Rambut Putih Ranieri
Rambut Ranieri putih. Sudah lama rambut Ranieri putih, meski tidak dari muda juga. Saya sempat iseng melihat foto-foto Ranieri semasa muda, tidak, rambutnya tidak putih ketika itu. Ranieri muda punya rambut hitam legam, kendati kerut-kerut di dahinya sudah muncul sedari masa itu.
Dengan rambut putih dan dahi yang berkerut-kerut, bolehlah kita menebak bahwa Ranieri orang yang suka berpikir. Mungkin saja apa yang memenuhi benaknya itulah yang membuat rambutnya memutih. Mungkin juga, itu cuma masalah umur saja. Ranieri memang sudah tidak muda lagi, sudah 64 tahun.
Tapi, mengingat Ranieri kerap disebut 'The Tinkerman' atau orang yang suka berpikir rumit dengan mengutak-atik segala hal --maka muncullah julukan 'Si Tukang Patri' itu--, mari anggap saja rambut putih Ranieri adalah efek dari segala kerumitan di kepalanya.
Jelas, rambut Ranieri tidak akan kembali menjadi hitam --kecuali ia menyemirnya. Tapi, ketika kini ia menangani Leicester, bolehlah dibilang ia lebih santai dari sebelumnya. Tim yang ia besut pun bermain dengan tidak rumit. Nyaris tidak ada sisa-sisa kerumitan dari benak Ranieri ketika melihat Leicester bermain.
Anda yang sudah melihat Jamie Vardy dkk. bermain tentu paham: Leicester bermain dengan agresif, mereka suka berlari, tapi amat minim membangun serangan lewat operan-operan pendek. Statistik yang dilansir situs resmi Premier League pun menegaskan penglihatan kita semua, Leicester hanya menempati uruan ke-18 (dari 20 tim Premier League) dalam urusan akurasi operan-operan pendek.
Leicester bermain tanpa basa-basi, tanpa rumit-rumit. Lihatlah ketika menghadapi Chelsea akhir pekan lalu, mereka masih sering mengandalkan umpan panjang ke depan. Di lini depan, mereka sudah punya Vardy dan Riyad Mahrez, yang sudah siap untuk mengejar bola, ke mana pun bola jatuh. Toh, mereka punya modal. Mereka punya Mahrez yang mampu menggiring bola dari sisi sayap, juga punya Marc Albrighton yang bisa mengirim crossing akurat.
Di luar itu, Leicester juga masih punya N'Golo Kante. Permainan agresif tidak akan ada artinya tanpa gelandang penyeimbang yang mumpuni. N'Kante tidak hanya menjadi pengganti dari Esteban Cambiasso, melainkan juga upgrade dari gelandang asal Argentina itu. Tidak hanya mahir melakukan tekel, N'Kante juga bagus dalam memotong bola.
Semua ini dilengkapi dengan kegigihan Vardy dan Mahrez yang tidak segan-segan menekan bek lawan ketika mereka menguasai bola. Sudah sering Leicester mendapatkan peluang dengan memanfaatkan kekikukan lini belakang lawan.
Keraguan Stamford Bridge dan Kendala Bahasa
Datang sebagai pengganti Gianluca Viali pada 18 September 2000, Ranieri menyandang status sebagai manajer yang sukses menyumbangkan tiga trofi untuk Valencia. Jelas tidak jelek.
Namun demikian, 'Si Tukang Patri' pun tak langsung membuahkan hasil. Chelsea cuma finis di posisi enam klasemen, dengan raihan 61 poin --berjarak 19 poin dari Manchester United yang menjadi juara Liga Inggris musim itu.
Sempat stagnan di musim keduanya dengan mengantarkan Chelsea kembali menempati posisi enam klasemen akhir, Ranieri lalu membawa Chelsea bisa memperbaiki penampilan di dua musim berikutnya. Pada musim 2002/2003, Chelsea finis di posisi empat klasemen akhir. Sementara di musim 2003/2004, Ranieri bisa membawa Chelsea menempati posisi runner-up.
Tidak satu pun trofi dipersembahkan Ranieri selama menukangi Chelsea.
