Orang-orang Keras Kepala di Pinggir Lapangan Bola
Bagi sebagian orang, sepakbola lebih dari urusan menang atau kalah. Bagi sebagian orang, sepakbola adalah pelampiasan ego yang sudah kadung berkarat di dalam benak.
Hari itu, pria tua dengan bentuk tubuh yang agak gemuk itu berjalan ke sisi lapangan sembari memperhatikan anak-anak asuhnya bertanding. Dengan agak gusar, dia merapat ke garis tepi lalu meneriakkan sebuah instruksi. Agak-agaknya, si pria tua ini kesal karena satu hal. Bisa jadi pergerakan anak-anak asuhnya kacau atau operan mereka sedang mandek.
Dengan gusar juga, dia berjalan meninggalkan tepi lapangan. Kali ini pandangannya tertuju pada boks pendingin minuman berwarna biru. Dari hari ke hari, dia biasa duduk di atas boks itu --bukan di bench-nya-- sembari mengamati permainan anak-anak asuhnya. Barangkali karena kebiasaan itu juga, pemenang dari pilihan itu jelas: boks atau bench? Tentu saja boks biru itu.
Si pria tua segera saja mendudukkan badan gemuknya. Namun, lantaran tergesa-gesa atau bagaimana, ia tak melihat segelas kopi panas yang baru saja diletakkan asistennya di atas boks tersebut. Dengan sekejap, badan gemuknya itu melumat gelas plastik berisi kopi panas.
Panasnya kopi mengubah gusarnya menjadi geram. Dengan penuh sebal, ditendangnya keras-keras gelas plastik yang nyaris gepeng itu. Lalu, si pria tua menoleh ke arah bench. Sorot mata dari balik lensa kacamatanya seolah-olah berkata:
"Orang bodoh mana yang menaruh kopi panas di situ!?"
****
Silakan terkekeh melihat kejadian tersebut. Tapi, andai Anda dilatih oleh si pria tua itu, terkekeh bisa jadi adalah hal terakhir yang terpikirkan. Pria tua itu, Marcelo Bielsa, adalah salah satu pelatih dengan tempurung kepala paling keras yang pernah ada.
Bielsa dijuluki 'El Loco' --alias 'Si Gila'-- bukan tanpa alasan. Mantan anak asuhnya di Athletic Bilbao, Javi Martinez, juga menyebutnya insane alias sinting. Martinez sudah pernah merasakan betapa keras dan melelahkannya latihan Bielsa, yang membuatnya harus berlari penuh nyaris sepanjang sesi latihan.
Sesi latihan penuh peluh semisal itu adalah sebuah keharusan bagi Bielsa. Tanpa ada sesi latihan yang menguras stamina, tak akan ada gaya main penuh pressing yang biasa ia peragakan untuk tim-timnya. Gaya main itulah yang menjadi ciri khas Bielsa.
Jika diibaratkan, tim besutan Bielsa bergerak seperti sebuah sapu yang menyeka seluruh lantai. Tiap-tiap pemainnya bergerak selaras; mereka memburas seluruh lapangan. Jangan ditanya bagaimana lelahnya menghadapi tim seperti itu. Jika tim kesayangan Anda tidak cukup cepat atau cermat, dan sedang apes ketika menghadapi tim Bielsa, siap-siap sajalah pertahanannya dibombardir dari segala arah.
Bielsa tidak mengenal gaya main yang lain. Baginya, bermain bola, ya, seperti itu: menyerang, menekan, dan menyerang lagi. Ia tidak peduli apakah timnya sedang berada dalam kondisi menguntungkan atau tidak.
Ambil contoh ketika dirinya menangani Chile pada Piala Dunia 2010. Pada perhelatan empat tahunan tersebut, permainan menyerang yang diterapkannya telah menghasilkan dua kemenangan di fase grup, yakni atas Honduras dan Swiss. Tibalah Alexis Sanchez dkk. pada laga terakhir menghadapi Spanyol.
Bielsa, yang biasa memakai 3-4-3 atau 3-3-1-3 di Chile, memerintahkan anak-anak asuhnya terus bermain ngotot. Padahal, Chile sudah kehilangan satu pemain akibat Marco Estrada mendapatkan kartu merah di menit ke-37. Spanyol pun dengan mudah unggul 2-0 --satu gol tercipta sebelum Estrada mendapatkan kartu merah, sementara satu gol lainnya lahir setelah kartu merah itu.
