Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Detik Insider

    Pesta Lain Andrea Pirlo

    Andi Abdullah Sururi - detikSport
    AFP/Vincenzo Pinto AFP/Vincenzo Pinto
    Jakarta -

    "Aku tidak datang ke sini untuk pensiun. Aku ke sini karena ingin main dan ingin menang," ucap Andrea Pirlo tentang "pesta" lain yang akan ia lakukan di tempat barunya di Amerika Serikat.

    Pirlo, Thierry Henry, Steven Gerrard, Frank Lampard. Sulit untuk melepaskan imej bahwa ketika disebutkan nama-nama pemain top dunia bermain di Major League Soccer (MLS), maka yang terlintas cepat adalah pemain-pemain itu sedang mempersiapkan masa tuanya.

    Laki-laki paling cool di lapangan bola ini akhirnya memutuskan melanjutkan kariernya --entah tersisa berapa musim lagi-- di kota tersibuk di dunia, New York City, kota yang katanya begitu dia sukai sejak lama. Dia akan bermain di sebuah kompetisi yang ber-salary cap, dibayar kurang dari 3 juta dolar per musim, di lapangan rumput sintesis, dan ... akhirnya akan bisa berbahasa Inggris.

    Apakah yang Anda harapkan dari seorang pemain berusia 36 tahun, yang habitatnya adalah di lini tengah, yang notabene mesti naik turun ke depan dan belakang. Kalau Anda berharap speed, maka Anda tidak akan mendapatkannya. Lagipula, sejak kapan Pirlo mengandalkan kecepatan berlarinya. Kalau Anda berharap power, Anda pun tidak akan mendapatkannya.

    Pirlo bukan Robert Pires, Gennaro Gattuso, apalagi Dirk Kuyt. Dia juga bukan Dimitar Berbatov, yang walaupun juga terlihat "malas" tapi orang lebih ingin menyebutnya "efektif dan efisien". Pemakluman yang luar biasa untuk seseorang yang begitu dihormati atas kejeniusannya sebagai seorang arsitek, metronom, dirijen orkestra, dan julukan-julukan hebat lain yang diberikan orang kepada dia, termasuk betapa identiknya posisi "deep-lying playmaker" dengan Pirlo.



    Bagaimana dia nanti akan berbagi reputasi dengan Lampard dan David Villa untuk tim mereka, New York City FC. Dan jika kembali melihat usianya yang sudah uzur itu, apakah yang akan diberikan Pirlo buat publik Amerika. Anda boleh tidak pesimistis dulu. Musim lalu Pirlo bermain 33 kali bersama Juventus, menghabiskan 2.661 menit di lapangan. Artinya, rata-rata dia masih bermain 80,63 menit per pertandingan.

    Ibarat anggur, makin tua usianya, makin berkelas rasanya. Kebetulan, Pirlo memang pula seorang pengusaha anggur (wine). Sejak 2007 dia membuka usahanya itu di sebuah daerah pinggiran di Brescia, di desa kelahiran ayahnya. Maka, semanis apa anggur permainan Pirlo di Amerika nanti, simpanlah dulu pertanyaan itu, seperti "misteri" apa yang membuatnya melakukan transformasi 180 derajat: dari pria gondrong berwajah klimis, menjadi brewokan tak henti sejak memperkuat La Vecchia Signora.

    Tapi si brewok yang satu ini tidak urakan seperti Manusia Gua (Cave-man), atau brutal seperti Chuck Norris. Dia adalah ikon pria brewokan terkeren di jagat sepakbola. Dia lelaki penuh bulu yang terbaca sangat cerdas lewat buku otobiografinya yang berjudul "I Think, Therefore I Play" -- yang memplesetkan salah satu "celetukan" filsafat paling terkenal sepanjang sejarah dari ilmuwan bernama Rene Descartes: Cogito ergo sum.



    Hari Rabu (22/7) kemarin Pirlo untuk pertama kalinya mengikuti sesi latihan bersama New York City FC. Tentu dia perlu waktu untuk mengembalikan kebugarannya sebelum siap melakoni debutnya di Negeri Paman Sam. Tapi buat klubnya, "pesta" sudah tergelar. Mereka sudah membuatkan slogan baru untuk meng-update slogan yang pernah dibuat sendiri oleh Pirlo, ketika dia sangat kecewa tatkala Italia tersingkir cepat di Piala Dunia 2014. Tahu-tahu dia terlihat memakai baju bertuliskan "No Pirlo No Party". Slogan itu langsung menjadi tren. Baju-baju bertuliskan demikian dijual di mana-mana, dari Amazon sampai eBay.

    Tapi slogan itu sudah berganti: Yes Pirlo, Yes Party. Pesta sudah dimulai. Pakai kaus Pirlo Anda sekarang! Demikian dipromosikan New York FC untuk bintang spesialnya ini.

     



    New York memang harus meramaikan kehadiran Pirlo -- "sesunyi" apapun wajah laki-laki ini, sampai-sampai Juventus membuatkannya video khusus tentang betapa sulitnya memunculkan impresi tertentu pada Pirlo.



    Wanita-wanita New York pun sudah dipanggil untuk diperkenalkan dengan Pirlo. Ah, ternyata lebih banyak wanita lebih suka melihat wajah Pirlo yang "kotor" ketimbang waktu dia masih klimis.

    Goodluck, Andrea. Selamat menikmati kehidupan baru di Amerika.


    =====

    * Penulis adalah redaktur pelaksana detiksport. Akun twitter @sururi10
    ** Dari berbagai sumber.

    (a2s/krs)
    Load Komentar ...
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game