Menaruh 'M' di Manchester United
Mencari apa yang salah dengan Manchester United musim ini rasanya seperti menunjuk bintang di langit. Ada banyak. Sampai mungkin Anda akan kebingungan sendiri menghitungnya.
Mau mulai dari mana? Juan Mata? Ah, yang satu ini tidak ada hubungannya dengan buruknya United musim ini. Tapi, okelah.. Toh, Mata juga punya kaitan dan tercebur dalam cerita ini.
****
"Kapan kau sampai sini? Kapan? Naik helikopter atau sepeda?" demikian bunyi pesan singkat yang dikirimkan David De Gea. Mata sendiri yang menceritakan ini dengan setengah tawa seraya menyebut kiper asal Spanyol itu adalah kawan baiknya.
De Gea mungkin sama tidak sabarnya dengan para pendukung United lainnya, dan mungkin sama tidak percayanya. Berbulan-bulan sebelumnya, De Gea sempat menaruh harap pada Thiago Alcantara, sampai-sampai dia menulis akan menunggu Thiago di Manchester pada bola yang diberikan pada pemain terbaik Piala Eropa U-21 2013 tersebut.
Tapi, Thiago tidak pernah sampai.
De Gea mungkin khawatir hal serupa akan terjadi pada pengharapannya akan Mata. Namun, kekhawatiran itu sepertinya sirna begitu Mata tiba di Carrington sekitar dua pekan lalu. "Aku datang naik helikopter, kawan," mungkin demikian jawab Mata begitu bertemu.
Hari itu Mata hadir dengan jas berwarna abu-abu, kemeja putih di dalamnya, dan kantong berbentuk kotak di bagian depan jasnya. Wajahnya penuh senyum. Entah puas, entah lega. David Moyes juga tersenyum, entah puas, entah bangga --atau mungkin setengah tidak percaya. Mata adalah rekrutan terbesarnya dan memecahkan rekor transfer klub pula.
Di mata para pendukung United, Mata adalah tangkapan besar. Beberapa boleh mencubit-cubit pipi sendiri. United yang dari dulu terkenal pelit dan pikir-pikir kalau mau membeli pemain bintang, kini mendatangkan dua bintang dari klub rival dalam dua musim berurutan. Ini Manchester United atau Galactico United?
Moyes sendiri dalam kata sambutannya di matchday programme laga melawan Cardiff City terang-terangan menyebut: "Saya akan mendatangkan pemain-pemain terbaik."
Pria asal Skotlandia itu rupanya tidak sabar melihat performa skuatnya yang cenderung medioker musim ini. Jadilah, rumor berkembang mengenai siapa-siapa saja yang diincarnya. Tidak ada yang percaya ketika Moyes menyaksikan laga Cagliari vs Juventus, di Sardinia, dengan pelatih tim utama di sebelahnya, mengatakan bahwa dia hanya pergi berlibur.
Sama seperti Robin van Persie musim kemarin, Mata bukanlah jawaban. Ketika Sir Alex Ferguson mendatangkan Van Persie, dia disebut hanya memperbagus tampak luar mobilnya, tapi lupa membetulkan mesinnya. United memang kemudian jadi juara, tapi ada beberapa faktor yang patut dicermati: Manchester City, rival terdekat mereka, gagal meningkatkan skuat dan ini membuat Roberto Mancini uring-uringan sepanjang musim. Lalu, jelas jika United keteteran menghadapi Chelsea dan City yang punya lini tengah lebih mewah bin modern.
Mata dan Van Persie hanya menaruh sebuah 'M' di United, sebuah 'Mood'.
****
Yang namanya 'Mood' ini tidak bisa dibantah. Saya iseng mengunjungi Old Trafford pada siang hari pekan lalu, sekitar enam atau tujuh jam sebelum laga melawan Cardiff dihelat. Dari Liverpool, tempat saya menetap selama beberapa hari ketika itu, pun relatif tidak jauh. Dengan kereta yang saya naiki dari Liverpool Lime Street Station, Liverpool-Manchester bisa ditempuh dengan waktu setengah jam.
Ketika kereta hendak memasuki Manchester Oxford Road Station, Old Trafford yang tinggi-besar itu sudah terlihat. Rel kereta tempat kereta saya melintas itu memang terletak tepat di belakang South Stand, yang bagian dalamnya jadi museum mini untuk peringatan tragedi Munich tahun 1958.
Saya yakin itu adalah saat yang tepat untuk mengunjungi Old Trafford, sebab baru beberapa hari sebelumnya ada pemain termahal sepanjang sejarah klub mereka bergabung. Benar saja, kendati stadion masih relatif sepi, baru sekitar seratusan suporter yang datang, para penjaja syal sudah getol menawarkan dagangan yang, tentu saja, berbau Juan Mata.
Salah satu syal itu menuliskan Mata sebagai "The Chosen Juan" --bentuk plesetan dari julukan untuk David Moyes, "The Chosen One". Sudah barang tentu, syal-syal itu laku dibeli. Tidak hanya oleh suporter lokal, tetapi juga para pendatang dari Asia, yang entah datang untuk menonton pertandingan atau sekadar tur keliling stadion.