Ia bisa saja meminta anak-anak asuhnya bermain lebih sabar untuk setidaknya mengamankan satu poin. Tapi, tidak ada opsi semacam itu di dalam kamusnya. Chile tetap bermain menyerang. Situs FIFA melansir, Chile mencatatkan attempts yang sama dengan Spanyol, yakni 9. Malah, Chile unggul dalam urusan attempts on target. Sementara Spanyol hanya menorehkan 3 attempts on target, Chile membuat 4 attempts on target.
Chile akhirnya memang kalah 1-2. Tapi, laga tersebut bisa menjadi penggambaran akan sakleknya Bielsa untuk urusan gaya main.
Inilah yang kemudian membuatnya menjadi sosok cult di belantara sepakbola modern. Bielsa adalah antitesis dari kebanyakan pelatih pragmatis yang lebih mementingkan trofi, tapi mengesampingkan gaya main. Bielsa adalah anti-Mourinho dalam urusan pragmatisme dan anti-Allegri dalam urusan adaptasi permainan.
Andai Bielsa bergelimang trofi saat ini, maka trofi-trofi itu pastilah sudah ditukar dengan segunung rasa respek. Ya, sekalipun Bielsa belum pernah mendapatkan trofi, hal tersebut tidak menghalangi pelatih sekaliber Pep Guardiola untuk mengaguminya.
****
Entah orang gila mana yang sanggup menepikan Fernando Redondo.
Dalam hari terbaiknya, tidak ada satu orang pun yang bisa menghentikan Redondo. Ia bagus dalam bertahan dan membantu serangan. Operan yang diberikannya begitu indah, permainan yang ia kreasikan lewat visinya begitu menawan. Redondo tidak cepat, tidak pula agresif. Tapi, nyaris tak ada gelandang seelegan sekaligus sekomplet dia di generasinya --setidaknya di timnas Argentina.
Bahkan ketika usianya mulai senja, dan mulai sering dibekap cedera, AC Milan masih mau menampungnya. Kita kemudian tahu, karier Redondo di Milan singkat. Tapi, bahkan waktu yang singkat itu, Redondo masih bisa menunjukkan keeleganannya di luar lapangan; ia menolak digaji lantaran terus-terusan dibekap cedera.
Tapi, di mata Daniel Passarella, Redondo adalah kenihilan. Bukan siapa-siapa.
Redondo yang serba dikagumi itu mendapatkan penilaian negatif di mata Passarella. El Gran Capitan, demikian Passarella biasa dijuluki, dikenal sebagai sosok yang tangguh sekaligus keras. Seolah-olah, Passarella tidak menyisakan ruang untuk sentimentalitas di kepala dan hatinya. Passarella adalah laki-laki tulen dengan kebencian terhadap rambut gondrong, homoseksual, dan anting di telinga yang membabi-buta.
Dan di situlah Redondo jatuh di mata Passarrella. Untuk alasan yang tidak ada hubungannya dengan taktikal atau permainan, keduanya berseteru. Ya, Redondo yang berambut gondrong itu menolak untuk memotong rambutnya. Padahal Passarrella sudah mensyaratkan, siapa pun yang bergabung dengan tim nasional Argentina harus berambut pendek dan tidak mengenakan anting.
Passarella memang kemudian melunak, karena buktinya Gabriel Batistuta saja bisa masuk tim dengan rambut (agak) gondrong. Namun, hubungannya dengan Redondo sudah kepalang rusak.
Dua kali Redondo menolak panggilan memperkuat timnas Argentina. Baginya, sikap otoriter Passarella tidak masuk akal. "Saya sedang bagus-bagusnya. Tapi, dia punya ide tersendiri soal kedisiplinan dan ingin agar saya memotong rambut. Saya tidak melihat itu ada hubungannya dengan permainan, jadi saya menolaknya," kata Redondo.
Ya, orang gila yang berani menepikan Redondo itu bernama Daniel Passarella.