Manajer yang sudah berkiprah di tiga liga top Eropa, Liga Italia, Liga Spanyol, dan Liga Inggris, itu lantas mengungkapkan beberapa kendala saat melatih Chelsea. Salah satu masalahnya cukup klasik: Bahasa.
"Memang bikin frustrasi (kesulitan memberikan komando dengan bahasa Inggris). Terkadang manajer membutuhkan reaksi dengan mengatakan kalimat yang pas di saat yang tepat," kata Ranieri saat diwawancarai Guardian, 15 Desember 2002.
Lebih lanjut lagi, Ranieri juga menyebutkan bahwa perubahan skuat besar-besaran semasa kepelatihannya juga berperan serta dalam kurang maksimalnya penampilan Chelsea. Ranieri merasa, hasil baik baru didapat pada musim ketiga dan keempat, di mana dia sudah lebih mengenal para pemainnya.
Sial bagi Ranieri, seiring dengan performa baik Chelsea, taipan Rusia, Roman Abramovich, datang membeli klub asal London barat itu. Dia pun sadar bahwa dirinya akan menjadi orang pertama yang akan didepak.
Ranieri cuma setahun melatih Chelsea di bawah kepemilikan Abramovich, dan berhasil mengantarkan mereka finis di posisi dua klasemen. Selepas musim 2003/2004, Chelsea ditukangi oleh Jose Mourinho, yang baru saja membawa FC Porto menjuarai Liga Champions. Soal itu, Ranieri tak meratapinya.
Satu warisan yang ditinggalkan untuk Chelsea adalah perekrutan Frank Lampard, Joe Cole, Juan Sebastian Veron, Claudio Makelele. Chelsea saat itu juga sudah setuju untuk mendatangkan Petr Cech dan masih membidik Didier Drogba serta Arjen Robben. Para pemain-pemain itu yang pada prosesnya menjadi tulang punggung Chelsea untuk meraih kesuksesan.
Bonus 1,7 Juta Poundsterling Andai Juara
Ranieri tampaknya benar-benar mempersiapkan segalanya saat menangani Leicester musim ini. Tak cuma skuat, bonus dalam kontrak pun juga dia pikirkan betul-betul.
Seperti dilansir Daily Mail, Ranieri punya klausul "wah" dalam kontraknya. Ia diberi bonus 100 ribu poundsterling untuk tiap posisi yang dilangkahi Leicester di atas posisi 18. Itu berarti, Ranieri bisa meraup bonus sebesar 1,7 juta pounsterling andai Leicester berada di posisi pertama pada akhir musim.
Ranieri bahkan sempat bercanda. Ia mengatakan, seharusnya pemain-pemainnya juga diberikan klausul serupa dalam kontrak mereka.
"Saya tak tahu apakah klausul itu ada di kontrak (pemain) dan saya tak akan mengatakannya pada Anda. Gila kalau mereka tidak menyertakan klausul seperti itu. Saya saja sudah mempertimbangkan, seandainya kami menjuarai liga."
Kendati bergurau dengan mengatakan, ia sudah menduga bahwa Leicester bisa menjuarai Premier League, Ranieri tetap merendah. Meski Leicester kini memimpin klasemen, ia dan pemain-pemainnya belum mengubah target. Mereka cuma ingin lolos dari jerat degradasi dan bertahan di Premier League musim ini, bukan menjadi juara.
Kini, Leicester sudah mengoleksi 35 poin. Dalam hitung-hitungan Ranieri, timnya hanya butuh 5 poin lagi untuk berada dalam posisi aman dari kejaran degradasi.
Kalau melihat performa Leicester sekarang, Ranieri mungkin tidak perlu memusingkan dari mana 5 poin itu bisa ia dapat. Rambutnya memang sudah memutih, tapi kerut di dahinya bisa sedikit berkurang.
====
*penulis adalah wartawan detikSport, beredar di dunia maya dengan akun @LucasAdityA
[Baca Juga: Menyanyikan Leicester City dalam Nada Milik Rialto]












