Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Detik Insider

    Menyoal Harapan dan Ekspektasi-Ekspektasi

    Rossi Finza Noor - detikSport
    Getty Images/Ulet Ifansati Getty Images/Ulet Ifansati
    Jakarta - Apa yang paling mengejutkan dari Piala Eropa 2004? Yunani keluar sebagai juara, tentu saja. Hellas tampil menjungkirbalikkan banyak prediksi dan banyak ekspektasi.

    Bahwa Yunani tidak buruk --malahan terbilang bagus-- di fase kualifikasi itu adalah fakta. Mereka cuma kalah di dua pertandingan awal, dari Spanyol dan Ukraina, tapi enam pertandingan berikutnya mereka sapu dengan kemenangan. Yunani pun lolos sebagai juara grup, di atas Spanyol. Toh demikian, mereka tetap tidak jadi unggulan di panggung utama.

    Prediksi dan ekspektasi kerap didasari oleh kebiasaan dan dilatari oleh sesuatu yang kasat mata. Jika tim Anda terlihat kuat, tim Anda pasti bakal lebih dijagokan ketimbang tim yang biasa-biasa saja. Dari luar, Yunani memang tidak sementereng Portugal, Prancis atau Jerman. Atau mungkin Italia dan Inggris. Mereka hanya ditempatkan di pot keempat pada undian, satu pot dengan Latvia, Swiss, dan Bulgaria.

    Tapi, sentuhan 'King' Otto Rehhagel mengubah segalanya. Mirip-mirip Raja Midas yang mengubah segalanya menjadi emas. Rehhagel, yang sebelum menangani Yunani menghabiskan seluruh kariernya di Bundesliga, membuat Yunani tampil disiplin. BBC menulis, Rehhagel membuat Yunani berada dalam level kebugaran yang luar biasa sehingga memungkinkan mereka untuk tampil ekstra-determinan, terutama dalam bertahan.

    Yunani akhirnya lolos dari fase grup dengan status runner-up, di bawah Portugal. Mereka membiarkan Spanyol dan Rusia, yang relatif lebih diunggulkan, angkat koper lebih cepat. Selepas dari fase grup itu, Yunani mengalahkan Prancis dan selanjutnya adalah sejarah.

    Yunani, yang mungkin Anda kenal sebagai negerinya dewa-dewa atau negeri tempat Santorini berada --sebuah surga kecil di tengah Laut Aegea--, sembilan tahun silam jadi juara Eropa. Pencapaian yang bahkan Inggris, yang mengaku sebagai induknya sepakbola, saja belum pernah mendapatkannya.

    Legenda Yunani mengingatkan orang-orang pada cerita Denmark di Piala Eropa 1992. Sky Sports menempatkan cerita Denmark mengalahkan Jerman di final dalam 'Top 10 Euro Upsets'. Tidak ada yang menyangka Jerman bakal kalah 0-2 di final atau Peter Schmeichel menggagalkan tendangan Marco van Basten dalam babak adu penalti di semifinal.

    "Tim kami cukup bagus, tapi sesungguhnya tidak luar biasa," ujar Schmeichel dalam sebuah dokumenter singkat tentang dirinya.

    Tapi, tim yang cuma cukup bagus itulah yang akhirnya keluar sebagai pemenang, dengan mengalahkan raksasa-raksasa seperti Jerman, Belanda ataupun Prancis.

    ****

    Seberapa besar ekspektasi para pendukung Chelsea begitu Jose Mourinho balik melatih? Mengingat Mourinho pernah dua musim berurutan mengantarkan The Blues menjuarai Premier League, ekspektasi setinggi mungkin jelas sah-sah saja. Belum lagi Mourinho berjanji memberikan hasil akhir yang memuaskan.

    Lagipula aneh rasanya jika Mourinho dipanggil kembali, tetapi Roman Abramovich terima-terima saja jika Chelsea cuma finis sebagai runner-up. Dan lagipula kita semua tahu seperti apa Abramovich pada manajer yang gagal. Masa dia mau begitu juga pada Mourinho? Ekspektasi pada Mourinho, tentunya --atau bisa jadi--, lebih besar dari yang ditaruhnya di pundak Roberto Di Matteo.

    Maka, jangan heran jika Chelsea jadi yang paling dijagokan menjuarai Premier League musim ini. Terlebih, Mourinho dilimpahi skuat yang tidak bisa dibilang biasa-biasa saja. Kecuali Anda sedang mabuk, rasanya sulit menyebut Juan Mata, Eden Hazard, Oscar, ataupun Ramires sebagai pemain yang standar-standar saja.