Passarella memang bukan orang sembarangan di Argentina. Sepanjang kariernya di River Plate dan timnas Argentina, dia adalah pemain yang dihormati. Sebagai bek, dia punya insting yang sama bagusnya untuk membantu serangan. Ia kerap disama-samakan dengan Franz Beckenbauer karena kepiawaiannya bermain bola dan kepemimpinannya di atas lapangan.
Passarella boleh jadi sukses bersama River sebagai pelatih, tetapi tidak di timnas Argentina. Alih-alih berbaikan dengan Redondo, Passarella memilih untuk bersikukuh. Jadilah Argentina tampil tanpa Redondo di Piala Dunia 1998.
Lalu, kita berandai-andai. Jika saja Redondo berada di dalam skuat dan bermain pada hari itu --hari di mana Dennis Bergkamp mencetak gol indah ke gawang Carlos Roa--, bisa jadi hasilnya akan berbeda. Jangan-jangan yang lolos ke semifinal adalah Argentina, bukannya Belanda.
****
Kita semua mengenal Zdenek Zeman. Kita semua mengenal Zemanlandia.
Kita juga tahu bahwa Zeman adalah fanatik sepakbola menyerang. Dia biasa menerapkan pola 4-3-3 dengan strategi ofensif sepanjang waktu. Nyaris sama seperti Marcelo Bielsa, ide Zeman soal sepakbola adalah tentang menyerang, menyerang, dan menyerang. Gaya main bikinannya itulah yang kemudian dikenal sebagai Zemanlandia.
Zemanlandia menemani perjalanan Zeman dari mulai menciptakan keajaiban bersama Foggia, melatih tim-tim yang lebih besar seperti Lazio dan AS Roma, sampai kembali menangani tim-tim seperti Pescara dan Cagliari dalam beberapa tahun belakangan ini.
Zeman seolah-olah adalah penemu dari formula yang sebenarnya cukup sederhana. Untuk memenangi permainan sepakbola, sebuah tim hanya butuh mencetak gol lebih banyak dari lawan. Oleh karenanya, Zeman pun hanya tertarik untuk mencetak gol lebih banyak dari lawannya.
"Kapan pun kami menyerang, ketiga penyerang harus ada di area penalti. Sedangkan dua dari tiga midfielder juga maju. Dengan cara itu, lawan tertekan di belakang. Kemudian Anda mengirim bola ke dalam kotak penalti, dan karena Anda punya lebih banyak pemain, Anda punya kesempatan lebih banyak untuk mencetak gol. Ini bukan ilmu pengetahuan yang luar biasa. Ini adalah matematika sederhana," demikian Zeman.
Dengan ide yang tampaknya sederhana itu, tim-tim Zeman seharusnya tidak perlu khawatir ketika kebobolan empat gol. Sebab, mereka tinggal mencetak lima gol saja.
Tentu, banyak yang menilai bahwa ide ini amat absurd, sebab sepakbola kadang tidak sesederhana itu. Namun, Zeman tidak peduli.
Sama seperti ketika Anda terheran-heran melihat tim arahan Zeman menempatkan delapan pemain di garis tepi lapangan saat kick-off. Boleh jadi, mereka yang cukup waras akan bertanya-tanya, untuk apa menempatkan pemain sebanyak itu di garis tengah saat kick-off?
Sekali lagi, Zeman tidak peduli.
****
Untuk berbagai alasan, entah itu taktikal atau non-taktikal, ego dan ke-keras-kepala-an agaknya memang layak untuk dijaga. Untuk Bielsa, Passarella, ataupun Zeman, ego dan ke-keras-kepala-an juga menyangkut urusan identitas, menyangkut jati diri mereka yang sesungguhnya.
Bahkan untuk David Moyes sekali pun, ego adalah sesuatu yang penting. Moyes tidak ragu-ragu mengutarakan bahwa dia amat berselera melihat permainan dengan umpan-umpan panjang dan kombinasi satu-dua di sisi sayap. Dia tidak menampik bahwa salah satu gol Manchester United ke gawang Newcastle United di St James' Park pada musim 2013/2014 adalah salah satu favoritnya.
Bahkan, ketika pindah ke Real Sociedad, Moyes tetap setia pada filosofi yang dianutnya itu. Dia mengungkapkan, banyak pemain Spanyol mengaku padanya bahwa mereka tidak berkeberatan memainkan umpan-umpan panjang.