Pokoknya hari itu hanya ada Mata, Mata, dan Mata. Jersey bernomor 8 dengan namanya --lengkap dengan patch Premier League segala-- dijual dengan harga relatif mahal di megastore Old Trafford, yakni 80 poundsterling (sekitar Rp 1,5 juta). Tapi tetap saja ada yang tanpa ragu masuk ke dalam megastore, mendatangi jersey itu, mengambilnya, dan tanpa tedeng aling-aling melangkah ke kasir.
Malamnya, Mata melakoni debut. Satu hal yang bisa ditarik dari debut gelandang berusia 25 tahun itu, dia terlibat dalam proses kedua gol United ke gawang Cardiff. Yang pertama dia mengawalinya dengan sebuah long-pass ke sisi kiri, sementara yang kedua dia memberikan operan (lagi-lagi ke sisi kiri) untuk diterima Ashley Young.
Daniel Taylor dari Guardian menyebut, Mata sebenarnya tampil relatif biasa-biasa saja. Dia bahkan belum tampak mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Yang paling kentara adalah bagaimana dia beberapa kali salah memberikan operan. Namun, Taylor menyebut bahwa publik Old Trafford seperti tidak peduli akan hal ini. Mata seolah-olah telah memberikan mereka harapan.
****
Pokok permasalahan United baru benar-benar terekspos ketika menghadapi Stoke City akhir pekan kemarin. Mata, Van Persie, Wayne Rooney, dan Adnan Januzaj boleh jadi membuat lini depan mereka terlihat menjanjikan. Tetapi tidak demikian halnya dengan lini belakang dan lini tengah mereka. Tampak menjanjikan di depan, tapi United masih kerap buruk dalam bertahan.
Kehilangan Jonny Evans dan Phil Jones --dua orang yang mulai dianggap sebagai duet bek tengah terbaik mereka saat ini-- hanya memperparah keadaan. Tapi, Moyes seharusnya tidak kaget. United dalam beberapa musim belakangan kerap demikian: kerap bertahan terlalu dalam ketika seharusnya mem-pressing lawan atau bagaimana full-back mereka acapkali telat turun sehabis naik menyerang --terutama Patrice Evra. Bagaimana sistem pertahanan mereka bekerja bisa disebut cukup buruk.
Lupakanlah lini tengah. Mesin yang sudah bobrok ini gagal dibenahi Moyes dan Ed Woodward --vice president baru pengganti David Gill-- pada bursa transfer musim panas lalu. Moyes pun terlihat lebih memilih untuk bertahan dengan skuat yang ada saat ini dengan harapan betul-betul akan merombaknya pada musim panas mendatang.
Moyes sendiri tidak membantu dengan taktik yang pas ketika menghadapi Stoke. Tampaknya dia menyadari bahwa Stoke bakal menumpuk empat hingga lima pemain untuk bertarung dengan pemainnya di lini tengah. Oleh karenanya, dia memilih untuk memainkan pola serangan dari sayap. Ini boleh jadi masuk akal, tapi menempatkan Mata sebagai sayap kanan adalah sebuah hal yang kelewatan.
Ketika Jones keluar karena cedera, Moyes pun memilih untuk memasukkan Danny Welbeck dan menaruh Rooney sebagai gelandang tengah. Rooney boleh jadi punya positioning dan visi bagus, tapi dia bukanlah seorang pivot natural. Jangan meminta dia melakukan tugas sebagai gelandang tengah. Jangan harap dia bisa menahan bocornya lubang di lini tengah. Welbeck pada akhirnya tidak terlihat, beberapa kali sentuhan pertamanya terhadap bola buruk dan membuat lawan mudah merebutnya.
Stoke-on-Trent yang selalu berangin itu pun benar-benar memberikan hawa segar untuk tuan rumah. United menelan kekalahan kedelapan dan Moyes dibuat frustrasi. Terlalu banyak hal yang salah untuk United hari itu.
Kalaupun para pendukung United masih mencari harapan, tengoklah fakta berikut: Mata selalu terlibat dalam proses terciptanya tiga gol terakhir United, Van Persie pun sudah langsung bikin dua gol pada dua laga sejak comeback dari cedera. Mata juga terbukti oke. Ketika United tertinggal 0-1 dari Stoke, dia adalah pemain terbaik mereka; melepaskan 28 passing (26 di antaranya akurat) dan rajin melakukan tekel (dua dari tiga sukses).
United kini juga punya tiga pemain yang menempati enam besar daftar pencetak assist tebanyak di Premier League sejak 2011/12 (Mata, Rooney, Van Persie). Tapi, apa gunanya punya mobil yang terlihat bagus, namun mesinnya kerap mogok di tengah jalan?
Mungkin Moyes kini sedang membatin, membenahi tim ini tidak cukup dengan memperbaiki 'Mood'.
====
*penulis adalah wartawan detikSport, pemilik akun Twitter @Rossifinza
*judul disadur dari dokumenter milik Morrissey: "Who put the M in Manchester?"