    Dengan bintang-bintang yang ada plus kedalaman skuat yang terjaga, logika sederhananya Mourinho bisa dengan mudah menyusun tim seperti apapun yang dia mau. Mengarungi tiga kompetisi sekaligus pun seharusnya tidak sulit. Di belakang nama-nama yang disebut di atas masih ada Victor Moses, Marco van Ginkel, Kevin de Bruyne, ataupun Andre Schuerrle. Mourinho tinggal pilih sesuai skema yang dia mau.

    Catatan lainnya, Mourinho juga punya persentasi kemenangan yang bagus selama menangani Chelsea, yakni 67%. Dari 185 pertandingan, dia memberikan 124 kemenangan untuk Chelsea. Dari delapan manajer berikutnya yang menangani Chelsea setelah dirinya, hanya Guus Hiddink (73%) dan Rafa Benitez (88%) yang persentase kemenangannya lebih tinggi. Tapi, persentase tinggi dari Hiddink dan Benitez bisa dipahami. Sebagai caretaker, keduanya tidak menjalani pertandingan sebanyak Mourinho. Hiddink hanya 22 pertandingan, sementara Benitez 48.

    Ekspektasi jugalah yang membuat beberapa jurnalis Inggris tidak berani memprediksi Manchester United-nya David Moyes bakal keluar sebagai juara. Paling banter pun hanya posisi tiga. Di antara Chelsea dan United masih ada Manchester City.

    Moyes boleh mengatakan bahwa skuatnya cukup bagus untuk bersaing. Apalagi itu adalah skuat yang sama ketika mereka keluar sebagai juara musim kemarin dengan selisih belasan angka atas City. Argumen lainnya, dengan skuat yang demikian saja United bisa bertahan di posisi satu sejak November 2012 dan tidak pernah tergeser sampai akhirnya jadi juara.

    Rupanya argumen-argumen itu tidak cukup kuat untuk mendongkrak harapan buat 'Setan Merah'. Gagal didapatkannya sejumlah pemain incaran turut menjadi pengaruh. Orang-orang ingat, musim lalu City gagal mempertahankan gelar juara setelah gagal mememperkuat tim secara signifikan. Maka, musim belum dimulai pun para penggemar sudah bersikap memaklumi kalau Moyes tidak langsung mendapatkan trofi. Toh, dia punya kontrak enam tahun dan memang diproyeksikan untuk sukses jangka panjang --yang mana, tentu saja, melalui proses.

    Tapi, benarkah jika United finis di posisi tiga adalah hal yang baik-baik saja? Bukankah dalam beberapa musim terakhir posisi finis terjelek mereka adalah posisi dua? Atau layakkah Moyes dan Ed Woodward --selaku orang yang bertugas menangani negosiasi transfer-- dikritik lantaran tidak bisa memperkuat tim secara signifikan? Ini tentunya jadi pertanyaan untuk para penggemar United di luar sana. Rupanya lagi, pergantian satu orang manajer saja bisa berimbas sedemikian rupa.

    Bagaimana pula dengan City yang ambisinya tidak kunjung habis itu. Gagal satu musim saja mereka langsung memborong sekelompok pemain seperti Stevan Jovetic, Alvaro Negredo, Jesus Navas, hingga Fernandinho. Masalah di lini tengah, di mana mereka kelewat mengandalkan Yaya Toure sebagai jangkar, disebut sudah mendapatkan jawaban dengan adanya Fernandinho. Apakah Sheikh Mansour beserta jajaran petinggi lainnya masih puas jika akhirnya The Citizens hanya finis di bawah Chelsea, United, atau mungkin klub lain yang belum disebutkan?

    Ada ekspektasi, ada harapan, ada pula beban. Bukankah orang-orang mengatakan, jika tidak ingin sakit maka jangan berharap terlalu tinggi? Kalaupun hasil akhirnya di luar yang diharapkan atau diekspektasikan, maka itu jadi sesuatu yang luar biasa. Cerita dari Yunani dan Denmark, setidaknya, menunjukkan demikian.

    Anda boleh-boleh saja menjagokan siapapun tim Anda untuk menjadi juara. Toh, selama belum 0%, segala sesuatu masih bisa disebut peluang, kemungkinan, atau kans meskipun kecil. Silakan-silakan saja berekspektasi atau berharap --dengan segala konsekuensinya.

    ====

    *Penulis adalah wartawan detikSport. Bisa beredar di dunia maya dengan akun Twitter @Rossifinza

    (roz/cas)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game