Jika membuahkan kesuksesan, tentu tidak ada masalah sama sekali dengan ego dan ke-keras-kepala-an semacam itu. Lain halnya jika tidak membuahkan hasil. Tanya saja bagaimana pada pendukung United amat frustrasi ketika tim mereka ditangani oleh Moyes. Tanya saja kepada pendukung Olympique Marseille ketika Bielsa enggan memakai pemain yang benar-benar bukan keinginannya --padahal, tim sedang amat butuh untuk dirotasi.
Di tengah benturan ego dan pertaruhannya akan kesuksesan itu, muncullah Maurizio Sarri.
Nama Sarri relatif asing, bahkan sampai ketika dia ditunjuk menangani Napoli baru-baru ini. Sarri baru mulai dikenal ketika menangani Empoli pada musim 2014/2015. Prestasi Empoli memang tidak luar biasa, tapi apa yang ditawarkan Sarri dari sisi filosofilah yang menarik perhatian Napoli.
Tidak lama setelah ditunjuk menangani Napoli, Sarri dengan tegas berkata: "Saya tidak akan berubah hanya demi Napoli."
Dalam sebuah artikel yang pernah dirilis Italian Football Daily, Sarri diceritakan pernah bekerja sebagai karyawan sebuah bank. Namun, dia menganggap hari-harinya monoton sehingga akhirnya dia memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya itu. Sarri pun beralih menjadi pelatih sepakbola dan biasa menghabiskan 13 jam sehari untuk menganalisis lawan.
Ketekunannya itulah yang menghadirkan beberapa hasil mengejutkan di Serie A musim kemarin. Sebagai tim yang diprediksi hanya ingin bertahan di Serie A, Empoli sejatinya bermain aman dan berusaha untuk sekadar tidak kalah. Tapi, Empoli-nya Sarri berbeda. Situs statistik WhoScored mencatat, secara rata-rata Empoli memenangi 54% penguasaan bola dan melepaskan 13,3 shot per laga.
Ya, sama seperti Bielsa ataupun Zeman, Sarri tidak peduli siapa lawan yang dihadapi. Baginya hanya ada satu gaya main, yakni menyerang, dan dia tidak akan mengubahnya hanya untuk memuaskan hasrat Napoli. Jika Napoli ingin sukses, maka sukses itu harus melalui caranya.
Ketika Empoli dikalahkan Juventus 0-2 musim lalu, Sarri masih sempat-sempatnya bertepuk bangga. "Kami sudah bekerja bersama selama tiga tahun. Kami punya identitas kami sendiri. Meskipun kami terdampar di dasar klasemen, kami harus bermain dengan gaya sendiri," kata Sarri.
Dengan segala hal yang dimilikinya itu, tidak heran jika AC Milan juga sempat membidiknya untuk menggantikan Filippo Inzaghi. Sarri punya segala kesombongan dan tidak minder untuk menangani tim besar. Identitas tersebut selalu dijaganya sejak ia masih menangani tim kecil seperti Faellaese. Bedanya --mungkin--, seiring bertambahnya umur, dia menjadi lebih sabar.
"Saat ini saya sedang jadi perhatian orang, mereka akan datang ke tempat latihan kami di Empoli dan mencatat metode kami. Mungkin saja nantinya saya tak lagi jadi perhatian, tapi sudah pasti cara kerja saya takkan berubah. Saya cuma berharap itu juga bisa diterapkan di Napoli."
"Saya masih merokok sama seperti sebelumnya dan akan ke lapangan dengan mengenakan tracksuit. Dalam aspek tersebut saya tidak berubah sejak saya melatih di Faella. Mungkin saya lebih sabar daripada sebelumnya, tapi itu karena umur. Saya tidak 'menang' karena sudah menjadi pelatih Napoli. Saya menang di hari saya menyadari bisa menjadi pelatih untuk mencari nafkah," bebernya.
Bersyukurlah Napoli, jika akhirnya ego dan ke-keras-kepala-an Sarri akhirnya membuahkan sukses untuk mereka. Bersyukur jugalah sepakbola bahwa keberhasilan tidak melulu didominasi oleh mereka yang pragmatis.
====
*penulis adalah wartawan detikSport, beredar di dunia maya dengan akun @Rossifinza












