champions, seraya mengenang momen ketika Predrag Mijatovic membobol jala Angelo Peruzzi pada 1998, momen tatkala dia membawa Real Madrid mengangkat 'Si Kuping Besar'.

    Tapi, hal serupa juga bisa terjadi pada Borussia Dortmund. Setelah sepanjang musim mengejar bayang-bayang Bayern di liga, tidak ada yang lebih menyenangkan selain mengalahkan mereka satu lawan satu di panggung paling mewah. Andai terjadi, Mario Goetze mungkin bisa pindah seraya memamerkan medali juara ke rekan-rekan setimnya musim depan. Andai terjadi, Robert Lewandowski mungkin bisa tersenyum layaknya Karl-Heinz Riedl, yang usai jadi pahlawan di final 1997 langsung pindah klub.

    Bagi Jerman sendiri, ini adalah sebuah kebanggaan dan romantisme yang mungkin ada hubungannya dengan dendam. Bukankah tidak ada yang lebih menyenangkan melihat dua tim mereka berlaga di Wembley, yang jadi lambang kebesaran Inggris itu, seraya mengucapkan, "Selamat ulang tahun ke-150, FA!"

    Franz Beckenbauer kini mungkin bakal tersenyum, jika mengingat gol Geoff Hurst yang tidak melewati garis gawang itu.


    ===

    * Penulis adalah wartawan detiksport, biasa beredar di dunia maya dengan akun twitter: @rossifinza


    (roz/a2s)

    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game
    detik-insider